19 Oktober 2009
[JBP] 3W: Pergerakan relawan Jawa Barat di Padang dsk per 19/10 Senin, 19 Oktober, 2009 03:40
operasi pengobatan bergerak di Pariaman dan sekitarnya bersama tim
dari ESQ Kota Padang. Operasi berjalan sejak hari Kamis (15/10)
direncanakan sampai hari Rabu (21/10) besok. Saat ini posisi tim di
Ds. Ambacang, Malalak, Agam. Sampai hari ini Tim sorti-2 sudah
melakukan layanan di 11 titik wilayah dengan jumlah total pasien yang
dilayani mencapai lebih dari 2.000 orang.
Kontak: Hilman Stikes: 856 5913 0658
2. Tim relawan dari FK KBPA-BR dan medis UNAI berkekuatan 19 personil
tersebar di tiga titik. Yang dilakukan rekan-rekan adalah pelayanan
kesehatan dan pendampingan terhadap warga korban gempa. Titik
pendampingan pertama berada di Korong Lareh Nan Panjang, Kanagarian
Tandikek, Kab. Padang Pariaman. Titik kedua berada di Korong Patamuan,
Nagari Padang Alai, kab. Padang Pariaman. Hari Rabu (21/10) rencananya
akan ada keberangkatan 5 orang dari Bandung untuk membuka satu lagi
posko pendampingan korban gempa, sementara titiknya masih di
konsolidasikan. Posko Transit masih berada di Universitas Negeri
Padang (UNP).
Kontak: Pelay 816 465 9230
3. Tim gabungan berkekuatan 8 personil masih menempati Posko Jabar di
Jl. Saharjo 17, Padang Pariaman, direncanakan sampai tanggal 30
Oktober. Kegiatan yang dilakukan selain updating data dan assessment
juga pendukungan terhadap tim medis dari Rumah Zakat Indonesia/ BAZIS
Jabar, pendorongan logistik yang masuk ke posko berasal dari berbagai
pihak, serta pendukungan terhadap layanan trauma healing yang
dilakukukan oleh tim Yayasan Kanaivasu, Bali.
Pada tanggal 18 Oktober, kegiatan yang dilakukan adalah
pendistribusian logistik bersama PJB/IOF ke ds. Durian Jantung,
Kecamatan III Koto Aur Malintang dan wilayah sekitarnya. Dan bersama
tim dari Sekar Telkom melakukan distribusi logistik ke wilayah Kp.
Baleko, Kec. Sungai Geringging dan sekitarnya.
Kontak: Ferry Wahyudi: 819 3135 5774
4. Tim ERU WATSAN-PMI yang berangkat dari Bandung dan sebagian
personilnya merupakan relawan Jawa Barat terpantau masih bertugas di
Padang Pariaman untuk pendistribusian air bersih ke daerah terdampak.
Kontak: Herry Soetrisno 813 2007 3908
5. Tim medis dari Universitas Advent Indonesia berkekuatan 6 orang dan
relawan FK KBPA-BR masih standby di Bandung untuk menggantikan
(rolling) tim yang berada di lapangan. Kendala yang dihadapi adlaah
kesulitan akses keberangkatan. Menurut informasi keberangkatan via
Halim sudah ditutup per Sabtu (17/10). Bagi rekan-rekan yang
mengetahui akses keberangkatan atau pihak yang dapat memfasilitasi
keberangkatan tim relawan medis dapat menghubungi tim.
Kontak Eko Koordinator medis UNAI: 812 2011 42499, Deny Dansatgas FK
KBPA-BR 819 1113 6501
Rekan-rekan relawan Jawa Barat yang terpantau masih bertugas di
Sumatera Barat sampai hari ini mencapai 37 orang.
*bila ada rekan-rekan lain yang mengetahui posisi, perkembangan
kegiatan yang dilakukan, titik akses dan sekiranya bermanfaat untuk
diketahui bersama, dapat menginformasikan melalui milis ini atau
melalui email ke jabarpeduli@gmail.com
18 Oktober 2009
[JBP] Kogami: The Latest Location that needs assistant for food and logistic Minggu, 18 Oktober, 2009
18 Oktober 2009 13:55 WIB | Redaksi
The Latest Lokasi yang perlu asisten untuk makanan dan logistik:
1. GANTING Korong, Nagari Sungai Asam, Kecamatan 2 x 11 Enam Lingkung.
100% bangunan rusak, 202 rumah tangga membutuhkan bantuan logistik.
2. Dusun Paladangan, Korong Batang Pariaman, Nagari Gunuang Padang
Alai, Kecamatan V Koto Timur, Pariaman. Kebutuhan rumah tangga 200 logistik
membantu. Wali Korong: cp: Agusmawi Hasan (+6281363852132).
3. Korong Kampuang Pauh Bukik Kuduang Bukik Caliak, Pariaman. 279
rumah roboh, 2 orang terluka parah. Perlu bantuan logistik, 10
gensets, 20 tenda. Cp: Iqbal: 085263292950.
4. Dadok Tunggul Hitam, Padang Tabing di RW 07, masih membutuhkan sedikitnya 10 tenda makanan dan hanya menerima bantuan dari Bakrie Peduli dan sekarang sedang assest oleh Shelter Box (Para Pemimpin dari RW 07: 085835353559)
-RT 01: 124 kerusakan rumah
-RT 02: 13 parah kerusakan rumah-rumah, 54 sedikit kerusakan rumah-rumah, 309
orang membutuhkan logistik
- RT 03: 79 parah kerusakan rumah
- RT 04: 71 parah kerusakan rumah
- RT 05: 44 kerusakan rumah
5. Korong Aia Cama, Kampung Dalam Padang Pariaman. Kebanyakan IDP
sudah kembali ke rumah mereka, dengan hampir 90% rumah rusak parah,
dan 6 kematian. Membutuhkan air bersih, logistik dan pemulihan anak-anak. Kontak Person: 085263230666.
- Jorong Kajai: 95 rumah rusak berat, dan 388 IDP
-Jorong Bayur: 181 rumah rusak berat dan 733 IDP
- Jorong Sungai Jilatang: 174 rumah rusak berat dan 670 IDP
- Jorong Campago: 187 rumah rusak berat dan 759 IDP
6. Ilalang Jorong Gadang, Korong Rimbo Kalam, Padang Andurang Nagari
Pariaman.IDP 250 orang. Contact Person 081374174021
7. Korong Koto Rajo, Nagari Sumur, Kecamatan Nan Sabaris, Padang
Pariaman, 44 kebutuhan rumah tangga kebersihan, tenda dan selimut. Kontak
: Asmiarti 085274845385
8. Lam Kanagarian Panjang, Kec. Sungai Limau Kab. Padang Pariaman, yang
rumah di daerah ini kerusakan, kebutuhan tenda dan logistik.
9. Kanagarian Padang Olo, Kec. Sungai Limau Kab. Padang Pariaman, yang
rumah di daerah ini kerusakan, kebutuhan tenda dan logistik.
10. Kanagarian Batu Mengaum, Kec. Sungai Limau Kab. Padang Pariaman,
rumah di daerah ini kerusakan, kebutuhan tenda dan logistik.
11. Kanagarian Kapau, Kec Sungai Geringging Kab. Padang Pariaman, yang
rumah di daerah ini kerusakan, kebutuhan tenda dan logistik.
12. Kanagarian Kapalo Koto, Kec. Nan Sabaris Kab. Padang Pariaman, yang
rumah di daerah ini kerusakan, kebutuhan tenda dan logistik.
13. Kanagarian Lubuk Pandan, Kec. Enam Lingkung Kab. PDG Pariaman, yang
rumah di daerah ini kerusakan, kebutuhan tenda dan logistik.
14. Kanagarian Sicincin, Kec Enam Lingkung Kab. PDG Pariaman, yang
rumah di daerah ini kerusakan, kebutuhan tenda dan logistik.
15. Kanagarian Kampung Guci, Kec. Enam Lingkung Kab. Padang
Pariaman, rumah di daerah ini kerusakan, kebutuhan tenda dan logistik.
16. Cumanak, Tigo Kanagarian Gunung Tandikek, Padang Pariaman, yang
rumah di daerah ini kerusakan, kebutuhan tenda dan logistik.
17. Pulau Koto, Tigo Kanagarian Gunung Tandikek, Padang Pariaman, yang
rumah di daerah ini kerusakan, kebutuhan tenda dan logistik.
18. Lubuk Laweh, Kanagarian Gunung Tigo Tandikek, rumah dalam
area kerusakan, kebutuhan tenda dan logistik.
Mulai dari Lam Kanagarian Lubuk Laweh Panjang sampai kontak
orang Isnaini: 081267225130
19. Kecamatan VII Koto, Simpang Ampek, Sungai Sarik Kabupaten Padang Pariaman, 420 house kebutuhan tenda, selimut dan logistik. Contoct Person
: 081266165270
20. Koto Rajo Sunur, Nan Baris, Padang Pariaman, 40 rumah tangga, kebutuhan
logistik, tenda dan alat-alat kebersihan. Contact person Asmiarti: 085274845385
21. Korong Pasia Laweh, Lubuk Alung, kerusakan rumah 1239, kebutuhan
logistik, tenda, air bersih, dan makanan bayi. Sudah menerima tenda
dari Charitas, tapi theres tidak ada informasi tentang jumlah pasti
thats tenda telah diterima oleh masyarakat.Contact person: Firdaus Rahman: 081374276001.
- Jorong Sakayan: 1154 orang
- Jorong Pondok: 1134 orang
- Jorong Kampung Kalawi: 1154 orang
- Jorong Padang Rilai: 1153 orang
- Jorong Padang Gelapung: 1154 orang
22. Koto Tangah, Sungai Bangek, Lubuk Buaya Padang, Contact person: 081363013035
23. Korong Batang Tapakis, Nagari Sintuak, Kecamatan Sintuak Toboh
Gadang, dekat Koramil Lubuk Alung. Contact person person: Erdanelly:
085263007472
24. Korong Sirek Buruah, Bagari Kapalo Koto, Padang Pariaman, 85
kebutuhan rumah tangga air bersih. Contact person: Sri Fadila:
081374743838
25. Nagari Sikujur Kecamatan V Koto Dalam, kebutuhan dokter dan obat-obatan,
contact person: Rinaldi: 081374744670
26. Jorong Lubuk Anau, Nagari Kinali, Pasaman Barat, kebutuhan medis
mendukung. Contact person Zulkifli di Kapar Ujang: 081266129576
27. Korong Ringan-ringan, Nagari Pakandangan, Padang Pariaman, kebutuhan
tenda. Contact person: Indra Fazil: 081363802591
28. Dusun Pintu Rimbo, Nagari Bawan, Nagari IV Kel Lubuk Basung. Tidak
belum menerima membantu, kebutuhan obat-obatan. Contact person: Inyak Datuak
Agam: 081374172455
29. Toboh Tangah, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, kebutuhan beras untuk 50
rumah tangga. Contact person: 08197549226
30. Nagari Bijai, Kabupaten Pasaman Barat, 120 rumah tangga kebutuhan makanan, tenda, dan peralatan tukang kayu. Jalan tidak dapat diakses oleh mobil. Contact person: Prasetyo: 081363343439
31. Desa SEKAYAN, sungai Bangek, Kelurahan Balai Gadang, Koto
Tangah, Padang, belum menerima bantuan apa pun. Contact person: Jon Nedi
Kambang: 08126703499
32. Daerah Sitalang, Lubuk Basung, Agam, kebutuhan beras, contact person
Abrar: 085274767051
33. Daerah Batu Kambing, Lubuk Basung, Agam, kebutuhan tenda, hubungi
orang Edida Mardalena: 081973513244. Sekarang assest oleh Shelter Box
34. Universitas Negri Padang, Fakultas Bahasa Dan Sastra, kebutuhan 12
tenda untuk mahasiswa. Contact person Rusdi (Dekan): 0.751-7.053.363
35. SDN 38 Kampung Baru, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang kebutuhan 2
tenda untuk ruang belajar. Contact person Head Master: Kasniwarti:
081266490953
36. SDN 24 Jati Gaung, Kelurahan Jati Kota Padang, memerlukan 3 tenda untuk
ruang belajar. Head Master contact person: 081363111587
Jika Anda menggunakan data ini silahkan konfirmasi kepada kami untuk menghindari kerja tumpang tindih dengan orang lain yang migth menggunakan data ini juga.Misalkan anda perlu sukarelawan untuk distribusi bantuan atau juru bahasa untuk perjalanan Anda, Anda dapat langsung kontak atau datang ke kantor kami, dan menggunakan sukarelawan kami.
Data ini dikumpulkan oleh Kogami.
13 Oktober 2009
TIM RELAWAN JAWA BARAT PULANG KAMPUNG
Relawan Jawa Barat yang terlibat dalam operasi tanggap darurat Gempa Sumatera Barat kali ini berasal dari berbagai pihak, baik bekerja atas nama pribadi maupun mewakili induk organisasi.
Diantaranya yang terdata adalah (berdasarkan alfabet, mohon maaf karena pasti ada pihak yang terlewat disebutkan):
1 Astacala STT Telkom
2 Atlas Medical Pioneer
3 Bandung Solidarity
4 Corps Mahawarman
5 Daya Mahasiswa Sunda (DAMAS)
6 FK KBPA-BR
7 endela Ide
8 I-BS/UIN SGD
9 MPA-G ITB
10 Lawalata IPB
11 LRCB
12 Mahitala Unpar
13 Palawa Unpad
14 Pangrango
15 PMI ERU-WATSAN
16 Pramuka
17 Rancana Unpad
18 RAPIDA Jabar
19 SAR Unpad
20 STIKES Dharma Husada
21 STV
22 UGD RS. Hasan Sadikin
23 Relawan Universitas Galuh
24 Relawan Universitas Advent Indonesia
25 Wanadri
Salut dan terima kasih atas dedikasi serta kerja keras rekan-rekan
semua. Hanya Allah SWT yang bisa membalasnya.
