Tampilkan postingan dengan label LINGKUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LINGKUNGAN. Tampilkan semua postingan

21 November 2010

Deddy Madjmoe:Kegelisahan Penjaga Lingkungan


Banjir, longsor, dan kerusakan lingkungan menjadi keresahan hidup Deddy Madjmoe (42). Di Ciledug Wetan, desa kecil di pinggir pantai utara Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, aktivis lingkungan ini memilih mengorbankan waktu dan tenaga untuk menggerakkan puluhan warga guna mengembalikan lingkungan desanya agar hijau lagi.
Deddy akrab dipanggil dengan Deddy Kermit. Panggilan Kermit—si katak hijau dalam serial televisi—itu karena sejak SMA tahun 1987 dia suka mendaki gunung dan aktivitas cinta alam lainnya.
Deddy, yang sehari-hari bekerja sebagai herbalis, sangat memerhatikan ketidakberesan alam. Ia resah melihat sekawanan rusa dan babi hutan yang turun dari hutan di perbukitan karena kekeringan. ”Ini tidak biasa,” katanya suatu saat.
Deddy menangkap keganjilan alam tersebut. Ia tahu betul ada yang tak beres dan dia tak berhenti mencari tahu penyebabnya.
Dua tahun lalu, Deddy dan kawan-kawan dari Perkumpulan Pencinta Kelestarian Alam (Petakala) Grage, Cirebon, melepaskan induk rusa di hutan Gunung Tilu, perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Induk rusa itu diharapkan bisa berkembang biak secara alami karena populasinya kian menciut akibat perburuan, permukiman, dan perladangan. Namun kini, rusa-rusa itu justru mendekati perkampungan.
Karena penasaran, Deddy dan kawan-kawannya pun mengadakan survei kecil tentang mata air. Hasilnya, ternyata alam memang sudah terdegradasi. Tiga mata air yang ditemukan ternyata semuanya sudah tak lagi menyediakan air berlimpah.
Mata air di hutan Caringin, misalnya, kering pada musim kemarau. Adapun mata air Jamberancak hanya mengalir dengan volume kecil. Hutan-hutan habitat babi dan rusa yang dahulu hijau berubah menjadi ladang tebu dan tambang pasir. Hutan tak lagi menyediakan cukup air untuk penghuninya, seperti rusa dan babi hutan, pada musim kemarau.
Kegelisahan Deddy berlanjut dan mendorongnya untuk terlibat langsung dalam aksi lingkungan. Pada Januari 2010, saat banjir mengepung Cirebon, pemanjat tebing ini mengabaikan pekerjaannya sebagai herbalis.
Setiap hari ia memantau ketinggian air Sungai Cisanggarung yang hampir selalu meluap saat hujan. Di kala warga lain terlelap tidur, ia memilih menjadi sukarelawan siaga banjir dan membantu warga yang kebanjiran.
Saat tanggul desa jebol dan melimpahkan isi sungai ke perkampungan, merendam persawahan, dan usaha batu bata warga, kegelisahan Deddy pun memuncak. Ia berkali-kali mengadu kepada pemerintah tentang derita warga di wilayahnya akibat banjir karena sedimentasi dan jebolnya tanggul. Karena tak segera ditanggapi, ia dan rekan-rekannya pun akhirnya bergerak sendiri.