09 Oktober 2009
Korban Tewas Gempa Sumbar Capai 748 Orang
Kamis, 08 Oktober 2009 pukul 21:47:00
PADANG-- Jumlah korban tewas yang telah ditemukan akibat gempa 7,6 SR di Sumatra Barat (Sumbar) terus bertambah hingga Kamis pukul 20.00 Wib telah mencapai sebanyak 748 orang yang meninggal dunia.
Korban tewas terbanyak yang telah terdata di temukan Kota Padang mencapai 341 orang dan di Kabupaten Padang Pariaman 309 orang, demikian data Sarkorlat Penanggulangan Bencana Sumbar di Padang, Kamis malam. ant/kpo
Berikut rincian korban dan kerusakan yang telah terdata;
1. Korban tewas : 748 orang
2. Korban luka berat : 867 orang
3. Korban luka ringan : 1.374 orang
4. Warga hilang : 242 orang
5. Rumah rusak berat : 122.964 unit
6. Rumah rusak sedang : 58.457 unit
7. Rumah rusak ringan : 59.186 unit
Korban tewas yang telah terdata dengan rincian ;
1. Kota Padang : 309 korban tewas
2. Kabupaten Padang Pariaman : 341 korban tewas
3. Kota Pariaman : 37 korban tewas
4. Kabupaten Pesisir Selatan : 11 korban tewas
5. Kota Solok : 3 korban tewas
6. Kabupaten Agam : 32 korban tewas
7. Kabupaten Pasaman Barat : 3 korban tewas.
http://republika.co.id/berita/81161/Korban_Tewas_Gempa_Sumbar_Capai_748_Orang
Perubahan Iklim Sebabkan Gempa Tambah Dahsyat
JAKARTA--Jauh dari gambaran lembut seperti dilukiskan mitologi-mitologi kuno, "Dewi Pertiwi" sesungguhnya gampang senewen dan meledak-ledak. Dia begitu peka sehingga sedikit saja cuaca dan iklim berubah, maka tercabiklah kerak bumi, dan keluarlah letusan vulkanik, gempa bumi dan longsor yang semuanya dahsyat.
Pernyataan itu bukan dari pendongeng, melainkan kesimpulan sejumlah ilmuwan yang pertengahan September 2009 berkumpul di London, Inggris, pada satu konferensi bertajuk "Climate Forcing of Geological and Geomorphological Hazards." Para ilmuwan itu menilai perubahan iklim bisa merusak keseimbangan planet Bumi, kemudian menghadiahi manusia dengan rangkaian bencana geologis.

Sudah lama diketahui bahwa antara iklim dan pergerakan kerak bumi saling berkaitan, namun baru kini ditegaskan bahwa betapa pekanya lapisan bumi terhadap udara, es dan air di atasnya."Anda tak perlu perubahan besar-besaran untuk memancing respons kerak bumi," kata Bill McGuire dari University College London (UCL), yang mengetuai konferensi ilmuwan itu, seperti ditulis New Scientist, edisi 23 September 2009.
Simon Dya dari Universitas Oxford, serta McGuire dan Serge Guillas dari UCL, memaparkan bukti bahwa bagaimana perubahan halus pada tingkat permukaan laut mempengaruhi kegempaan di Patahan Pasifik Timur, salah satu batas lempeng benua yang memekar paling cepat. Para ilmuwan memfokuskan perhatian pada lempeng mini Easter --lempeng tektonik yang menghampar di bawah samudera di lepas pantai Pulau Easter-- karena lempeng ini relatif terisolir dari sesar-sesar lain.
Fokus ini mempermudah upaya membedakan perubahan-perubahan dalam lempeng tektonik yang terjadi karena sistem iklim, dari yang tercipta akibat tumbukan. Sejak 1973, datangnya gelombang El Nino setiap sekian tahun berkorelasi dengan frekuensi gempa bawah laut berkekuatan magnitudo 4 dan 6.
Ilmuwan yakin, kemunculan El Nino dan terjadinya gempa bawah laut itu berkaitan. El Nino menaikkan permukaan air laut sampai puluhan centimeter. Ilmuwan juga yakin berat air ekstra bisa meningkatkan tekanan aliran fluida dalam pori-pori batuan dasar laut. Tekanan ini cukup menetralisir energi geseran yang menyangga batuan agar tetap di tempatnya, sehingga sesar-sesar menjadi mudah bergeser. "Perubahan pada tingkat permukaan laut terjadi pelan dan usikan kecil saja bisa berdampak luar biasa besar," kata Day.
Letusan Vulkanik
Perubahan kecil di samudera itu juga dapat mempengaruhi letusan vulkanik, sambung David Pyle dari Universitas Oxford. Setelah meneliti letusan-letusan vulkanik dalam 300 tahun terakhir, Pyle menilai karakter vulkanisme (aktivitas vulkanik) berbeda-beda, tergantung musim.
Menurut Pyle, letusan vulkanik di seluruh dunia 20 persen lebih sering terjadi di musim dingin (belahan bumi utara) ketimbang di musim panas.Itu karena tingkat permukaan air laut global turun perlahan selama musim dingin, dan berhubung daratan lebih banyak di belahan utara, maka air menjadi lebih banyak membeku menjadi es dan salju selama musim dingin (belahan selatan).
Sementara itu, kebanyakan gunung api teraktif di dunia hanya puluhan kilometer dari pantai. Ini menunjukkan, penyusutan bobot samudera di tepi benua yang terjadi secara musiman akibat menurunnya permukaan air laut, bisa memicu letusan vulkanik di seluruh dunia, ulas Pyle.
Pandangan bahwa beberapa gunung api meletus saat permukaan air laut turun, tak berarti bahwa naiknya permukaan laut akibat perubahan iklim, akan menekan aktivitas vulkanik.Di Alaska, Gunung Pavlof lebih sering meletus pada bulan-bulan di musim dingin, sementara penelitian awal Steve McNutt dari Observatorium Gunung Api menyimpulkan, naiknya permukaan laut 30 cm setiap musim dingin, terjadi karena rendahnya tekanan udara dan kuatnya gelombang badai.
Lokasi Gunung Api Pavlof berada menunjukkan, bobot tambahan di samudera terdekat bisa menekan magma ke permukaan.Di wilayah lain, berat esktra samudera saat tingkat permukaan laut naik, bisa melengkungkan kerak bumi dan mengurangi pemampatan sehingga magma menjadi lebih mudah mencapai permukaan di gunung-gunung api terdekat, kata McGuire.
Semua contoh itu agaknya saling bertentangan, namun intinya setiap perubahan permukaan laut bisa mengubah tekanan di tepi benua yang cukup untuk memicu letusan gunung berapi yang sudah siap meletus, kata McGuire. Perubahan kecil dalam curah hujan bisa juga memicu letusan vulkanik. Pada 2001, letusan besar di gunung api Soufriere Hills di Pulau Montserrat di Karibia terjadi karena tingginya curah hujan.
Curah hujan yang tinggi ini menggoyahkan kubah gunung api hingga cukup untuk memuntahkan magma dalam perut gunung api.Kini, hujan tropis tampaknya sudah umum dianggap bisa memicu letusan gunung api, sedangkan menurut model ilmiah iklim, banyak kawasan, termasuk daerah tropis, bertambah panas akibat perubahan iklim.
Adrian Matthews dari Universitas East Anglia dan para koleganya, meneliti respons menit ke menit gunung berapi Montserrat setelah dikenai lebih dari 200 "rangsangan" selama tiga tahun. Tim peneliti menemukan, respons itu terlihat dari meningkatnya aktivitas vulkanik selama dua hari.Hujan harian meningkatkan kemungkinan keroposnya kubah gunung api dari 1,5 sampai 16 persen sehingga tak perlu menunggu hujan besar. "Anda juga tak perlu badai (untuk menggerogoti kubah gunung)," kata Matthews.
Lapisan Es
Mungkin hambatan geologis terbesar selama perubahan iklim adalah dampak mencairnya lapisan es. Di samping risiko bahwa sedimen-sedimen goyah yang muncul karena es mencair bisa menyelinap masuk laut sebagai longsor pemicu tsunami, tanggalnya lapisan es juga bisa memicu letusan gunung api."Bahkan penciutan (lapisan es) puluhan centimeter saja sudah cukup menciptakan perubahan," kata Andrew Russell dari Universitas Newcastle.
Contohnya glasier Vatnajokull di Islandia yang berdiri di atas batas lempeng dan sejumlah gunung api yang kemungkinan sirna dua abad nanti. "Jika itu sirna, Anda mesti berjuang membunuh kengerian dari membesarnya beban (samudera) yang akan meningkatkan aktivitas vulkanik," kata Russell.
Di awal zaman es terakhir, aktivitas vulkanik di Islandia utara meningkat hingga 30 kali lebih besar dibandingkan sekarang. Dan jika nanti gunung-gunung api di belahan utara yang tertutup es itu meletus, maka hamburan letusan akan menebari dunia. Ilustrasinya terjadi pada 1783 saat Gunung Berapi Laki di Islandia memuntahkan debu belerang ke seluruh Eropa sehingga benua ini mengalami satu musim dingin maut yang membunuh ribuan orang.
Saat ini memang belum jelas berapa besar perubahan iklim akan mempengaruhi frekuensi dan intensitas gempa bumi serta letusan gunung api mengingat kepekaan Planet Bumi terhadap iklim baru teramati intens belakangan ini. Selain itu, belum cukup data untuk menciptakan model pemrakira cuaca yang mengaitkan kedua sistem. "Tapi yang pasti, aksi manusia semakin mudah memprovokasi Planet Bumi," kata McGuire. ant/kpo
http://republika.co.id/berita/80963/Perubahan_Iklim_Sebabkan_Gempa_Tambah_Dahsyat
08 Oktober 2009
[Jawa Barat Peduli] IOF Peduli Utk Sumatra - Masih Akan Bertahan Hingga 23 Hari Ke Depan
Tidak terasa sudah seminggu terlewati pasca gempa bumi yang menghantam wilayah Sumatra Barat dan Jambi.
Satgas IOF Peduli yang beranggotakan para off-roader telah bertugas sejak hari kejadian hingga kini, dan hingga beberapa minggu ke depan. Sungguh suatu kepedulian tanpa pamrih demi menolong saudara-saudara kita yang tertimpa musibah.
Apa yang dilakukan Satgas IOF Peduli?
Tugas utama satuan tugas ini adalah memastikan bahwa jalur-jalur transportasi darat di wilayah gempa, khususnya ke daerah-daerah yang terisolir, menjadi terbuka dan dapat dilalui berbagai kendaraan sehingga tenaga penyelamat, tim medis, logistik makanan minuman, tim pembuat pengungsian, shelter, dan lainnya dapat mencapai wilayah terisolir tersebut dengan mudah.
Untuk menjalankan tugas ini, para off-roader kita menggunakan kendaraan serta peralatan off-road yang dimiliki untuk merintis jalur-jalur yang memungkinkan untuk ditembus. Bukan suatu kegiatan yang mudah, namun membutuhkan keahlian, peralatan, biaya, dan yang tak kalah penting adalah DEDIKASI dan INTEGRITAS terhadap tugas kemanusiaan yang mulia ini.
Peranan para off-roader di medan bencana sudah teruji. Berbagai publikasi pun memuat kiprah para off-roader kita. Berbagai instansi dan lembaga bekerjasama dengan para off-roader untuk saling memperkuat kemampuan untuk menolong sesama. No questions asked. Salut adalah sebuah kata yang tepat untuk kita sampaikan kepada para off-roader yang tanpa lelah, tanpa pamrih, rela untuk menyisihkan waktu, kemampuan, peralatan yang dimiliki, meninggalkan keluarga selama berhari-hari, hanya untuk sebuah tugas mulia, membantu saudara-saudara yang sedang tertimpa musibah.
Saat ini Satgas IOF Peduli sedang bertugas di wilayah Sumatra Barat dan Jambi yang menjadi wilayah bencana. Akses pun terbuka, bantuan mulai mengalir kepada para korban. Sungguh suatu situasi yang menghibur di tengah duka. Jerih payah tim kami tidak sia-sia dan semoga bermanfaat bagi negeri dan bangsa tercinta ini.
Terimakasih kami ucapkan kepada para simpatisan, donatur serta berbagai komunitas yang telah memberikan dukungan moril maupun materiil kepada tim kami. Bersama-sama kita tembus belantara, kita seberangi sungai, kita panjat tebing dan seberangi lembah, agar saudara-saudara di balik sana tertolong, terselamatkan. Tanpa dukungan anda semua, usaha ini akan sangat berat untuk kami lakukan. Sertai kami dengan doa anda semua, semoga apa yang kita lakukan akan mencapai tujuan dan memperoleh imbalan berkah dan rahmat dari Yang Maha Kuasa.
Satuan Tugas IOF Peduli masih akan terus melanjutkan operasi di Sumatra hingga akhir bulan Oktober 2009 sebagai Operasi Tahap I dengan fokus kepada kegiatan rintis jalur dan rescue.
Tuhan, berikanlah kami kekuatan untuk menyelesaikan tugas ini, amin.
Salam Off-Road!