Bermodal tenaga dan tekad, Deddy bersama warga dan para aktivis di Petakala Grage membangun tanggul darurat secara swadaya. Modalnya hanya bambu, makanan, dan bantuan tenaga dari warga serta karung dari instansi pemerintah. Hasil kerja dari modal sederhana itu untuk sementara bisa memberikan rasa aman bagi warga.
Langkahnya tidak berhenti di situ. Deddy dan kawan-kawan juga merambah ke Kuningan. Mereka berjuang membuat kawasan karst Goa Indrakila di Kuningan agar tetap lestari.
Kawasan yang menjadi habitat tanaman langka dan macan ini dikhawatirkan rusak akibat kegiatan penambangan pasir. Deddy berpikir menjadikan kawasan ini sebagai ekowisata lebih menguntungkan dalam jangka panjang dibandingkan proses penambangan pasir yang jelas-jelas merusak lingkungan.
”Indrakila bisa terpelihara dengan ekowisata. Penduduk pun akan ikut memelihara karena ini sumber ekonomi mereka,” kata Deddy suatu sore ketika menengok kawasan karst Maneungteung di Cirebon.
Tabungan sendiri
Deddy akrab dengan dunia lingkungan sejak SMA. Panjat tebing dan naik gunung adalah kegiatannya sehari-hari. Dari situlah dia mengenal alam sangat dekat. Bahkan, hidupnya kini tak bisa jauh dari tumbuhan dan hewan.
Meski demikian, Deddy tidak hidup dari kegiatannya yang berkaitan dengan lingkungan. Ia justru yang menghidupi kegiatan itu dengan mendirikan organisasi nirlaba Petakala Grage pada 1986 bersama teman temannya.
Setiap kali mengadakan kegiatan, seperti kerja bakti pembangunan tanggul, penanaman pohon, atau pelepasan rusa, ia rela mengorbankan tabungan pribadinya. Padahal, dari sisi materi, ayah tiga anak ini hidup sederhana. Sarana transportasinya hanya sepeda onthel dan istrinya masih bekerja sebagai guru honorer di SD Negeri II Ciledug Wetan.
Tentu saja usaha yang dilakukan Deddy tak bisa berhasil tanpa dukungan rekan-rekannya. Sama halnya dengan Deddy, mereka punya jiwa dan kesadaran lingkungan yang tinggi. Untuk hidup, mereka bekerja sebagai mekanik bengkel atau penjahit. Sebagian hasil kerja mereka itu disumbangkan untuk kegiatan pelestarian lingkungan. ”Ini memang panggilan hidup kami, rasanya tidak rela jika pohon dirusak,” ujar Deddy.
Baru-baru ini, Deddy dan 20 kawannya mencoba menghijaukan Bukit Maneungteung di perbatasan Cirebon dan Kuningan dengan tanaman manoa, asam jawa, dan pinang. Seperti langkah sebelumnya, dia melibatkan warga dan menggunakan dana swadaya dari tabungan pribadi mereka.
Bukit itu sejak bertahun-tahun lalu menarik perhatian mereka karena berubah fungsi dari hutan menjadi tambang pasir. Kini separuh bukit telah hilang karena digali pasirnya. Fungsinya sebagai salah satu sumber penyerapan air di wilayah timur Cirebon kini hilang karena tak ada satu pohon pun yang tumbuh.
Gerakan menanam pohon secara swadaya adalah jawabannya karena belum tampak ada tindakan dari pemerintah untuk menyelamatkan lingkungan hutan tersebut.
Meski bermisi sosial, gerakan Deddy tak selamanya berjalan lancar. Niatnya menghijaukan Bukit Maneungteung seluas lebih dari 5 hektar membuat dia harus berurusan dengan polisi. Polisi melarang kegiatan penanaman pohon di bukit yang kini masih dalam perkara hukum karena penambangan ilegal tersebut.
Namun, jangan sebut dia Deddy Kermit jika menyerah. Dia tetap melanjutkan usaha itu. ”Polisi memegang KUHP sebagai dasar tindakan, tetapi kami pencinta lingkungan berpikir beda. Kalau tidak segera dihijaukan, bagaimana nanti jadinya lingkungan ini,” katanya.


  • didik raharyono
    Rabu, 6 Oktober 2010 | 21:17 WIB
    bravo! bravo! hong wilaheng sekareng bawono langgeng.... semoga DIA benar-benar Tidak Tidur.... selamat berdzikir Kang Deddy...

  • marudut siahaan
    Kamis, 30 September 2010 | 12:18 WIB
    Seharusnya semua manusia saat ini, di belahan manapun terutama korporasi-korporasi, pemerintah pusat dan daerah, harus sadar dan bertobat bahwa kita semua tidak bisa hidup tanpa alam. Jika kita tidak memperhatikan kelestarian alam, maka tidak hanya kita yang akan rugi dan menderita, tetapi juga pastinya para anak-anak kita generasi berikutnya. Bertobatlah! Cintailah lingkunganmu!

  • Vega Priyono
    Kamis, 30 September 2010 | 10:48 WIB
    salung A...jd teringat ktika qt bersama melakukan penghijauan di bukit itu pada 1997......semua harapan penghijauan itu kini tergerus keserakahan pembangunan TransJawa

  • Sheila Kartika
    Selasa, 28 September 2010 | 13:10 WIB
    salut dengan orang2 seperti Kang Deddy. semoga semakin banyak yang sadar akan pentingnya lingkungan. salam hijau.

  • wilarno setiawan
    Selasa, 28 September 2010 | 07:17 WIB
    Setuju kang Deddy Kermit, semoga tetap kuat dan didukung lebih banyak lagi oleh warga yang peduli lingkungan.

20 September 2010

Polisi Bubarkan Penghijauan Swadaya

Koran Kompas
Senin, 20 September 2010 | 02:38 WIB
Cirebon, Kompas - Kepolisian Resor Cirebon di Jawa Barat, Minggu (19/9), membubarkan kegiatan penghijauan swadaya oleh para aktivis lingkungan di Cirebon. Para aktivis yang hendak menghijaukan bukit gundul tidak diperbolehkan menanam pohon karena tidak ada izin dari Polres Cirebon.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, polisi mendatangi lokasi di Bukti Maneungteung, Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon, sekitar pukul 12.00. Saat itu 20-an aktivis yang berasal dari sejumlah organisasi pencinta lingkungan, seperti Petakala Grage, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), dan Rakyat Pembela Lingkungan (Rapel) Cirebon, baru selesai menanam pohon di bukit gundul seluas 5 hektar tersebut.
”Kami diminta agar bubar karena tak ada izinnya. Karena tak ingin berkonflik, kami pun bubar,” kata Deddy Madjmoe, aktivis lingkungan dari Petakala Grage.
Kepala Polres Cirebon Ajun Komisaris Besar Edi Mardiyanto mengatakan, penghijauan di perbukitan Maneungteung tak berizin. Seharusnya para aktivis memberi tahu kegiatan mereka ke polres karena daerah bekas penggalian pasir ilegal itu masih dalam proses hukum. Selain itu, tambah Edi, daerah Maneungteung rawan longsor. ”Ini membahayakan para aktivis sendiri. Kalau terjadi apa-apa, bagaimana?” kata Edi.
Protes
Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat Ogi mempertanyakan tindakan polisi yang membubarkan aksi penanaman pohon.
Menurut Ogi, polisi ataupun pemerintah seharusnya mendukung kegiatan lingkungan, seperti penanaman pohon, karena merupakan kegiatan positif, apalagi kegiatan itu dilakukan secara swadaya.
”Saya heran mengapa harus ada izinnya karena selama ini kegiatan penanaman pohon, apalagi untuk penyelamatan lingkungan, tidak perlu izin,” katanya.
Menurut Ogi, jika masyarakat dipersulit untuk menanam pohon guna menyelamatkan lingkungan, pemerintah seharusnya bertanggung jawab penuh atas kerusakan lingkungan.
Upri Embreng, aktivis Petakala Grage, mengatakan, para aktivis di Cirebon mau secara sukarela menanam pohon karena Bukit Maneungteung merupakan salah satu pusat resapan air di wilayah timur Cirebon. (NIT)

15 Juli 2010

Freeport Produksi Uranium Secara Diam-diam

Jayapura (ANTARA) - Freeport diduga menggali bahan baku uranium secara diam-diam sejak delapan bulan silam, kata Yan Permenas Mandenas S.Sos Ketua Fraksi Pikiran Rakyat Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Papua kepada ANTARA di Jayapura, Selasa, di ruang kerjanya.

"Kegiatan ini dilakukan secara tersembunyi dan telah berlangsung cukup lama," ungkapnya yang juga anggota Komisi C DPRDP.

Ia menambahkan, Freeport telah mencuri hasil kekayaan masyarakat Papua dan membohongi pemerintah dengan hasil tambang yang disalurkan lewat jaringan pipa-pipa bawah tanah.

"Selain emas, uranium juga diproduksi oleh Freeport," tambahnya.

Informasi ini menurutnya, didapatkan dari sejumlah masyarakat dan karyawan Freeport di Timika.

"Selain karyawan dan masyarakat, saya juga mendapat laporan dari sumber yang dapat dipercaya," tandasnya.

Hal ini sangat disayangkan mengingat pajak yang didapatkan dari perusahaan emas terbesar didunia ini, hanya berjumlah Rp30 milyar pada tahun lalu.

Mandenas juga mengeluhkan, bahwa dewan belum bisa bergerak karena terkendala masalah klasik, yaitu belum ada alokasi dana untuk turun ke lapangan.

"Kami belum bisa ke lapangan karena terkendala dana," katanya.

06 Juli 2010

Polres Cirebon Amankan Lima Aktivis Greenpeace




AKIM GARIS/"PRLM"
AKIM GARIS/"PRLM"
 Sejumlah aktivis Green Peace dari sejumlah negara Asia usai menghadiri deklarasi masyarakat melawan
batubara dan mendukung energi bersih terbarukan di Desa Waru Duwur Kec. Mundu, Kab. Cirebon, Senin (5/7) siang.*
SUMBER,(PRLM).-Sebanyak lima orang aktivis Greenpeace dari empat negara asing sempat digiring jajaran petugas dari Kepolisian Resort (Polres) Cirebon, setelah turut menghadiri deklarasi masyarakat melawan batubara dan mendukung energi bersih terbarukan bersama aktivis lain asal Indonesia di tanggul Sungai Waru Duwur, Desa Waru Duwur, Kec. Mundu, Kab. Cirebon, Senin (5/7) siang.
Kelima aktivis yang mewakili Greenpeace tersebut masing-masing Mr. Sutti Atchasai dan Ms. Uaeng-Fa Chumket dari Thailand, Ms. Jean Marie Ferraris asal Philippines, Mr. Fusheng Yan dari China dan Mr. Sudheer Kumar Puthiya Valappil dari India.
Pengamanan mereka yang tetap masih dalam satu mobil dan dikawal ketat petugas menuju Polres Cirebon di Sumber tersebut sempat mendapatkan perlawanan dari masyarakat desa setempat. Apalagi, ketika petugas juga akan memeriksa M. Aan Anwarudin, Koordinator Rakyat Penyelamat Lingkungan (Rapel) Cirebon. Ratusan warga rela berjalan kaki mengikuti sejumlah mobil petugas yang mengawal mobil rombongan aktivis Greenpeace menuju jalan raya yang jaraknya mencapai 1 kilo meter.
Deddy Madjmoe,(raincoat hijau), Kang Alwi(kanan), Mba Yayah, Mas Arip (Greenpeace Asia Tenggara) dan 
Aktivis Rapel Di Kantor Imigrasi Cirebon.