Ronny
Koordinator Operasi
Satgas IOF Peduli Untuk Sumatra
a.n. seluruh tim yang bertugas dan off-roader se-Indonesia
03 Oktober 2009
Laporan Perkembangan Situasi Gempa Sumatera Barat - SitRep #4
tanngal publikasi 03 Oktober 2009 pukul 10.19 WIB
.dikompilasi dari berbagai sumber oleh Jawa Barat Peduli dan INDOALERT!
..satuan waktu bila tidak dinyatakan lain adalah pada WIB
- Kerusakan dan Kehilangan -
1. Sampai dengan pukul 02/10 12.00 WIB, jumlah korban meninggal akibat
gempa menurut laporan dari Satkorlak PB Prov. Sumbar sebanyak 448 orang,
dengan rincian 197 orang di Kota Padang, 49 orang di Kota Pariaman, 7 orang
di Kota Bukittinggi, 184 orang di Kab. Padang Pariaman, 7 orang di Kab.
Pesisir Selatan dan 4 orang di Kota Solok. Selain itu sebanyak 241 orang
mengalami luka berat dan 2.095 orang lainnya luka ringan.
Dilaporkan pula, rumah penduduk yang mengalami rusak berat sebanyak 12.245
unit, rusak sedang 3.046 orang dan 5.468 rusak rusak ringan. Kerusakan
tersebar di 8 Kabupaten/Kota, yaitu Kota Padang, Kota Pariaman, Kota
Bukittinggi, Kab Padang Pariaman, Kab Pesisir Selatan, Kota Solok, Kota
Padang Panjang dan kab Pasaman Barat (BNPB 02/10 1454).
2. Korban tewas gempa Sumatera Barat hingga pukul 24.00 WIB, Sabtu (3/10),
mencapai 471 orang dengan korban luka 2818 orang. "Sebagian besar korban
luka mengalami patah tulang," kata Rustam Pakaya, Kepala Pusat
Penanggulangan Krisis Departemen Kesehatan (tempointeraktif 08.21)
3. Di Kabupaten Agam, ditemukan 18 orang korban tewas dan sekira 1.600
masih dalam upaya pencarian. Korban yang cukup banyak berada di kecamatan
Malalak akibat tertimbun longsoran bukit. Sekitar 5.000 rumah rusak berat
hingga sedang dan setidaknya 400 orang mengungsi ke tempat penampungan dan
ke rumah kerabat dekat mereka.
Kecamatan yang dilanda gempa di Agam adalah Kec. Malalak, Tanjung Raya,
Lubuk Basung, Ampek Nagari dan Kec. Tanjung Mutiara.
Desa Jorong Galapung, Batu Nanggai, Muko Jalan, Nagari Tanjung Sani,
Kecamatan Tanjung Raya, hingga Jumat masih terisolasi.
Warga Agam saat ini kesulitan BBM. Di pengecer harga bensin mencapai Rp. 20
ribu/liter dan stok terbatas.
4. Di Kampung Jamba, Kecamatan Ulakan Tapakin, Kabupaten Pariaman belum ada
bantuan sama sekali. Padahal, rumah-rumah roboh dan banyak korban yang
timbul. Di Kampung Toboh Olo, Kecamatan Ulakan Tapakin, juga belum ada
bantuan sama sekali. Tercatat 130 rumah roboh dan warga kehilangan tempat
tinggal. Antrian panjang di pompa bensin Solok, Padang Pariaman. Harga
bensin melejit hingga menembus Rp30,000 per liternya. Kontak di Kecamatan
Ulakan Tapakin adalah Bapak Hendri, seorang Korong atau Kepala Kampung di
Toboh Olo. (mediacenter 00.04)
5. 512 rumah porak poranda di Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci.
Di Lolo terdapat 32 buah rumah rusak total, 74 rusak berat dan 62 rusak
ringan. Desa Lempur Mudik, Lempur Hilir, Lempur Tengah, Dusun Baru Lempur,
Desa Talang Kemuning, Tanjung Sam serta Desa Sungai Hangat di Kecamatan
Gunung Raya merepukan daerah yang mengalami dampak (mediacenter 02/10 22.24).
6. Korban gempa di Desa Marunggi, Kecamatan Pariaman Selatan, Kabupaten
Padang Pariaman, Sumatra Barat, yang rumahnya rata dengan tanah hingga kini
belum mendapat bantuan, terutama tenda dan makanan. Di desa itu, 80 persen
rumah warga ambruk, mulai dari Pasar Kurai Taji, Kampung Apar, Palak Aneh,
Kampung Sikumbang hingga Tebing Runtuh (tvone 08.22).
7. 650 narapidana pria dan wanita termasuk petugas LP yang ada di LP Muara
Padang, Sumatra Barat selamat, namun sangat membutuhkan bantuan logistik
berupa bahan makanan dan air bersih (tvone 6.12).
8. Data dari lima kecamatan di Jambi, sedikitnya 465 rumah penduduk rusak
berat, 984 rusak ringan, 59 rusak total atau ambruk. Gempa juga merusak
bangunan masjid, sebanyak 14 masjid rusak berat. Sarana umum yaitu, dua
gedung pemuda, rumah adat ambruk, dan satu puskesmas di Kecamatan Gunung
Raya juga ambruk. Data Dinas Pendidikan di Kecamatan Gunung Raya, 38
sekolah mengalami kerusakan. Rinciannya, 8 bangunan SD rusak berat, 2
bangunan SMP rusak berat, 1 banguan juga rusak berat. Sedangkan, 28 gedung
sekolah lainnya mengalami kerusakan ringan. Diberitakan pula warga
membutuhkan bantuan psikososial karena ada gejala traumatis. (vivanews 03.23).
9. Berdasarkan pengamatan tim PMI dari udara, di Desa Bukit Pinang, Kampung
Pauh ada 50 KK yang kehilangan tempat tinggal karena rumah mereka rusak
berat. Sebagian dari mereka tinggal di mushola dan mendirikan tenda-tenda
dari plastik buatan sendiri (detiknews 04.10).
- Akses dan Transportasi -
1. Jalan yang menghubungkan Kabupaten Agam-Padang Pariaman banyak yang
terbelah. Badan jalan di sebagian tempat di titik-titik tertentu terbelah
dua dengan lebar lebih dari 15 cm dengan panjang hampir 50 meter. Hal ini
tentu saja menjadi penghalang penyaluran bantuan bagi korban gempa.
Rusaknya badan jalan terjadi di beberapa titik sampai menuju Kota Pariaman
ini dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untukmeminta sumbangan. Mulai
dari perbatasan antara Agam-Pariaman, sedikitnya ada 20 titik peminta
sumbangan. Kondisi ini membuat macet lalu-lintas hingga 2 kilometer
(wawasandigital 2/10).
2. Jalur kereta api di Kota Padang masih belum dapat difungsikan (suryalive).
3. Beberapa titik akses dan kondisi jalur:
- Dari Jambi dan Muara Bungo. Melalui Koto Baro via Solok, Lubuk
Selasih, Sitinjau Lauik - Padang.
- Pekanbaru ke Payakumbuh, Batu Sangkar, Solok, Lubuk Selasih, Sitinjau
Lauik - Padang.
- Jalur darat dari Bengkulu ke Padang terputus di Bengkulu Utara.
- Jalur Solok kondisi jalan tinggal setengah jalan (satu jalur)
- Sedangkan jalan Padang Panjang - Padang terputus (diperkirakan
perbaikan dibutuhkan waktu 3 hari). (Sampoerna Rescue melalui mediacenter
02.36)
4. Transportasi untuk pengangkutan barang bantuan dan logistik yang
disediakan oleh beberapa pihak, diantaranya adalah:
- PT. Pelni, Tanjung Priuk. Untuk orang, logistik dan kendaraan dengan
kapal Penumpang dan RORO. Kontak Sekretariat Humas PT Pelni (021–6301249)
- Mandala Airlines menyediakan bantuan angkutan cargo max 2 ton per
hari. Sdri Trisia Megawati 0811190166, Sdr Arie Andrianto 0811818737. POO:
Cengkareng.
- Cardig Air menyediakan space untuk barang bantuan dan logistik. Sdr
Devi Munthe. 08161961550. POO: Cengkareng.
- RPX menyediakan bantuan satu unit pesawat cargo kapasitas 14,5 ton
dari Jakarta ke Padang berangkat Sabtu tgl 3 Okt 2009. Kontak +62816742259.
POO: Cengkareng
- Garuda menyediakan cargo gratis ke Padang. POO: Cengkareng. Kontak
Humas Garuda.
5. Arus lalu lintas dari Bukit Tinggi menuju Padang macet. Di Lembah Anai
di Pemkot Padang Panjang terjadi antrean panjang kendaraan minimal 20 km
dari arah yang berlawanan. Lama perjalanan normal 2 jam, pada kondisi macet
menjadi 7 sampai 8 jam (detiknews 01.32)
- Telekomunikasi, Air, Listrik dan BBM -
1. Sejak Jumat malam pukul 23:00 WIB sebanyak delapan trafo distribusi yang
memasok listrik ke Kota Pariaman dapat dinyalakan. Aliran listrik di Kota
Padang dan Pariaman yang merupakan daerah terparah kena dampak gempa sudah
menyala sebagian. Dilaporkan 2 gardu induk listrik hancur, puluhan tiang
listrik tumbang dan kabel-kabel jaringan terputus. Gardu induk yang rusak
adalah yang mendistribusikan listrik dari pembangkit-pembangkit dari Lubuk
Alung (PLTA Singkarak), Simpang Haru (PLTD) dan Pauh Lima (PLTG), karena
itu PT PLN mengalami kerugian mencapai Rp170 miliar. 184 petugas sudah
dikerahkan oleh PLN untuk memulihkan jaringan listrik (antaranews 08.29)
2. Air di kota Padang belum mengalir. Dukungan air bersih sangat diperlukan.
3. Akses Internet gratis tersedia di Posko Bandar Udara Halim Perdanakusuma
sejak Jum'at 02/10 (airputih mediacenter 00.32).
4. Akses Internet gratis tersedia di halaman dan tenda di sekitar Kantor
Gubernur Sumatera Barat (airputih mediacenter 00.25)
5. Akses BBM melalui SPBU di Kota Padang masih belum pulih. BBM langka.
6. Akses telekomunikasi dari beberapa provider dilaporkan mulai pulih,
namun beban masih tinggi dan karenanya masih sering terjadi kongesti.
- Respon Pemerintah RI -
1. Pemprop Jambi mengirimkan 18 unit alat berat ke Sumatera Barat dan
Kabupaten Kerinci Propinsi Jambi untuk membantu penanganan longsor. Satu
unit shouel loader dan satu unit escavator untuk Propinsi Sumbar. Ke
Kabupten Kerinci Pemprop Jambi mengirimkan escavator, greder, shouel loader
masing-masing dua unit serta 10 unit dump truk. Alat berat untuk Kabupaten
Kerinci diperuntukkan membuka jalur atau akses satu-satunya menuju
Kabupaten Merangin. (elshinta 8.10)
2. BNPB Tidak Membuka Posko Pendaftaran Relawan Gempa Sumbar. Menanggapi
berita yang dilansir oleh Okezone.com tentang "BNPB buka Posko Pendaftaran
Relawan Gempa", pada hari Kamis, pukul 17.18 WIB, diklarifkasikan bahwa
berita tersebut tidak benar. BNPB tidak membuka Pendaftaran Relawan untuk
penanganan Gempa di Sumatera (BNPB 10.46).
- Respon Relawan Nasional -
1. PMI Pusat mendirikan rumah sakit lapangan di Padang dan Pariaman serta
unit Restoring Family Link (RSL) untuk membantu memulihkan hubungan
keluarga yang terpisah. Selain itu tim MAT (Medical Action Team) PMI dengan
kekuatan 32 orang sudah beroperasi sejak hari pertama (tempointeraktif 02/10)
2. Posko darurat Sampoerna Rescue di Kelurahan Koto Panjang, Ikur Koto.
Tepatnya di By pass KM 16. Posko beroperasi sekaligus sebagai posko
pengungsi, darurat dan layanan medis. Tersedia 2 dokter untuk melayani
bantuan medis. Tim Sampoerna Rescue yang menempuh jalan darat diperkirakan
memasuki Padang pada Sabtu (03/10).
Tim Darat Sampoerna Rescue membawa 20 relawan, 2 ambulans 4 WD, 1 truk
logistik, 1 mobil penjernih air, 1 mobil dapur umum dan 2 mobil jelajah.
Kontak Tim Sampoerna Rescue, Kukuh Dwi Kristianto, 08330388836.
3. Tim ERU (Emergency Response Unit) Watsan PMI berkekuatan 6 kendaraan dan
6 unit Water Treatment Plant (WTP) akan berangkat dari Bandung ke Padang
melalui Tanjung Priuk menggunakan KRI. Kontak ERU Watsan PMI: Ezra 0812 200
4959, Herry Soetrisno 0813 200 73809
4. Tim dari berbagai instansi termasuk relawan dari Corps Mahawarman akan
berangkat menuju Minangkabau pukul 10.00 dari Bandar Udara Husein
Sastranegara, Bandung. Kontak Dansatgas Corps Mahawarman, Bpk. Taufik 022
7694 6800
5. Tim dari IOF Riau saat ini sudah berada di ds. Kapalo Kato, Pariaman.
Tim akan menyisir daerah terisolir ke Mudik Balai. Tim selanjutnya akan
menuju menuju Tandikek, Kabupaten Pariaman bergabung dengan tim IOF
Bukittinggi. Dilaporkan pula bahwa IOF Sumut berangkat malam ini menuju
Sumbar, dgn 9 unit kendaraan. Kontak IOF Sumut: Edy Rangkuti Hp 0811610077,
Tel Sat 086811038345. Kontak IOF Riau Bp. Agus Purnomo
+62812 7527 100, 0761 707 5300. Kontak IOF Pusat: Ronny, +62815 920 7278,
+62813 8373 2728
- Respon Internasional -
(sumber: reuters)
1. Tim UN-DAC telah berada di lapangan dan berkoordinasi dengan SAR
Internasional.