Warga sempat memblokir jalan pantura hingga jalur yang menghubungkan Cirebon-Losari sempat macet sekitar sepuluh menit."Pokoknya kami tidak terima, aktivis dari Greenpeace yang turut memperjuangkan nasib kami dibawa polisi, apalagi saudara Aan Anwarudin yang ditangkap," kata seorang warga.
Wakil Kepala Kepolisian Resort (Wakapolres) Cirebon, Komisaris Subiantoro yang datang ke lokasi memberikan penjelasan kepada warga terkait pemeriksaan sejumlah warga asing tersebut, namun, hanya beberapa warga saja yang memaklumi, sebagian besar menolak aktivis dibawa ke Polres.
"Mereka akan kami periksa, karena aktivis dari negara asing, kita mau menanyakan apa motivasi para aktivis itu. Lagi pula, penyelenggara di sini tidak memiliki izin," kata Wakapolres.
Sementara itu, Koordinator Rapel Cirebon, M. Aan Anwarudin mengaku sangat kecewa dengan tindakan aparat penegak hukum yang membawa aktivis asing ke Mapolres Cirebon.
"Penangkapan itu tidak adil. Karena PLTU ketika membangun projek pada tahun 2007 Amdalnya baru ada tahun 2008, tapi penegak hukum tidak mempersoalkannya. Kini mereka (aktivis asing-red) itu membantu kita dipermasalahkan. Kemudian, kalau mempersoalkan izin, kami cuma mengadakan konferensi pers masa harus izin dulu," kata Aan.
Aan yang didukung masyarakat Desa Waru Duwur mengancam nanti sore atau besok jika teman-teman aktivis dari Greenpeace tidak dibebaskan akan memblokir jalur pantura.(A-146/kur).***
Info : Pikiran Rakyat

08 Juni 2010

Program CSR Perusahaan

 Corporate Social Responsibility yang berkelanjutan merupakan hedging untuk perusahaan. CSR memang tidak memberikan hasil keuangan secara langsung dalam jangka pendek, namun CSR akan memberikan hasil baik langsung maupun tidak langsung pada keuangan perusahaan di masa mendatang.”

Pembangunan suatu negara bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, setiap insan manusia berperan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dunia usaha berperan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat dengan mempertimbangkan pula faktor lingkungan hidup. Kini dunia usaha tidak lagi hanya memperhatikan catatan keuangan perusahaan semata (single bottom line), melainkan sudah meliputi aspek keuangan, aspek sosial, dan aspek lingkungan biasa disebut triple bottom line. Sinergi dari tiga elemen ini merupakan kunci dari konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development).Seiring dengan pesatnya perkembangan sektor dunia usaha sebagai akibat liberalisasi ekonomi, berbagai kalangan swasta, organisasi masyarakat, dan dunia pendidikan berupaya merumuskan dan mempromosikan tanggung jawab sosial sektor usaha dalam hubungannya dengan masyarakat dan lingkungan.

Namun saat ini – saat perubahan sedang melanda dunia – kalangan usaha juga tengah dihimpit oleh berbagai tekanan, mulai dari kepentingan untuk meningkatkan daya saing, tuntutan untuk menerapkan corporate governance, hingga masalah kepentingan stakeholder yang makin meningkat. Oleh karena itu, dunia usaha perlu mencari pola-pola kemitraan (partnership) dengan seluruh stakeholder agar dapat berperan dalam pembangunan, sekaligus meningkatkan kinerjanya agar tetap dapat bertahan dan bahkan berkembang menjadi perusahaan yang mampu bersaing.

Upaya tersebut secara umum dapat disebut sebagai Corporate Social Responsibility (CSR) atau corporate citizenship dan dimaksudkan untuk mendorong dunia usaha lebih etis dalam menjalankan aktivitasnya agar tidak berpengaruh atau berdampak buruk pada masyarakat dan lingkungan hidupnya, sehingga pada akhirnya dunia usaha akan dapat bertahan secara berkelanjutan untuk memperoleh manfaat ekonomi yang menjadi tujuan dibentuknya dunia usaha.

Konsep tanggung jawab sosial perusahaan telah mulai dikenal sejak awal 1970an, yang secara umum diartikan sebagai kumpulan kebijakan dan praktek yang berhubungan dengan stakeholder, nilai-nilai, pemenuhan ketentuan hukum, penghargaan masyarakat dan lingkungan; serta komitmen dunia usaha untuk berkontribusi dalam pembangunan secara berkelanjutan. CSR tidak hanya merupakan kegiatan karikatif perusahaan dan tidak terbatas hanya pada pemenuhan aturan hukum semata.

Implementasi konsep sustainable development dalam Program CSR
Masih banyak perusahaan tidak mau menjalankan program-program CSR karena melihat hal tersebut hanya sebagai pengeluaran biaya (cost center). CSR memang tidak memberikan hasil keuangan dalam jangka pendek. Namun CSR akan memberikan hasil baik langsung maupun tidak langsung pada keuangan perusahaan di masa mendatang. Dengan demikian apabila perusahaan melakukan program-program CSR diharapkan keberlanjutan perusahaan akan terjamin dengan baik. Oleh karena itu, program-program CSR lebih tepat apabila digolongkan sebagai investasi dan harus menjadi strategi bisnis dari suatu perusahaan.

Dengan masuknya program CSR sebagai bagian dari strategi bisnis, maka akan dengan mudah bagi unit-unit usaha yang berada dalam suatu perusahaan untuk mengimplementasikan rencana kegiatan dari program CSR yang dirancangnya. Dilihat dari sisi pertanggung jawaban keuangan atas setiap investasi yang dikeluarkan dari program CSR menjadi lebih jelas dan tegas, sehingga pada akhirnya keberlanjutan yang diharapkan akan dapat terimplementasi berdasarkan harapan semua stakeholder.
Tenda darurat yang dibangun di lokasi bencana memungkinkan para siswa SD melanjutkan aktivitas belajar mengajar. Ini merupakan salah satu wujud nyata CSR

Mengapa Program CSR harus Sustainable
Pada saat ini telah banyak perusahaan di Indonesia, khususnya perusahaan besar yang telah melakukan berbagai bentuk kegiatan CSR, apakah itu dalam bentuk community development, charity, atau kegiatan-kegiatan filantropi. Timbul pertanyaan apakah yang menjadi perbedaan antara program community development, filantropi, dan CSR dan mana yang dapat menunjang berkelanjutan?

Tidak mudah memang untuk memberikan jawaban yang tegas terhadap pertanyaan diatas, namun penulis beranggapan bahwa CSR is the ultimate level towards sustainability of development. Umumnya kegiatan-kegiatan community development, charity maupun filantropi yang saat ini mulai berkembang di bumi Indonesia masih merupakan kegiatan yang bersifat pengabdian kepada masyarakat ataupun lingkungan yang berada tidak jauh dari lokasi tempat dunia usaha melakukan kegiatannya. Dan sering kali kegiatannya belum dikaitkan dengan tiga elemen yang menjadi kunci dari pembangunan berkelanjutan tersebut. Namun hal ini adalah langkah awal positif yang perlu dikembangkan dan diperluas hingga benar-benar dapat dijadikan kegiatan CSR yang benar-benar sustainable.

Selain itu program CSR baru dapat menjadi berkelanjutan apabila, program yang dibuat oleh suatu perusahaan benar-benar merupakan komitmen bersama dari segenap unsur yang ada di dalam perusahaan itu sendiri. Tentunya tanpa adanya komitmen dan dukungan dengan penuh antusias dari karyawan akan menjadikan program-program tersebut bagaikan program penebusan dosa dari pemegang saham belaka. Dengan melibatkan karyawan secara intensif, maka nilai dari program-program tersebut akan memberikan arti tersendiri yang sangat besar bagi perusahaan. Melakukan program CSR yang berkelanjutan akan memberikan dampak positif dan manfaat yang lebih besar baik kepada perusahaan itu sendiri maupun para stakeholder yang terkait. Sebagai contoh nyata dari program CSR yang dapat dilakukan oleh perusahaan dengan semangat keberlanjutan antara lain, yaitu: pengembangan bioenergi, melalui kegiatan penciptaan Desa Mandiri Energi yang merupakan cikal bakal dari pembentukan eco-village di masa mendatang bagi Indonesia.

Program CSR yang berkelanjutan diharapkan akan dapat membentuk atau menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera dan mandiri. Setiap kegiatan tersebut akan melibatkan semangat sinergi dari semua pihak secara terus menerus membangun dan menciptakan kesejahteraan dan pada akhirnya akan tercipta kemandirian dari masyarakat yang terlibat dalam program tersebut.