2. Enam personil dari Dinas Pemadam Kebakaran Inggris dan empat dari
Skotlandia berangkat tadi malam dari inggris dengan membawa sensor panas
dan suara yang bisa mendeteksi keberadaan mahluk hidup yang tersembunyi di
balik puing bangunan. Mereka adalah bagian dari International Rescue Corps
yang yang sudah berpengalaman di Aceh sejak 2001. Selain kedua negara itu,
Singapura, Jepang Turki, Hungaria, Swiss, dan Jerman juga mengirim tenaga
ke Padang (tempointeraktif 02/10 16.08).
3. Pemerintah Hungaria dan Baptist Aid mengirimkan bantuan kemanusian. Tim
dipimpin Mayor Peter Jackovics dengan 19 tenaga medis dan tenaga search and
rescue. Mereka dilengkapi peralatan SAR terkini dan enam anjing pelacak
yang dilatih khusus menggunakan pesawat (metrotvnews 02.05).
4. Telecoms san Frontieres atau tim telekomunikasi tanpa batas sudah berada
di Kota Padang untuk membantu permasalahan teknologi informasi dalam
keadaan darurat (mediacenter 04.21).
5. Departemen Keadaan Darurat Federasi Rusia mempersiapkan dua pesawat
terbang yang dilengkapi tim dokter, psikolog, regu penolong, anjing pelacak
dan peralatan lainnya. Begitu surat izin atau clearance didapat, maka kedua
pesawat itu akan segera diterbangkan (tvone 9.08)
- Kontak dan Jalur Komunikasi Penting Lain -
1. Jalur komunikasi RPU RAPI Bandung - Sumatera Barat di frekuensi VHF
input 142.025 MHz output 143.575 Mhz
2. Jalur Komunikasi VHF 145.000 untuk koordinasi di Kota Padang.
3. Jalur komunikasi radio panggil di frekuensi HF 7.065 MHz
4. Hotline Gempa Sumatera Barat 0751 9824971 s/d 9824980, FREE CALL di
Padang
5. SAR PADANG 0751-484533
6. TNI PADANG 0751-28718
7. KOGAMI (Komunitas Siaga Tsunami, Padang) 0751-7860280
8. SATKORLAK PADANG 0751-812550
9. Posko Wanadri, Halaman samping kantor Walikota Pariaman. Jl. Imam bonjol
44 Cimparuh, Pariaman. Soma Suparsa - 0813 2156 4375, Ahmad Ifran - 0813
6732 4830
10. LO di Posko Hanggar Bandara Internasional Minangkabau
Andreas (Wanadri) - 0818 982 574
11. Dr. Jack (Yayasan Ibu) di Padang - Pariaman 0819 1046 6333
12. Posko penanggulangan Bencana Masyarakat sipil. Jl. Tegal parang utara
No.14 Jakarta Selatan. Tlpn. 021-7941672. Akun bank: No Rekening Mandiri
0700004009002, Atas nama Yayasan WALHI, Swift Code: BEIIIDJA. Kontak
koordinator Ali Akbar (WALHI) Hp :0811735962, (boengbklu@gmail.com).
- Posko Sumatera Utara. Jl. Sei Serapuh No.20, Kel.Medan Baru Medan –
Sumatera Utara 20154, Syahrul Isman. 0813-86672188, t/f : 061-4579002
e-mail: sagala_is@yahoo.co.id.
- Posko Sumatera barat. Jl. Beringin III No. 9 Padang – Sumatera Barat
Khalid Saifullah, 081363482946, t/f : 0751-7054673, 7050883, e-mail:
ipul_padang@yahoo.com.
- Posko jambi. Jl. T. Sulaiman Lorong Setiabudi No. 41 Rt 27/09 Kel.
Tambak Sari - Jambi. Arief Munandar, 0812-74375845, t/f :0741 26672 /
0741-25304, e-mail: arifwalhi@gmail.com.
- Posko Riau. Jln. Arjuna no.22 , Labuh Baru Pekanbaru. Hariansyah
Usman/ Kaka, 0761-62169, 0812-76699967, e-mail: tikoe@yahoo.com
- Posko Bengkulu. Jl. Hibrida 2 No.15 RT.08/02 Kel. Sidomulyo, Gading
Cempaka Kota Bengkulu. Zenzi Suhadi, 0813-77600607, T/F :0736- 345656,
e-mail: zenzi_anggrekbkl@yahoo.co.id.
- Informasi Lain -
1. Relawan yang akan masuk ke kota Padang diharapkan mempersiapkan diri
sebaik-baiknya. Usahakan terlebih dahulu melakukan vaksinasi ATS
(tetanus). Dan sehubungan dengan kondisi basah di lokasi diperkirakan
akan lebih mempercepat proses pembusukan mayat yang masih terperangkap
di dalam reruntuhan. Untuk itu sanitasi di lapangan maupun di
pengungsian harus sangat diperhatikan.
02 Oktober 2009
gempa sumatera barat
MEMBANGUN KEBERSAMAAN DALAM MELAKUKAN PENANGANAN TERHADAP BENCANA GEMPA BUMI DI SUMATERA BARAT DAN JAMBI
1 Oktober 2009
Rabu, pukul 17.16 WIB gempa bumi berkekuatan sebesar 7,9 SR dengan titik lokasi 0.84 LS - 99.65 BT. Kedalaman 71 Km, Lokasi 57 Km Barat Daya Pariaman-Sumatera barat . akibat dari gempa bumi yang terjadi ini menyebabkan ratusan orang meninggal dunia dan ribuan rumah hancur total. Selain itu fasilitas umum seperti supermartket, hotel, dan rumah peribatan serta Rumah sakit juga mengalami kehancuran. Pukul 8 pagi kamis gempa terjadi terjadi di Jambi dengan berkekuatan 7,0 SR, berlokasi di 2,44 LS dan 101,59 BT, 46 km tenggara Kota Sungaipenuh dengan kedalaman 10 km. Walaupun gempa ini tidak menyebabkan adanya korban jiwa, namun menyebabkan kehancuran rumah dan fasilitas umum di kabupaten kerinci, Merangin dan Bungo Propinsi Jambi.
Gempa yang terjadi di Kerinci itu bukan gempa susulan yang terjadi di Pariaman, Sumatera Barat, pada Rabu (30/9) pada pukul 17.16 WIB berkekuatan 7,6 SR, berjarak 57 km barat daya Pariaman dengan kedalaman 71 km.
Menjawab tingginya dampak kerusakan dan korban jiwa akibat dari Gempa yang terjadi di Sumatra dan di dorong atas inisiatif bersama untuk melaksanakan penganggulangan, maka masyarakat sipil memandang perlu untuk menyusun agenda dalam rangka penganangan dampak dari gempa yang terjadi.
Dalam perkembangannya, untuk merespon bencana yang terjadi, beberapa lembaga telah melaksanakan kegiatan dalam rangka membantu masyarakat untuk terlepas dari ancaman bencana ke tingkat yang lebih parah. Koalisi pembaruan agraria telah melakukan konsolidasi dengan KPA di empat propinsi (jambi, sumut, bengkulu dan Riau), Greenpeace telah melakukan suport terhadap terhadap Riau. WALHI telah melakukan konsolidasi dengan semua Eksekutif daerah untuk melakukan penggalangan, serta menginisiasi terbentuknya posko masyarakat sipil di jambi, bengkulu, Sumatera barat, sumatera Barat dan pekan baru. Selain itu ditingkat nasional, WALHI juga telah membentuk posko nasiona dan telah melakukan suport awal terhadap posko di tiap-tiap wilayah ini untuk melakukan kerja-kerja kerelawanan. Sementara lembaga lain telah melakukan komunikasi awal dengan jaringan baik ditingkat nasioanal, daerah dan international.
Guna mengintegrasikan semua pekerjaan yang sudah dilaksanakan, dalam rangka optimalisasi hasil kerja yang dilakukan, maka dipandang perlu untuk menyusun agenda secara bersama-sama dalam bentuk forum bersama. Hasil pertemuan ini sendiri berhasil merumuskan beberapa kesepakatan yang akan menjadi panduan dalam menjalankan agenda-agenda pembantuan terhadap korban gempa yang terjadi di dua propinsi tersebut. Hasil dari pertemuan tersebut adalah :
1. Telah di bentuk Posko bersama dengan nama: Posko penanggulangan Bencana Masyarakat sipil.
2. Gugus utama: melakukan penanganan pada massa tanggap darurat dengan kegiatan utama
a. melakukan Penggalangan relawan yang akan di berangkatkan untuk melakukan pertolongan terhadap korban bencana gempa di Sumatera barat dan Jambib. Melakukan penggalangan logistik dengan cara melakukan konsolidasi dengan lembaga dan perorangan yang mempunyai kemampuan dalam rangka distribusi logistikc. Melakukan pendataan secara cepat dengan melibatkan posko wilayah ( jambi, Bengkulu, Riau, Medan dan Sumatera barat yang sudah terbentuk.
d. Melakukan dokumentasi dan desiminasi informasi sebagai informasi publik dan basis argumentasi dalam melakukan pembantuan ditingkat lanjut
e. Melakukan penggalangan sumber dana yang akan mendukung aktivitas penanganan yang akan dilaksanakan.
3. Alamat: Jl. Tegal parang utara No.14 Jakarta Selatan. Tlpn. 021-7941672
4. Akun bank : No Rekening Mandiri 0700004009002, Atas nama Yayasan WALHI, Swift Code : BEIIIDJA
Untuk mengoperisonalkan hal tersebut, telah dibangun struktur sebagai berikut:
I. Tim Pengarah:
1. Berry Nahdian Forqan ( Walhi ), Hp; 08125110979. Email ; berry.nforqan@gmail.com
2. Fransiska Fitri (YAPPIKA), Hp;0818202815, Email ; ika@yappika.or.id
3. Usep Setiawan (KPA), Hp;0808613667, Email ; usepsetia@yahoo.com
| NO | struktur | Pelaksana | Organisasi | kontak |
| 1 | Koordinator | Ali Akbar | WALHI | Hp :0811735962 Email: boengbklu@gmail.com |
| 2 | Koord Relawan | Rully | SPI | Hp 0815851380 Email :ruli@spi.or.id |
| 3 | Koord Pusat Informasi | Dadang Sudarja | SHI | HP: 08193122035 Email: uwa_dadang@yahoo.co.id |
| 4 | Koord Logistik dan distribusi | Ferdinand | WALHI | Hp 0856107423 Email: dinand2@gmail.com |
| 5 | Penggalangan dana | : Nurhidayati | Greenpeace | Hp 08129972642 Email: nur.hidayati@greenpeace.org |
Guna mengoptimalkan kerja-kerja posko pengangan bencana masyarakat sipil, maka posko-posko yang sudah di bangun sebelumnya menjadi focal point. Posko yang sudah dibentuk dan sedang melaksanakan penanganan bencana adalah:
Posko Sumatera Utara:Kontak person: Syahrul Isman
Alamat: Jl. Sei Serapuh No.20, Kel.Medan Baru Medan – Sumatera Utara 20154
hp : 0813-86672188, t/f : 061-4579002 e-mail: sagala_is@yahoo.co.id
Posko Sumatera barat : Kontak: Khalid Saifullah
Alamat: Jl. Beringin III No. 9 Padang – Sumatera Barat
hp : 081363482946, t/f : 0751-7054673, 7050883, e-mail: ipul_padang@yahoo.com
Posko jambi:Kontak: Arief Munandar
Alamat: Jl. T. Sulaiman Lorong Setiabudi No. 41 Rt 27/09 Kel. Tambak Sari - Jambi
Hp : 0812-74375845, t/f :0741 26672 / 0741-25304, e-mail: arifwalhi@gmail.com
Posko Riau Kontak:Hariansyah Usman/ Kaka
Alamat: Jln. Arjuna no.22 , Labuh Baru Pekanbaru
Telp : 0761-62169, hp : 0812-76699967, e-mail: tikoe@yahoo.com
Posko Bengkulu Kontak: Zenzi Suhadi
Alamat: Jl. Hibrida 2 No.15 RT.08/02 Kel. Sidomulyo, Gading Cempaka Kota Bengkulu
hp : 0813-77600607, T/F :0736- 345656, e-mail: zenzi_anggrekbkl@yahoo.co.id
MASYARAKAT PENANGGULANGAN BENCANA INDONESIA INDONESIAN SOCIETY FOR DISASTER MANAGEMENT
MASYARAKAT PENANGGULANGAN BENCANA INDONESIA
INDONESIAN SOCIETY FOR DISASTER MANAGEMENT
Sekretariat: Jl. Kebon Sirih No. 5 G Jakarta 10340 - Indonesia
Tel/Fax: +62-21-3147321 / 3103535 Email: info@mpbi.org Website: http://www.mpbi.org
HIMBAUAN
MASYARAKAT PENANGGULANGAN BENCANA INDONESIA (MPBI)
ATAS
BENCANA GEMPA BUMI DI RANAH MINANG
1. Mendesak kepada Pemerintah untuk menetapkan bencana gempa bumi ini sebagai BENCANA NASIONAL.
2. Mendorong Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengambil langkah-langkah cepat sesuai yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
3. Mendesak Kementerian dan Lembaga yang terkait dengan penanggulangan bencana segera melakukan tindakan tanggap darurat sesuai dengan Standard Operating Procedures (SOP) yang telah ditetapkan sesuai dengan tugas`pokok dan fungsi masing-masing.