Program CSR tidak selalu merupakan promosi perusahaan yang terselubung, bila ada iklan atau kegiatan PR mengenai program CSR yang dilakukan satu perusahaan, itu merupakan himbauan kepada dunia usaha secara umum bahwa kegiatan tersebut merupakan keharusan/tanggung jawab bagi setiap pengusaha. Sehingga dapat memberikan pancingan kepada pengusaha lain untuk dapat berbuat hal yang sama bagi kepentingan masyarakat luas, agar pembangunan berkelanjutan dapat terealisasi dengan baik. Karena untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera dan mandiri semua dunia usaha harus secara bersama mendukung kegiatan yang terkait hal tersebut. Dimana pada akhirnya dunia usaha pun akan menikmati keberlanjutan dan kelangsungan usahanya dengan baik.
Sukarelawan membagikan bantuan pangan darurat kepada korban gempa bumi di Yogyakarta. Berkat keturutsertaan pihak swasta, pemulihan pasca bencana bisa berjalan lebih cepat

Manfaat dari program CSR bagi perusahaan di Indonesia
Memang pada saat ini di Indonesia, praktek CSR belum menjadi suatu keharusan yang umum, namun dalam abad informasi dan teknologi serta adanya desakan globalisasi, maka tuntutan terhadap perusahaan untuk menjalankan CSR akan semakin besar. Tidak menutup kemungkinan bahwa CSR menjadi kewajiban baru standar bisnis yang harus dipenuhi seperti layaknya standar ISO. Dan diperkirakan pada akhir tahun 2008 mendatang akan diluncurkan ISO 26000 on Social Responsibility, sehingga tuntutan dunia usaha menjadi semakin jelas akan pentingnya program CSR dijalankan oleh perusahaan apabila menginginkan keberlanjutan dari perusahaan tersebut.

CSR akan menjadi strategi bisnis yang inheren dalam perusahaan untuk menjaga atau meningkatkan daya saing melalui reputasi dan kesetiaan merek produk (loyalitas) atau citra perusahaan. Kedua hal tersebut akan menjadi keunggulan kompetitif perusahaan yang sulit untuk ditiru oleh para pesaing. Di lain pihak, adanya pertumbuhan keinginan dari konsumen untuk membeli produk berdasarkan kriteria-kriteria berbasis nilai-nilai dan etika akan merubah perilaku konsumen di masa mendatang. Implementasi kebijakan CSR adalah suatu proses yang terus menerus dan berkelanjutan. Dengan demikian akan tercipta satu ekosistem yang menguntungkan semua pihak (true win win situation) - konsumen mendapatkan produk unggul yang ramah lingkungan, produsen pun mendapatkan profit yang sesuai yang pada akhirnya akan dikembalikan ke tangan masyarakat secara tidak langsung.

Sekali lagi untuk mencapai keberhasilan dalam melakukan program CSR, diperlukannya komitmen yang kuat, partisipasi aktif, serta ketulusan dari semua pihak yang peduli terhadap program-program CSR. Program CSR menjadi begitu penting karena kewajiban manusia untuk bertanggung jawab atas keutuhan kondisi-kondisi kehidupan umat manusia di masa datang.
Perusahaaan perlu bertanggung jawab bahwa di masa mendatang tetap ada manusia di muka bumi ini, sehingga dunia tetap harus menjadi manusiawi, untuk menjamin keberlangsungan kehidupan kini dan di hari esok.

29 April 2010

Penambangan Picu Sedimentasi

Truk Pengangkut Pasir Juga Rusakkan Jalan
Kamis, 29 April 2010 | 12:43 WIB
Cirebon, Kompas - Kerusakan lingkungan karena pembukaan tanah, penggalian, serta pencucian pasir di sepanjang Sungai Cisanggarung perbatasan Cirebon-Kuningan disinyalir menjadi salah satu penyebab pendangkalan Sungai Cisanggarung dan Ciberes di Cirebon wilayah timur. Masyarakat minta penggalian pasir ilegal tidak hanya ditutup, tetapi juga diproses secara hukum jika merusak lingkungan.
Dari pantauan sepekan terakhir hingga Selasa (27/4), praktik penggalian pasir di Daerah Aliran Sungai Cisanggarung dan Ciberes tak hanya terjadi Bukit Azimut, Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon. Hulu Cisanggarung di Kuningan, sekitar Blok Putersari, Desa Cikeusik, Kecamatan Cidahu, juga dirambah. Luasnya bervariasi, 1-5 hektar. Penggalian Bukit Azimut dua tahun lalu sempat ditutup Pemerintah Kabupaten Cirebon. Namun, penggali ilegal terkadang masih memanfaatkan pasirnya untuk digali secara manual.