4. Mendorong Pemerintah dan DPR RI untuk segera menyetujui penggunaan dana on call (siap pakai) guna percepatan tanggap darurat.
5. Mengajak seluruh komponen masyarakat untuk mengerahkan segala sumberdaya dalam melakukan evakuasi korban dan penyaluran bantuan.
6. Mengharapkan kepada kepada NGO internasional serta seluruh komunitas penggiat penanggulangan bencana untuk bahu membahu menggalang kepedulian dan solidaritas kemanusiaan bagi masyarakat korban bencana di Sumatera Barat dan sekitarnya.
7. Mendesak diimplementaskan standar pelayanan minimum (SPM) nasional dan internasional bagi korban bencana dan terpenuhinya hak-hak dasar korban bencana.
Demikian pernyataan sikap ini disampaikan dengan harapan untuk ditindaklanjuti oleh seluruh pemangku kepentingan penanggulangan bencana.
Sekretaris Jenderal MPBI
Faisal Djalal
01 Oktober 2009
Tingkat Kesiapsiagaan Masyarakat di Pedesaan Kabupaten Aceh Besar, Kota Bengkulu dan Padang
Artikel ini mengemukakan ringkasan hasil kajian tingkat kesiapsiagaan masyarakat di tiga lokasi. Kajian ini menggunakan paket instrumen lengkap, yaitu kuesioner, pedoman wawancara dan panduan FGD dan workshop. Untuk mendapatkan pemahaman yang lengkap, maka pada bagian awal akan diulas profil singkat masing-masing lokasi.
Pedesaan di Kabupaten Aceh Besar
Di Kabupaten Aceh Besar, kajian dilakukan di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Leupung, khususnya di Desa Dayah Mamplam dan Pulot, dan Kecamatan Pulo Aceh di Desa Gugop dan Ulee Paya yang terletak di Pulau Breuh. Survei dilakukan pada responden sebanyak 205 rumah tangga dan 60 komunitas sekolah.
Profil Lokasi
Secara fisiografis Desa Dayah Mamplam dan Pulot di Kecamatan Leupung, serta Desa Gugop dan Ulee Paya di Kecamatan Pulau Aceh terletak di kawasan pantai barat Aceh yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Desa-desa ini secara umum batuannya dibentuk oleh endapan aluvial yang terdiri dari material pasir, lempung dan lanau yang bersifat lunak dan belum mengalami pengerasan. Sedang perbukitan yang membatasi dataran pantai umumnya dibentuk oleh batuan yang lebih keras, yaitu batugamping/batu kapur, batuan beku berupa lava dan breksi gunung api serta batu pasir. Kawasan ini termasuk yang paling parah akibat terkena bencana gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004. Hal ini dikarenakan jaraknya paling dekat dengan sumber/pusat gempa yang disusul dengan gelombang tsunami.
Secara geologis daerah kajian sangat rawan terhadap bencana gempa dan tsunami, antara lain dipengaruhi oleh:
- Adanya gempa-gempa disebabkan pergerakan yang saling bertemu antara lempeng samudera Hindia dan lempeng Asia yang terdapat di bagian barat (Samudra Hindia).
- Adanya gempa-gempa yang disebabkan oleh pergerakan patahan aktif Sumatera segmen Aceh yang melalui sekitar Banda Aceh.
Topografi Desa Dayah Mamplam, Pulot, Gugop dan Ulee Paya relatif datar dengan sudut lereng 0 – 5o . Di bagian timur dataran pantai di Desa Dayah Mamplam dan Desa Matai dibatasi oleh perbukitan yang curam dan terjal yang dibentuk oleh batugamping/batukapur. Kondisi perbukitan batu kapur tesebut sangat curam dan membentuk tonjolan-tonjolan dengan sudut lereng berkisar antara 60 – 80o, sehingga menjadi salah satu penghalang bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri. Kondisi berbeda dijumpai di Desa Pulot, topografi perbukitannya relatif lebih landai dengan sudut lereng 25 – 45o dan disusun oleh batu pasir yang lebih lunak, sehingga memudahkan penduduk dalam mencapai perbukitan.
Akibat erosi dan gerusan gelombang tsunami, terjadi pengurangan kawasan daratan sekitar 100 – 300 m, karena masuknya air laut ke arah daratan. Bekas jalan raya dan beberapa sisa pohon kelapa yang sebelumnya didaratan (tepi pantai), kini tertutup air laut. Genangan air membentuk rawa pada dataran pantai ini. Tingkat kerawanan daerah ini meningkat akibat abrasi pantai dan angin yang sangat kencang, karena kawasan pantai kini terbuka, bebas dari pohon penghalang.
Banyaknya korban jiwa akibat bencana tsunami 26 Desember 2004, menyebabkan perubahan demografi di kedua lokasi kajian. Jumlah penduduk di Kecamatan Leupung menurun tajam, yaitu sekitar 70 persen selama 2003-2006. Rasio jenis kelamin meningkat dari 96 menjadi 131, yang menandakan perempuan jauh lebih banyak menjadi korban daripada laki-laki. Kepadatan penduduk di lokasi ini juga menurun tajam dari 104 menjadi hanya 34 jiwa per km2. Desa Dayah Mamplam paling banyak kehilangan penduduk, kini tinggal 557 jiwa atau 12 persen. Sebaliknya, sebagian besar penduduk Desa Plot (83 persen) selamat dari bencana tsunami. Selama 2003-2006, jumlah penduduk Kecamatan Pulo Aceh juga menurun sekitar 28 persen, rasio jenis kelamin meningkat dari 101 menjadi 120, ditandai dengan berkurangnya jumlah penduduk perempuan (32 persen) dan laki-laki sekitar 60 persen. Sedangkan Ulee Paya merupakan desa dengan korban jiwa terkecil (kurang dari 10 jiwa).
Desa Gugop mengalami korban jiwa dan kerugian harta yang cukup besar, akibat tidak dapat mengamati gejala terjadi tsunami usai gempa besar terjadi, seperti air laut surut. Masyarakat tidak mengetahui datangnya gelombang tsunami, meskipun tanah perbukitan relatif dekat dengan permukiman. Sebaliknya untuk Desa Ulee Paya, posisinya yang terhalang oleh bukit Desa Seurapong, menyebabkan gelombang tsunami agak tertahan melanda desa, sehingga sebagian besar penduduknya sempat menyelamatkan diri ke perbukitan, ditambah lagi peringatan dari masyarakat desa tetangga yang masih selamat dan berlari ke arah Desa Ulee Paya tersebut.
Keadaan pendidikan di lokasi kajian umumnya relatif rendah dimana lebih dari separuh penduduk berpendidikan SD dan khusus Desa Gugop, penduduk dengan pendidikan SMA jumlahnya relatif rendah. Kondisi pendidikan di Leupung relatif lebih baik dibandingkan Pulo Aceh, meskipun sampai sekarang, lokasi sekolah masih sama-sama menempati barak pengungsian. Dua lokasi kajian di Pulo Aceh hanya memiliki 1 unit SD dan SMP darurat, sementara di Leupung selain SD dan SMP, juga memiliki 1 unit SMA darurat. Rendahnya tingkat pendidikan terutama di Pulo Aceh, selain karena faktor ekonomi juga disebabkan oleh terbatasnya fasilitas dan aksesibilitas untuk dapat melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi. Keterbatasan sarana dan prasarana publik di daerah yang relatif terisolir ini, mempengaruhi aktivitas tenaga pendidik ke daerah ini, yang semakin tidak kondusif setelah bencana. Ketimpangan terjadi pada rasio guru dan siswa, yaitu di Leupung rasio mencapai 1 : 3, dan di Pulo Aceh 1 : 14. Demikian pula lokasi kedua desa kajian di Kecamatan Leupung mempunyai jarak dan aksesibilitas yang lebih baik ke Banda Aceh. Tahap rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas publik lainnya di Leupung relatif lebih cepat dibandingkan dengan Pulo Aceh.
Lokasi kajian di Pulo Aceh dan Leupung pada umumnya dekat dengan laut dan memiliki lahan di perbukitan yang cukup luas, sehingga memungkinkan penduduk mempunyai dua mata pencaharian sebagai nelayan dan petani. Sebelum tsunami terdapat beragam jenis tanaman pertanian di daerah tersebut, antara lain: padi, kopi, cengkeh, kina dan kelapa. Setelah tsunami, lahan untuk tanaman pangan belum dapat dimanfaatkan secara optimal, karena banyak tertimbun lumpur tsunami. Tanaman lain yang sangat terpengaruh oleh bencana tsunami adalah kelapa, karena banyak yang musnah, sehingga angin semakin kencang dari laut. Tanaman keras lain (pinang, kopi dan cengkeh) tidak terpengaruh oleh tsunami karena lokasi penanamannya di daerah perbukitan yang relatif tinggi. Hambatan utama perekonomian di Pulo Aceh adalah pemasaran hasil pertanian, sehingga potensi pertanian di daerah ini belum dikelola secara optimal.
Penduduk di kedua lokasi di Kecamatan Leupung mempunyai mata pencaharian utama sebagai nelayan dengan hasil laut yang menonjol adalah ikan teri. Pemasaran hasil lebih lancar karena diangkut langsung dari dermaga Leupung ke Banda Aceh. Sebagai nelayan, pekerjaan penduduk sangat terpengaruh oleh bencana tsunami, karena prasarana dermaga hancur dan semua sarana peralatan tangkap (bagan) musnah. Merosotnya hasil di sektor pertanian, juga berimbas pada merosotnya volume perdagangan, terutama ikan segar dan kering.
Akibat erosi dan gerusan gelombang tsunami, terjadi pengurangan kawasan daratan sekitar 100 – 300 m, karena masuknya air laut ke arah daratan. Bekas jalan raya dan beberapa sisa pohon kelapa yang sebelumnya didaratan (tepi pantai), kini tertutup air laut. Genangan air membentuk rawa pada dataran pantai ini. Tingkat kerawanan daerah ini meningkat akibat abrasi pantai dan angin yang sangat kencang, karena kawasan pantai kini terbuka, bebas dari pohon penghalang.
Banyaknya korban jiwa akibat bencana tsunami 26 Desember 2004, menyebabkan perubahan demografi di kedua lokasi kajian. Jumlah penduduk di Kecamatan Leupung menurun tajam, yaitu sekitar 70 persen selama 2003-2006. Rasio jenis kelamin meningkat dari 96 menjadi 131, yang menandakan perempuan jauh lebih banyak menjadi korban daripada laki-laki. Kepadatan penduduk di lokasi ini juga menurun tajam dari 104 menjadi hanya 34 jiwa per km2. Desa Dayah Mamplam paling banyak kehilangan penduduk, kini tinggal 557 jiwa atau 12 persen. Sebaliknya, sebagian besar penduduk Desa Plot (83 persen) selamat dari bencana tsunami. Selama 2003-2006, jumlah penduduk Kecamatan Pulo Aceh juga menurun sekitar 28 persen, rasio jenis kelamin meningkat dari 101 menjadi 120, ditandai dengan berkurangnya jumlah penduduk perempuan (32 persen) dan laki-laki sekitar 60 persen. Sedangkan Ulee Paya merupakan desa dengan korban jiwa terkecil (kurang dari 10 jiwa).
Desa Gugop mengalami korban jiwa dan kerugian harta yang cukup besar, akibat tidak dapat mengamati gejala terjadi tsunami usai gempa besar terjadi, seperti air laut surut. Masyarakat tidak mengetahui datangnya gelombang tsunami, meskipun tanah perbukitan relatif dekat dengan permukiman. Sebaliknya untuk Desa Ulee Paya, posisinya yang terhalang oleh bukit Desa Seurapong, menyebabkan gelombang tsunami agak tertahan melanda desa, sehingga sebagian besar penduduknya sempat menyelamatkan diri ke perbukitan, ditambah lagi peringatan dari masyarakat desa tetangga yang masih selamat dan berlari ke arah Desa Ulee Paya tersebut.
Keadaan pendidikan di lokasi kajian umumnya relatif rendah dimana lebih dari separuh penduduk berpendidikan SD dan khusus Desa Gugop, penduduk dengan pendidikan SMA jumlahnya relatif rendah. Kondisi pendidikan di Leupung relatif lebih baik dibandingkan Pulo Aceh, meskipun sampai sekarang, lokasi sekolah masih sama-sama menempati barak pengungsian. Dua lokasi kajian di Pulo Aceh hanya memiliki 1 unit SD dan SMP darurat, sementara di Leupung selain SD dan SMP, juga memiliki 1 unit SMA darurat. Rendahnya tingkat pendidikan terutama di Pulo Aceh, selain karena faktor ekonomi juga disebabkan oleh terbatasnya fasilitas dan aksesibilitas untuk dapat melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi. Keterbatasan sarana dan prasarana publik di daerah yang relatif terisolir ini, mempengaruhi aktivitas tenaga pendidik ke daerah ini, yang semakin tidak kondusif setelah bencana. Ketimpangan terjadi pada rasio guru dan siswa, yaitu di Leupung rasio mencapai 1 : 3, dan di Pulo Aceh 1 : 14. Demikian pula lokasi kedua desa kajian di Kecamatan Leupung mempunyai jarak dan aksesibilitas yang lebih baik ke Banda Aceh. Tahap rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas publik lainnya di Leupung relatif lebih cepat dibandingkan dengan Pulo Aceh.