Menurut aktivis lingkungan Petakala Grage, Deddy Madjmoe, penggalian di sejumlah daerah itu disinyalir menjadi salah satu penyebab dangkalnya Sungai Ciberes dan Cisanggarung. Sebab, beberapa di antaranya mempunyai tempat pencucian pasir di sekitar Sungai Cisanggarung. Pencucian ini menyebabkan lumpur galian mengendap di sungai dan membentuk sedimen.
Daerah bekas galian pasir juga tak bisa menyerap dan penyimpan air sehingga air dengan mudah mengalir membawa lumpur ke daerah sungai.
Aktivis Masyarakat Pecinta Sungai, Bambang Sasongko, meminta pemerintah mengkaji penggalian pasir yang merusak lingkungan. "Kalau ilegal, jangan hanya ditutup, tapi diajukan ke pengadilan. Selama ini apa pernah kasus galian pasir ilegal masuk ke pengadilan? Yang ada hanya ditutup, besok pasti ada lagi," katanya.
Berlubang
Selain menyebabkan pengendapan, penggalian pasir dikeluhkan warga karena merusak jalan. Jalan penghubung kecamatan di wilayah timur Cirebon rusak dan berlubang-lubang. Jalur tersebut banyak dilalui truk pengangkut pasir.
Warga Desa Cikulak, Kecamatan Waled, bahkan sempat menanam pohon di lubang jalan di depan RSUD Waled, beberapa waktu lalu, karena kesal akibat rusaknya jalan.
Menurut Adang, warga Cikulak, selama pembangunan Tol Kanci-Pejagan, setiap hari ada sekitar 100 truk yang mondar-mandir membawa material dan pasir melewati jalan-jalan di wilayah timur. Pascapembangunan Tol Kanci-Pejagan, jalan kabupaten dan provinsi itu masih saja dilalui truk pasir. Bahkan truk pasir lewat tanpa penutup bak sehingga debunya bertebaran.
Kepala Badan Koordinator Pembangunan dan Pemerintahan Wilayah III Cirebon Ano Sutrisno mengatakan, persoalan pendangkalan sungai dan kerusakan jalan akan dibahas menyeluruh dengan berbagai instansi. Normalisasi sungai akan dilakukan pemerintah pusat karena butuh dana triliunan rupiah.
"Pendangkalan bukan masalah kecil, menyangkut hubungan antardaerah dengan dana yang tinggi. Penambangan pasir harus segera ditutup jika ilegal. Kalaupun berizin, namun merusak lingkungan, juga harus ditinjau ulang," katanya.
Ano mengakui, truk pasir yang melintasi wilayah timur sering kali kelebihan muatan. Hal itu menyebabkan jalan-jalan di wilayah timur rusak karena tidak didesain untuk menahan berat lebih dari 10 ton. (NIT)


http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/29/12432383/penambangan.picu.sedimentasi.

28 April 2010

Green Volunteering

Practicing the 3Rs and other conservation measures are an important aspect of leading an eco-friendly lifestyle. While doing our own part for the environment, it’s also important to contribute to society’s efforts to make our environment clean, healthy and sustainable for all. Here are some ways in which residents of all ages and walks of life can get involved in community volunteering efforts.
  1. 1. Step up and clean up!
Beach and park clean ups are an excellent, hands-on way to help improve the environment. Organise a cleanup with your friends, community group or school, and give your favourite park such as Kranji Reservoir, Lower Seletar Reservoir and Sembawang Park a facelift, and reward yourself with a picnic after!
  1. 2. Hold the earth in your hands.
Terrariums are basically glass jars containing plants that flourish for months on end – self-sustaining ecosystems. They beautify any desk or room, and are effective ways of encouraging a love for nature. You can start by attending terrarium making workshops conducted by SEC. Then, you can make your own terrariums out of recycled materials, and sell them to raise funds for your favourite charity organisation. Contact info@sec.org.sg to learn more about terrarium making workshops!
Gambar Galian Ciuyah Waled Cirebon Jawa Barat

  1. 3. Chip in by logging in!
With a busy school schedule, it can be difficult to find the time to volunteer on a regular basis. You can still do your part by helping to spread environmental awareness, online!
North West CDC and SEC have jointly joined GS 2050, a project aimed at guiding Singapore’s environmental development in the coming decades. Log on to www.youthhabitat.sg/gs2050 and make your opinions count by answering a short survey on issues that matter to you, and contribute to forum discussions amongst your peers! Your responses will be collated into a document that will serve as a reference for businesses and policymakers alike.
You can also log on to www.youthhabitat.sg and contribute articles on environmental issues to the site, as well as help maintain the website. Sign up today!
  1. 4. Go out and spread the word!
A great way to raise awareness amongst the young is by encouraging peers to share their thoughts and ideas with one another. SEC trains volunteers to give talks at their schools on topics such as green lifestyle habits and environmental consciousness. Contact us at info@sec.org.sg to get trained as a volunteer speaker today! The public speaking skills and environmental knowledge you will gain in the training workshops will be valuable to you in all aspects of your school and professional life!