Lokasi kajian di Pulo Aceh dan Leupung pada umumnya dekat dengan laut dan memiliki lahan di perbukitan yang cukup luas, sehingga memungkinkan penduduk mempunyai dua mata pencaharian sebagai nelayan dan petani. Sebelum tsunami terdapat beragam jenis tanaman pertanian di daerah tersebut, antara lain: padi, kopi, cengkeh, kina dan kelapa. Setelah tsunami, lahan untuk tanaman pangan belum dapat dimanfaatkan secara optimal, karena banyak tertimbun lumpur tsunami. Tanaman lain yang sangat terpengaruh oleh bencana tsunami adalah kelapa, karena banyak yang musnah, sehingga angin semakin kencang dari laut. Tanaman keras lain (pinang, kopi dan cengkeh) tidak terpengaruh oleh tsunami karena lokasi penanamannya di daerah perbukitan yang relatif tinggi. Hambatan utama perekonomian di Pulo Aceh adalah pemasaran hasil pertanian, sehingga potensi pertanian di daerah ini belum dikelola secara optimal.
Penduduk di kedua lokasi di Kecamatan Leupung mempunyai mata pencaharian utama sebagai nelayan dengan hasil laut yang menonjol adalah ikan teri. Pemasaran hasil lebih lancar karena diangkut langsung dari dermaga Leupung ke Banda Aceh. Sebagai nelayan, pekerjaan penduduk sangat terpengaruh oleh bencana tsunami, karena prasarana dermaga hancur dan semua sarana peralatan tangkap (bagan) musnah. Merosotnya hasil di sektor pertanian, juga berimbas pada merosotnya volume perdagangan, terutama ikan segar dan kering.
Tingkat Kesiapsiagaan Masyarakat dalam Mengantisipasi Bencana
ges/grafik-kesiapan-aceh.gifHasil survei untuk ketiga komunitas yaitu rumah tangga, sekolah dan pemerintah menjadi dasar perhitungan indeks kesiapsiagaan setiap kelompok komunitas. Indeks pada setiap komunitas merupakan gabungan indeks dari kelima parameter kesiapsiagaan yaitu : 1) pengetahuan dan sikap (KA); 2) kebijakan (PS); 3) rencana tanggap darurat (EP); 4) sistem peringatan bencana (WS); dan 5) mobilisasi sumberdaya (RMC). Dari hasil perhitungan indeks kumulatif dengan memperhatikan bobot nilai masing-masing komunitas, tingkat kesiapsiagaan masyarakat pedesaan Aceh hanya mencapai nilai indeks 52, yang berarti secara keseluruhan daerah tersebut dalam keadaan kurang siap mengantisipasi bencana (lihat grafik 1.).
Dilihat dari indeks masing-masing komunitas, tingkat kesiapsiagaan tertinggi terdapat pada rumah tangga (RT) dengan nilai indeks 57 atau hampir siap, diikuti dengan nilai indeks komunitas sekolah (50) dan pemerintah kecamatan (48). Kedua komunitas tersebut termasuk dalam keadaan kurang siap mengantisipasi bencana.
Pengaruh paling besar dalam perhitungan tingkat kesiapsiagaan masyarakat perdesaan Aceh adalah tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat (KA) yang dinilai cukup baik untuk individu/rumah tangga dan sekolah, sehingga nilai indeks pengetahuan rumah tangga sebesar 72 dan sekolah sebesar 68 yang dapat dikategorikan siap (lihat tabel 1). Hal ini berarti masyarakat cukup memahami bencana dan mengetahui tindakan yang harus dilakukan, apabila terjadi bencana gempa atau tsunami. Kesiapan masyarakat terutama dipengaruhi oleh pengalaman pribadi menghadapi bencana gempa dan tsunami, ditambah dengan pengetahuan yang berasal dari pelajaran sekolah atau sumber lainnya yang banyak diperoleh masyarakat setelah terjadi bencana nasional tersebut.
Namun demikian melihat relatif rendahnya angka indeks parameter lainnya menunjukkan bahwa pengetahuan yang dimiliki masyarakat belum diikuti dengan kesiapsiagaan dalam kebijakan, rencana untuk keadaan darurat, sistim peringatan dini bencana, maupun mobilisasi sumber daya yang cukup, sehingga kurang mendukung kesiapsiagaan masyarakat pedesaan Aceh pada umumnya. Hal ini terutama disebabkan prioritas masyarakat Aceh pada saat ini adalah melakukan pemulihan kondisi agar cepat menjadi normal kembali, terutama berkaitan dengan kebutuhan dasar masyarakat, seperti: perumahan, pendidikan dan kesehatan.
Tabel 1.
Nilai Indeks Kesiapsiagaan Stakeholders Utama
Pedesaan Kabupaten Aceh Besar dalam Mengantisipasi Bencana
| Indeks Parameter
| Rumah Tangga | Komunitas Sekolah | Pemerintah Kecamatan |
| Pengetahuan | 72 | 68 | - |
| Kebijakan | - | 10 | 50 |
| Rencana Tanggap Darurat | 53 | 39 | 50 |
| Sistim Peringatan Bencana | 45 | 44 | 50 |
| Kemampuan Memobilisasi Sumber Daya | 25 | 33 | 0 |
| Indeks Gabungan
| 57 | 50 | 48 |
Sumber: Kajian Kesiapsiagaan Masyarakat dalam Mengantisipasi Bencana, LIPI – UNESCO/ISDR, 2006
Sangat rendahnya kesiapsiagaan sekolah untuk kebijakan (nilai indeks 10), menunjukkan hampir tidak ada kebijakan dan arahan dari instansi terkait untuk melakukan kesiapsiagaan di sekolah. Padahal pengalaman di satu lokasi kajian (Desa Ulee Paya) menunjukan bahwa peran guru dalam menyelamatkan anak didik cukup besar ketika terjadi bencana. Sedangkan rendahnya indeks mobilisasi sumber daya pada kedua komunitas (di bawah 40) menunjukan bahwa masyarakat belum siap memobilisasi sumber daya untuk kesiapsiagaan mengantisipasi bencana. Hal ini dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat yang masih serba darurat dan masih tinggal di barak pengungsian, sehingga masih tergantung pada pihak lain.
Rendahnya indeks kesiapsiagaan pemerintah kecamatan (48) mengantisipasi bencana juga menunjukan kurang siapnya pemerintah daerah dalam mengantisipasi bencana. Hal ini dipengaruhi oleh minimnya jumlah aparat yang mengisi angket, serta tidak terungkapnya pengetahuan dan mobilisasi sumber daya dalam jawaban responden. Namun beberapa faktor seperti SDM aparat yang relatif baru dan jumlahnya sangat terbatas serta rendahnya peran pemerintah kecamatan dalam aktivitas pemulihan daerahnya, turut mempengaruhi hasil kesiapsiagaan pemerintah kecamatan.
Keterbatasan fasilitas hidup yang dimiliki masyarakat, menyebabkan sangat sedikit masyarakat yang memperhatikan rencana tanggap darurat, seperti kebutuhan untuk menyiapkan kelengkapan kesehatan, makan dan kebutuhan penting lainnya. Kemampuan mereka hanya terbatas untuk merencanakan hal-hal yang secara alami tersedia, atau tidak memerlukan biaya dan tenaga yang besar dalam menyediakannya seperti tempat pengungsian dan nomor telpon penting. Namun perencanaan tanggap darurat tersebut memerlukan kelengkapan sarana dan prasarana, yang tidak mungkin direalisasikan, tanpa bantuan pihak lain.
Indeks sistem peringatan dini menunjukan bahwa masyarakat masih kurang siap, baik dalam penyediaan sistem peringatan, maupun respons jika mendengar tanda peringatan tersebut. Sampai sekarang, sistem peringatan terhadap bencana tsunami belum tersedia di lokasi kajian, meskipun keterlambatan mengetahui adanya bencana, telah banyak menyebabkan korban jiwa di daerahnya. Selama ini masyarakat tidak menyadari bahwa daerahnya rawan bencana, sampai bencana tsunami memusnahkan semuanya. Karena keawaman masyarakat dalam hal bencana, maka satu-satunya peringatan yang dimiliki oleh sebagian komunitas adalah gerak reflek (alami) untuk melarikan diri ke tempat yang dianggap aman. Pengalaman bencana semakin menyadarkan masyarakat tentang perlunya sistem peringatan bencana yang dapat dijadikan panduan dalam mengurangi resiko bencana.
Dalam membangun pengetahuan dan sikap masyarakat, beberapa NGO memiliki potensi peran yang cukup besar untuk memfasilitasi kebutuhan pendidikan di tingkat desa dan sekolah di Aceh. International Federation Red Cross dan Red Crescent (IFRC), yang berkantor di Banda Aceh, memiliki ICBRR (Integrated Community Based Risk Reduction) dengan sasaran 64 desa di wilayah Aceh dan Nias. Meskipun, organisasi AIPRD-AusAID memiliki program yang mendukung peningkatan kapasitas kecamatan dan perencanaan desa berbasis masyarakat, namun belum terlihat adanya perhatian khusus terhadap upaya mengurangi resiko bencana maupun dukungan terhadap kesiapsiagaan masyarakat untuk mengantisipasi bencana. French Red Cross dan IFRC juga memiliki program khusus untuk sistem peringatan dini namun masih dititikberatkan pada pembangunan kapasitas staf PMI Aceh Besar serta kabupaten lainnya. Sampai sekarang belum ada bentuk program khusus NGO bagi masyarakat dalam membangun sistem peringatan bencana tingkat desa. Namun demikian, British Red Cross Society (BRCS) dalam aktivitasnya membangun perumahan penduduk di Desa Pulo Aceh, telah mengikutsertakan masyarakat dalam perencanaan peta perumahan, termasuk rencana membuatkan jalur evakuasi, serta pondok di titik tujuan evakuasi, yang dapat menyimpan cadangan kebutuhan penduduk dalam keadaan darurat. Demikian pula pemberian materi dan pemahaman kepada masyarakat desa sudah mulai dilakukan, meskipun belum optimal.
Berdasarkan pemahaman IFRC dan BRC tersebut, dapat disimpulkan bahwa kedua organisasi non pemerintah ini siap dalam mendukung pengetahuan masyarakat desa di Leupung dan Pulo Aceh. Kedua lembaga ini juga hampir siap dalam mendukung rencana tanggap darurat Desa Pulo Aceh. Sudah ada proses perencanaan desa dan pendampingan dalam tahap awal.
Untuk dukungan rencana tanggap darurat dan mobilisasi sumber daya, belum ada aktivitas konkrit, karenanya dapat dikatakan belum siap. Untuk aktivitas organisasi potensial mendukung kesiapsiagaan bencana seperti AIPRD-AusAID dan NGO lain yang bekerja di Pulo Aceh, pada umumnya tingkat dukungan lembaga tersebut dapat dikatakan belum siap secara keseluruhan.
Dukungan mereka saat ini diprioritaskan pada kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan masyarakat dan fasilitas publik lainnya yang tidak berkaitan langsung dengan kesiapsiagaan masyarakat dalam mengantisipasi bencana.
Kota Bengkulu
Kajian di Kota Bengkulu mencakup lima kecamatan, yaitu: Muara Bangka Hulu, Selebar, Kampung Melayu, Ratu Agung dan Gading Cempaka. Sebagai wakil kota menengah, jumlah responden untuk kegiatan survei/angket di Kota Bengkulu lebih banyak dari responden di pedesaan Aceh Besar, yaitu berjumlah 2000 responden yang terdiri dari: 1400 rumah tangga, 460 siswa, 100 guru dan 40 aparat pemerintah.
Profil Kota Bengkulu
Kota Bengkulu mempunyai bentang alam perbukitan yang bergelombang memanjang sejajar pantai dengan variasi ketinggian mulai dari 0-5 meter sampai di atas 20 meter dpl. Dibeberapa tempat terdapat tinggian dengan kedalaman sampai -5 meter dpl atau -10 meter dpl yang ditempati oleh batuan karang, seperti: Pulau Tikus atau Pulau Karang Lebar. Kota ini dibatasi oleh dataran pantai landai berbentuk tanjung dan teluk di sisi barat, daerah rendah berawa atau danau dan perbukitan di sisi timur dan selatan. Secara fisik Kota Bengkulu disusun oleh batuan lava andesit yang di atasnya ditutupi endapan breksi gunung api, batu lempung, batu apung, endapan rawa dan batuan alluvium.
Dengan kondisi alam tersebut, Kota Bengkulu rentan terhadap bahaya alam, seperti: gempa bumi, tanah retak dan amblas, abrasi, longsor, banjir, dan badai laut, sedangkan bahaya tsunami belum pernah tercatat dalam kondisi aktual. Gempa bumi seringkali melanda Bengkulu. Pada tanggal 4 Juni 2000 gempa bumi dengan kekuatan 7,9Mw menimbulkan bencana paling besar yang dirasakan penduduk kota ini. Berdasarkan catatan sejarah, bencana gempa juga pernah terjadi pada tahun 1833 (9Mw), 1914 (?Mw), 1940 (7Mw) dan 1980 (8Mw). Bencana gempa menyebabkan kerusakan bangunan di Kota Bengkulu. Hal ini berkaitan erat dengan kualitas bangunan yang tidak memenuhi syarat tahan gempa serta oleh amblasan dan retakan tanah yang disebut sebagai ‘urat gempa” oleh penduduk. Amblasan maupun retakan adalah gejala alam yang disebut sebagai ‘liquifaction” atau peluluhan, terutama terjadi pada batuan pasir-lanau lepas.
Kejadian alam yang juga sering melanda Kota Bengkulu adalah banjir pada musim hujan, terutama di sepanjang aliran Sungai Bengkulu. Daerah rawan bencana banjir antara lain adalah Tanjung Agung, Tanjung Jaya, Semarang dan Surabaya. Banjir diperkotaan sering diakibatkan oleh tersumbatnya saluran pembuangan (siring), akibat hujan besar dalam waktu yang lama dan pasang air laut yang naik sampai wilayah daratan.
Kota Bengkulu dihuni 288 ribu orang pada tahun 2005, atau meningkat 2,1 persen dari tahun 2000. Pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi ini dipengaruhi oleh migrasi berbagai suku, seperti: Minangkabau, Jawa, Sunda dan Batak (Bappeda Pemkot Bengkulu, 2005). Penduduk laki-laki dan perempuan jumlahnya berimbang dengan perbandingan 100,2 : 99,8 pada tahun 2004. Sebanyak 55 persen penduduk termasuk dalam kelompok umur dewasa, hanya sebagian kecil (13 persen) yang berumur 0-6 tahun dan lansia (3 persen). Dengan demikian, beban tanggungan antara kelompok yang perlu pertolongan dengan ’yang secara teoritis’ mampu menolong (13 – 55 tahun) sekitar 23 persen. Pada tahun 2005 kepadatan penduduk kota ini adalah 1992 orang/ km². Dilihat dari penyebaran penduduk, sebagian kecil bertempat tinggal dekat pantai (rawan tsunami) dan sebagian besar di daratan yang letaknya relatif jauh dari pantai, lebih aman dari bahaya tsunami tetapi masih rentan terhadap bahaya gempa bumi.
Sesuai dengan ciri wilayah perkotaan, mata pencaharian penduduk yang paling menonjol adalah di sektor jasa (37 persen), seperti pegawai negeri, swasta dan buruh, dan perdagangan (27 persen) (BPS dan Bappeda Kota Bengkulu, 2005). Mata pencaharian tersebut berpengaruh terhadap kondisi ekonomi penduduk yang sebagian besar relatif baik. Kondisi ini diindikasikan dari data BKKBN Kota Bengkulu tahun 2004 yang menunjukkan bahwa hanya 2 persen penduduk termasuk keluarga Pra Sejahtera (miskin sekali) dan 35 persen termasuk klasifikasi keluarga Sejahtera 1 (miskin).
Kondisi ekonomi penduduk Kota Bengkulu berkaitan erat dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang cukup baik. Menurut data tahun 2004, sebagian besar penduduk (65 persen) yang berusia 15 tahun ke atas, memiliki latar belakang pendidikan cukup tinggi, yaitu SMA ke atas. Hanya sebagian kecil yang memiliki pendidikan rendah atau SLTP ke bawah. Kondisi ini merupakan salah satu potensi yang cukup baik untuk mengembangkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam di kota ini. Dengan pendidikan yang relatif tinggi diharapkan sosialisasi usaha kesiapsiagaan menjadi lebih mudah diterima bagi sebagian besar penduduk Kota Bengkulu.
Tingkat Kesiapsiagaan dalam Mengantisipasi Bencana
Hasil kajian menggambarkan bahwa Kota Bengkulu termasuk dalam kategori kurang siap untuk mengantisipasi bencana alam, diindikasikan dari nilai indeks yang hanya mencapai angka 51 dari indeks maksimal sebesar 100. Gambaran kurangnya kesiapsiagaan ini berasal dari semua setakeholders utama, yaitu: individu dan rumah tangga, komunitas sekolah dan pemerintah ((lihat grafik 2).
Nilai indeks kesiapsiagaan pemerintah menduduki posisi tertinggi, sedangkan rumah tangga, yang merupakan cerminan dari masyarakat Kota Bengkulu, nilai indeksnya berada diantara dua stakeholders lainnya. Hasil yang cukup mengagetkan adalah nilai indeks komunitas sekolah ternyata paling rendah.
Rendahnya nilai indeks kesiapsiagaan komunitas sekolah di Kota Bengkulu berkaitan dengan beberapa alasan. Dari lima parameter kesiapsiagaan bencana, tidak ada satu parameterpun yang masuk kategori siap, empat parameter (kebijakan, rencana tanggap darurat, peringatan bencana dan mobilisasi sumber daya) diklasifikasikan dalam kategori kurang Siap, hanya parameter pengetahuan saja yang termasuk kategori hampir siap (lihat tabel 2). Dari distribusi nilai indeks dapat diketahui bahwa institusi sekolah ternyata mempunyai nilai indeks kesiapsiagaan paling rendah (21), jika dibandingkan dengan indeks guru (58) dan siswa (69), keadaan ini berlaku untuk semua parameter.
Hasil kajian juga mengungkapkan bahwa komunitas sekolah, yang idealnya memiliki pengetahuan lebih tinggi karena merupakan sumber pengetahuan, ternyata mempunyai pengetahuan paling rendah diantara ke tiga stakeholderskota memiliki indeks pengetahuan tertinggi, sedangkan rumah tangga, nilai indeksnya berada diantara kedua stakeholders tersebut (lihat tabel 2). utama kesiapsiagaan masyarakat Kota Bengkulu. Sebaliknya, aparat pemerintah
Tabel 2
Nilai Indeks Kesiapsiagaan Stakeholders Utama Kota Bengkulu dalam Mengantisipasi Bencana
| Indeks Parameter
| Rumah Tangga | Komunitas Sekolah | Pemerintah |
| Pengetahuan | 69 | 64 | 80 |
| Kebijakan | - | 11 | 40 |
| Rencana Tanggap Darurat | 38 | 40 | 52 |
| Sistim Peringatan Bencana | 56 | 45 | 38 |
| Kemampuan Memobilisasi Sumber Daya | 28 | 27 | 52 |
| Indeks Gabungan
| 51 | 48 | 54 |
Sumber: Kajian Kesiapsiagaan Masyarakat dalam Mengantisipasi Bencana, LIPI – UNESCO/ISDR, 2006
Kesiapsiagaan bencana belum menjadi prioritas kebijakan sekolah di Kota Bengkulu, digambarkan dari indeks yang sangat rendah, yaitu hanya mencapai angka 11. Hal ini berkaitan erat dengan kebijakan Dinas Pendidikan Nasional Kota Bengkulu yang masih menitik-beratkan pada pembangunan fisik bangunan sekolah. Minimnya kebijakan ini berimplikasi pada mobilisasi sumber daya sekolah dan rencana tanggap darurat di sekolah yang juga masih rendah.
Hasil yang juga cukup mengagetkan adalah kesiapsiagaan guru lebih rendah daripada siswa, dengan perbandingan nilai indeks 58 dan 69. Perbedaan angka indeks ini cukup besar, terutama terdapat pada mobilisasi sumber daya guru yang sangat rendah, hampir separuh (27:50) dari siswa. Indeks pengetahuan guru (60) juga lebih rendah dari siswa (71). Akses untuk meningkatkan kapasitas guru berkaitan dengan kesiapsiagaan bencana, seperti: mengikuti pelatihan, seminar dan pertemuan, masih sangat terbatas.
Gambaran kesiapsiagaan komunitas sekolah di atas mengindikasikan pentingnya peningkatan kepedulian dan kapasitas komunitas sekolah. Peningkatan kemampuan guru perlu mendapat perhatian serius, mengingat guru merupakan sumber pengetahuan dan mempunyai tanggung jawab yang besar dalam penyelamatan siswa apabila bencana terjadi pada saat jam belajar di sekolah. Upaya ini dapat dilakukan jika didukung oleh kebijakan pemerintah kota, Dinas Pendidikan dan sekolah untuk meningkatkan upaya sosialisasi dan pelatihan kepada para guru dan siswa serta menyediakan materi, alat peraga dan perlengkapan kesiapsiagaan bencana di sekolah. Upaya lain yang dapat dilakukan sekolah adalah meningkatkan kegiatan ekstra kurikuler (ekskul) yang berkaitan dengan kesiapsiagaan, seperti pertolongan pertama pada kegiatan UKS, dokter kecil dan PMR, penyelamatan/evakuasi, keterampilan tali temali dan pembuatan tenda pada kegiatan pramuka serta simulasi evakuasi melalui kegiatan olah raga.
Di Kota Bengkulu, pemerintah juga kurang siap dalam mengantisipasi bencana alam, meskipun nilai indeksnya paling tinggi (54). Meskipun tingkat pengetahuan pemerintah termasuk dalam kategori sangat siap (80), tetapi ke empat parameter kesiapsiagaan lainnya masih termasuk kategori kurang siap (lihat tabel 2). Jika ditelusuri lebih lanjut dari nilai indeks pemerintah, kontribusi terbesar berasal dari aparat pemerintah (72). Sebaliknya pemerintah kota yang idealnya bertanggung jawab terhadap kesiapsiagaan masyarakat, ternyata nilai indeksnya (45) menduduki posisi terendah, jika dibandingkan dengan nilai indeks aparat dan pemerintah kecamatan. Rendahnya indeks Pemerintah Kota Bengkulu ini berkaitan erat dengan belum adanya sistim peringatan bencana (25), dikarenakan masih menunggu sistim peringatan dari tingkat nasional.
Sebaliknya dengan pemerintah di tingkat kecamatan, dari lima kecamatan yang dikaji semua memiliki indeks peringatan bencana maksimal, masing-masing kecamatan mempunyai akses untuk mendapatkan informasi peringatan bencana. Selama ini, informasi bencana, seperti banjir, dilakukan dengan pendekatan bottom-up dari tingkat kelurahan meggunakan HP dan/atau HT. Informasi ini kemudian ditindak lanjuti dengan mengirimkan peringatan tersebut ke pemerintah Kota Bengkulu melalui walikota.
Analisa dalam kajian ini juga mengungkapkan ketergantungan Pemerintah Kota Bengkulu terhadap Pemerintah Provinsi Bengkulu cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat dari penentuan tempat-tempat evakuasi berasal dari rekomendasi Dinas ESDM Provinsi Bengkulu dan rencana pemenuhan kebutuhan dasar yang disiapkan oleh Dinas Sosial Provinsi Bengkulu. Kegiatan penyelamatan korban bencana mengandalkan SAR Pramuka Tingkat Provinsi Bengkulu dan Lanal, pelatihan penanggulangan bencana untuk satgana tergantung pada Departemen Sosial RI melalui Dinas Sosial Provinsi Bengkulu dan informasi bencana juga berasal dari jasa RAPI Tingkat Provinsi Bengkulu.
Dari tabel juga terungkap bahwa perencanaan untuk tanggap darurat pemerintah kota masih termasuk kategori kurang siap. Walaupun peta bahaya dan tempat-tempat evakuasi sudah disediakan oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu, tetapi pemerintah kota belum menindak lanjutinya dengan pembuatan peta-peta evakuasi, rambu-rambu tanda bahaya dan jalur evakuasi. Demikian juga dengan rencana aksi untuk pertolongan, penyelamatan dan pengamanan dalam keadaan darurat bencana juga belum tersedia.
Meskipun organisasi pengelola bencana Satlak PB telah dibentuk dengan SK Walikota, tetapi belum bekerja secara optimal, karena masih kurangnya sosialisasi dan belum adanya prosedur tetap (protap) yang mengatur pembagian tugas dan tanggung jawab masing-masing angggota dan rencana aksi kesiapsiagaan untuk mengantisipasi bencana. Sementara ini kegiatan satlak nampaknya masih terbatas pada level pimpinan instansi yang melakukan pertemuan pada saat terjadi bencana, misalnya banjir yang sering melanda Kota Bengkulu. Sedangkan operasional di lapangan, aparat pemerintah masih bekerja sendiri-sendiri sesuai dengan tupoksi instansinya masing-masing.
Rumah tangga yang mewakili masyarakat Kota Bengkulu memiliki indeks kesiapsiagaan sebesar 51 yang berarti bahwa masyarakat masih kurang siap dalam mengantisipasi terjadinya bencana alam. Nilai indeks rumah tangga ini didominasi oleh pengetahuan dasar tentang bencana yang sudah cukup baik (69), sehingga masuk dalam kategori Siap, meskipun dari hasil workshop dikemukakan bahwa pengetahuan masyarakat masih minim. Sedangkan kesiapsiagaan rumah tangga untuk rencana dalam keadaan darurat (38) dan mobilisasi sumber daya rumah tangga (28) masih rendah. Hal ini berkaitan erat dengan masih terbatasnya kepedulian akan pentingnya kesiapsiagaan, mengingat gempa dan banjir sudah dianggap masyarakat sebagai kejadian rutin di Kota Bengkulu. Karena itu meskipun pengetahuan dasar masyarakat tentang bencana gempa dan tsunami cukup memadai, tetapi pengetahuan tersebut belum ditindak lanjuti dengan upaya konkrit pembuatan rencana penyelamatan dan mobilisasi sumber daya untuk mengantisipasi terjadinya bencana.
Kurangnya kesiapsiagaan masyarakat Kota Bengkulu juga berkaitan dengan masih minimnya dukungan dari stakeholders pendukung. Meskipun di Kota Bengkulu terdapat banyak LSM, belum satupun LSM yang konsen dengan kesiapsiagaan masyarakat dalam mengantisipasi bencana. Hanya beberapa stakeholders pendukung di tingkat provinsi yang mempunyai kegiatan kesiapsiagaan, seperti SAR-Pramuka, RAPI dan PMI.
Gambaran mengenai kurangnya kesiapsiagaan rumah tangga, komunitas sekolah dan pemerintah Kota Bengkulu di atas perlu mendapat perhatian serius, mengingat kota Bengkulu rentan terhadap bencana. Peningkatan kepedulian akan pentingnya kesiapsiagaan menjadi sangat penting, karena sebagian stakeholders menganggap bahwa gempa dan banjir merupakan kejadian alam yang rutin terjadi di Kota Bengkulu, sehingga tidak perlu disikapi secara khusus. Di samping itu, peningkatan kemampuan untuk mengantisipasi bencana sangat diperlukan bagi ketiga stakeholders. Meskipun pengetahuan dasar ketiganya relatif baik, tetapi pengetahuan tersebut belum didukung dengan kebijakan, perencanaan untuk keadaan darurat, sistim peringatan bencana dan mobilisasi sumber daya yang cukup karena masih terbatasnya kemampuan masing-masing stakeholder.
Kota Padang
Seperti di Kota Bengkulu, kajian di Kota Padang juga dilakukan di lima kecamatan, yaitu: Kecamatan Koto Tangah, Padang Utara, Padang Timur, Bungus Teluk Kabung dan Pauh. Kegiatan survei/angket melibatkan 4000 responden, paling banyak jika dibandingkan dengan dua lokasi lainnya, karena Padang mewakili kota besar dengan jumlah penduduk yang besar. Responden terdiri dari: 2800 rumah tangga, 920 siswa, 200 guru dan 80 aparat pemerintah.
Profil Kota Padang
Kota Padang yang terletak di pinggir pantai Barat Sumatera merupakan pusat perekonomian, pendidikan, pelabuhan dan pariwisata. Kota dengan luas wilayah sekitar 1.414,89 Km² merupakan perpaduan antara wilayah pantai, daerah aliran sungai, dataran, perbukitan dan pegunungan. Wilayah geografis kota yang membentang dari pantai sampai pegunungan ini rawan terhadap ancaman berbagai bencana alam, diantaranya letusan gunung berapi, tanah longsor dan banjir.Bencana tanah longsor berpotensi terjadi di kawasan pegunungan Bukit Barisan, tepatnya sebelah timur dari pusat kota dan pada bukit lainnya di kawasan Gunung Padang. Bentuk perbukitan yang relatif terjal dan tinggi dengan jenis tanah yang sangat labil menyebabkan bencana tanah longsor tidak hanya terjadi pada kawasan perbukitan dan pegunungan, namun juga berpotensi melanda daerah yang terletak di aliran lima sungai besar di kota Padang. Dengan adanya lima aliran sungai besar tersebut, bencana banjir juga sudah menjadi langganan Kota Padang yang menyebar di seluruh wilayah pusat kota.
Selain potensi bencana banjir dan tanah longsor, Kota Padang menurut para pakar geologi dinyatakan sebagai daerah rawan gempa, karena terletak diantara dua sumber gempa aktif yaitu pertemuan lempeng Australia dan lempeng Eurasia. Berdasarkan catatan sejarah pada tahun 1797 M dan 1833 M telah terjadi gempa besar (+ 9 skala richter) di sekitar Mentawai yang diikuti oleh gelombang tsunami yang besar, sehingga menghabiskan sepertiga Kota Padang. Jika dilihat sejarahnya, diperkirakan akan terjadi pengulangan gempa besar setiap 200 s/d 300 tahunan. Oleh karena itu kesiapsiagaan untuk mengantisipasi bencana menjadi sangat penting, mengingat jika terjadi gempa besar yang diikuti oleh tsunami, maka resiko bahaya sangat besar, karena Kota Padang terletak di pingir pantai dengan konsentrasi penduduk yang tinggal di wilayah pantai cukup tinggi.
Jumlah penduduk Kota Padang pada tahun 2005 sebanyak 784.740 jiwa terdiri dari 385.460 penduduk perempuan atau sekitar 49 persen dan penduduk laki-laki sebanyak 399.280 ( 51 persen). Dilihat menurut komposisi umur menunjukkan bahwa kelompok Balita atau penduduk berumur 0 - 4 tahun mempunyai proporsi sekitar 10 persen dari total penduduk, yaitu sekitar 77.807 jiwa. Pada kelompok penduduk lanjut usia jumlahnya juga relatif banyak, mencapai 28.653 jiwa atau sekitar 3,5 persen dari total penduduk Kota Padang.
Persebaran penduduk antar kecamatan memperlihatkan bahwa jumlah penduduk terbesar tinggal di Kecamatan Koto Tangah yaitu sebesar 145.193 jiwa (18 persen), diikuti dengan Kecamatan Kuranji dan Lubuk Begalung masing-masing sebesar; 108.029 jiwa (14 persen) dan 95.539 jiwa (12 persen). Apabila dilihat dari kepadatan ternyata Kecamatan Koto Tengah mempunyai kepadatan penduduk yang paling rendah, hanya sekitar 625 jiwa per Km2, disebabkan kecamatan ini merupakan wilayah terluas. Sementara itu untuk kecamatan-kecamatan di pusat kota, seperti Padang Timur, Padang Barat dan Padang Utara mempunyai wilayah dengan kepadatan paling tinggi, masing-masing mencapai 9.991 jiwa dan 8.819 jiwa per Km2.
Hal yang perlu mendapat perhatian adalah jumlah penduduk yang tinggal di zona rawan bencana tsunami, yaitu mereka yang bermukim di tepi pantai, hingga 5 meter di atas permukaan laut, jumlahnya cukup besar, mencapai 340.446 jiwa atau sekitar 43 persen dari total penduduk Kota Padang. Proporsi terbesar adalah penduduk yang tinggal di Kecamatan Koto Tangah, yaitu mencapai 89.764 jiwa. Untuk wilayah dalam kota, Kecamatan Padang Barat mempunyai penduduk yang tinggal di zona rawan cukup besar, yaitu mencapai 63.000 jiwa (Kogami, 2005). Banyaknya penduduk yang tinggal di lokasi rawan bencana, semakin meningkatkan pentingnya kesiapsiagaan dalam mengantisipasi bencana.
Tingkat Kesiapsiagaan Masyarakat dalam Mengantisipasi Bencana
Hasil kajian kesiapsiagaan menghadapi bencana yang dilakukan di Kota Padang menunjukkan nilai indeks kesiapsiagaan sebesar 63 dan termasuk dalam kategori hampir siap. Namun jika dicermati lebih lanjut, nilai indeks masing-masing stakeholder menunjukkan perbedaan yang cukup berarti. Nilai indeks pemerintah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan nilai indeks komunitas sekolah dan rumah tangga. Nilai indeks pemerintah sebesar 75 dan termasuk dalam kategori siap, sedangkan indeks pada komunitas sekolah dan rumah tangga masing-masing 59 dan 56, masuk dalam kategori hampir siap.
Masih rendahnya nilai indeks kesiapsiagaan di tingkat rumah tangga dan komunitas sekolah ini berimplikasi pada pentingnya Pemerintah Kota Padang memfasilitasi upaya peningkatan kesiapsiagaaan menghadapi bencana pada masyarakat umum dan komunitas sekolah. Fasilitasi tersebut antara lain dapat berupa dukungan kebijakan untuk sekolah tentang pentingnya memasukkan pelajaran gempa kepada siswa. Hal ini tidak terlepas dari peran komunitas sekolah sebagai stakeholder utama dalam meningkatkan kesiapsiaagaan bencana. Melalui komunitas sekolah, pengetahuan dan kepedulian tentang bencana dapat diberikan sejak usia dini. Selain dukungan kebijakan, diperlukan pula dukungan bersifat teknis seperti penyediaan sarana/prasarana tanggap darurat dan peringatan bencana sampai ke tingkat kecamatan, kelurahan dan kelompok masyarakat.
Tingginya nilai indeks pemerintah kota Padang tidak terlepas dari dukungan dan peran stakeholders lain, seperti: KOGAMI, PMI, sektor swasta dan organisasi professional seperti ORARI dan RAPI. Berbagai kegiatan yang dilakukan oleh stakeholders tersebut mendukung kegiatan rencana tanggap darurat dan mobilisasi sumber daya yang dilakukan oleh pemerintah Kota Padang.
Kendatipun demikian tingginya nilai indeks pemerintah ini perlu ditinjau implementasinya di lapangan. Semua indikator kesiapsiagaan bencana, terutama dari parameter rencana tanggap darurat dan mobilisasi sumber daya telah terpenuhi, akan tetapi pelaksanaan di lapangan belum optimal. Belum optimalnya pelaksanaan ke dua parameter tersebut tercermin dari rendahnya nilai indeks rencana tanggap darurat dan mobilisasi sumber daya di tingkat pemeritah kecamatan. Nilai indeks rencana tanggap darurat dan mobilisasi sumber daya di tingkat pemerintah kota mencapai angka maksimal 100, sebaliknya dengan kecamatan nilai indeksnya masih sangat rendah, 38 untuk rencana tanggap darurat dan 33 untuk mobilisasi sumber daya.
Tabel 3.
Nilai Indeks Kesiapsiagaan Stakeholders Utama Kota Padang
dalam Mengantisipasi Bencana
| Indeks Paramater | Rumah Tangga | Komunitas Sekolah | Pemerintah |
| Pengetahuan | 72 | 72 | 80 |
| Kebijakan | - | 57 | 69 |
| Rencana Tanggap Darurat | 42 | 44 | 85 |
| Peringatan Bencana | 73 | 56 | 49 |
| Kemampuan Mobilisasi Sumber Daya | 32 | 37 | 76 |
| Indeks Kesiapsiagaan | 56
| 59 | 75 |
Sumber: Kajian Kesiapsiagaan Masyarakat dalam Mengantisipasi Bencana, LIPI - UNESCO/ISDR, 2006
Peran pemerintah sebagai penyedia fasilitas kesiapsiagan bencana, seperti peta bencana dan peta evakuasi merupakan hal yang sangat diperlukan oleh masyarakat. Untuk pemerintah Kota Padang fungsi penyedia fasilitas tersebut tampaknya telah terpenuhi, terlihat dari tingginya nilai indeks rencana tanggap darurat (85), terutama berasal dari kontribusi nilai indeks rencana tanggap darurat pemerintah kota yang nilainya mencapai 100, sebaliknya untuk tingkat kecamatan hanya sebesar 38. Adanya kesenjangan ini mengindasikan bahwa fasilitas untuk rencana tanggap darurat, seperti: keberadaan peta bencana, peta evakuasi dan tempat-tempat evakuasi yang sudah ditentukan kurang disosialisasikan dan diimplementasikan pada tingkat pemerintahan yang lebih rendah.
Kurang disosialisasikannya berbagai fasilitas rencana tanggap darurat di tingkat kota juga terlihat dari adanya kesenjangan nilai indeks antara pemerintah, rumah tangga dan komunitas sekolah. Nilai indeks rumah tangga dan sekolah hanya sebesar 42 dan 44, sehingga masih termasuk dalam kategori kurang siap. Adanya perencanaan tanggap darurat di tingkat masyarakat sangat diperlukan untuk mengantisipasi dan melakukan tindakan penyelamatan yang harus segera dilakukan jika bencana terjadi.
Kesiapsiagaan dilihat dari parameter sistem peringatan bencana mempunyai nilai indeks yang rendah, terutama di tingkat pemerintah yaitu sebesar 49, karena itu termasuk kategori kurang siap. Disisi lain, nilai indeks di tingkat masyarakat (sekolah dan rumah tangga) cukup baik, masing-masing sebesar 62 (hampir siap) dan 73 (siap). Tingginya nilai indeks peringatan bencana di tingkat masyarakat ini merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan bagi penyerbarluasan informasi peringatan bencana. Untuk itu pemerintah perlu mengembangkan sistem peringatan bencana yang dapat menjembatani terputusnya sistem informasi dari pemerintah ke masyarakat.
Kemampuan pemerintah kota memobilisasi sumber daya relatif baik, diindikasikan dari nilai indeks yang cukup tinggi (76), sehingga masuk dalam kategori siap. Sementara itu di tingkat sekolah dan rumah tangga, nilai indeksnya masih rendah masing-asing sebesar 37 dan 32, karena itu termasuk kategori belum siap. Pemerintah sebagai stakeholder utama mempunyai tanggung jawab untuk memfasilitasi mobilisasi sumberdaya masyarakat melalui berbagai pelatihan berkaitan dengan kesiapsiagaan bencana.
Kebijakan yang berkaitan dengan kesiapsiagaan bencana di tingkat pemerintah kota dilihat dari nilai indeks ketersediaan dokumen kebijakan cukup baik yaitu sebesar 69 dan termasuk kategori cukup siap. Namun demikian berbagai kebijakan tersebut belum ditindak lanjuti dalam bentuk rencana kegiatan yang konkrit dan jelas, seperti keberadaan prosedur tetap (protap), rencana aksi, petunjuk teknis untuk merespon keadaan darurat bencana dan petunjuk teknis penaggulangan bencana.
CAMPAKA KAROMAH Khusus Untuk Direbus/Godogan, Insyaallah Dapat Menyembuhkan Penyakit Yang Anda Derita.
Formulator : Deddy kermit madjmoe
Hotline: 081324300415
Jl. Buyut Roda Gg.Polos No.84 Ciledug Cirebon Jawa Barat 45188
Pasien TIDAK MAMPU dan KURANG MAMPU Jangan TAKUT Untuk Berobat Pada Kami....!!!! Kami Tetap akan melayaninya.