Green Tips for Daily Living

Here are some simple “green tips” for every day living. When done regularly, they just become a way of life. Drop us an email at feedback@greenkampong.com with tips of your own.

1. Skip the bottled water
  • Use a water filter to purify tap water instead of buying bottled water. Not only is bottled water expensive, but it generates large amounts of plastic container waste.
  • Bring a reusable water bottle, preferably aluminium rather than plastic, with you when travelling or at work. This also applies to buying coffee.
2. Borrow instead of buying
  • Borrow from libraries instead of buying personal books and movies. This saves money, not to mention the ink and paper that goes into printing new books. Download from bit torrent. Go paperless and wireless.
3. Less petrol means more money
  • Shake those legs! Walk or bike to work. This saves on petrol, ERP and parking costs while improving your cardiovascular health and reducing your risk of obesity.
  • Consider telecommuting if you live far from your work. Or move closer. Even if this means paying more rent, it could save you money in the long term.

4. Make your own cleaning supplies
  • The big secret: you can make very effective, non-toxic cleaning products whenever you need them. All you need are a few simple ingredients like baking soda, vinegar, lemon, and soap.
  • Making your own cleaning products saves money, time, and packaging-not to mention your indoor air quality. It’s fun!

5. Eat smart
  • If you eat meat, add one meatless meal a week. Meat costs a lot at the store-and it’s even more expensive when you consider the related environmental and health costs.
  • Buy locally raised, humane, and organic meat, eggs, and dairy whenever you can. Purchasing from local farmers keeps money in the local economy.

6. Think before you buy
  • Go online to find new or gently used second-hand products. Discover vintage. Whether you’ve just moved or are looking to redecorate, consider a service like yahoo classifieds or ebay to track down furniture, appliances, and other items cheaply or for free. This is especially true for baby’s toys and accessories.
  • Check out garage sales, thrift stores, and consignment shops for clothing and other everyday items.

7. Save energy to save money
  • Use fans whenever possible; air conditioning units are huge energy eaters.
  • Install compact fluorescent light bulbs (CFLs) when your older incandescent bulbs burn out.
  • Unplug appliances when you’re not using them. Or, use a “smart” power strip that senses when appliances are off and cuts “phantom” or “vampire” energy use.
  • Wash clothes in cold water whenever possible. As much as 85 percent of the energy used to machine-wash clothes goes to heating the water.
  • Use a drying rack or clothesline to save the energy otherwise used during machine drying.

8. Buy smart
  • Buy in bulk. Purchasing food from bulk bins can save money and packaging.
  • Wear clothes that don’t need to be dry-cleaned. This saves money and cuts down on toxic chemical use.
  • Invest in high-quality, long-lasting products. You might pay more now, but you’ll be happy when you don’t have to replace items as frequently.

9. Save water to save money
  • Take shorter showers to reduce water use. This will lower your water and heating bills too. Take cold showers whenever possible; avoid baths.
  • Install a low-flow showerhead. They don’t cost much, and the water and energy savings can quickly pay back your investment.
  • Avoid using a dishwasher; soap plates without using the tap and then rinse sparingly.
  • Wash your car as sparingly as possible; commercial carwashes have a tendency to waste large amounts of water though some do use recycled water.

10. Keep electronics out of the trash
  • Keep your cell phones, computers, and other electronics as long as possible.
  • Donate or recycle them responsibly when the time comes. E-waste contains mercury and other toxics and is a growing environmental problem.
  • Recycle your cell phone.
  • What items can and can’t be recycled; lobby to have a recycling bin in your area.

Climate Change – Making the Difference with Every Little Bite


This article is about feeling empowered and taking control of Climate Change. To not get disillusioned with the politics and lack of progress with Kyoto or Copenhagen talks but in fact to inspire yourself and all those around you with the profound impact you can make to Climate Change and the ecology of the planet.
I wrote recently about the ecological/carbon footprint of the disposable (coffee) cup [1]. It is fascinating and counter intuitive that a styrofoam cup (in our current era of green awareness) has a much smaller environmental impact than paper cups, at least in the broader context of energy use and GHG emissions. I get upset that the government doesn’t do more to promote cycling to work; that plastic bags aren’t simply banned or a mandatory levy isn’t  placed on their use;  that so many people take siestas in their cars idling  [2], and that people still want to eat shark’s fin soup! Etc etc the list goes on.
Climate Change has been acknowledged by many as the greatest threat to humanity, biodiversity and planet Earth [3]. In this context I remain troubled not that the climate change (denial) debate continues but that those who are already climate change activists are satisfied with doing nothing or feel that (little) contributions like keeping the A/C at 25c, changing their light bulbs, or turning off various electrical appliances is good enough! Don’t get me wrong, without question every such action makes a difference. But don’t you feel that these (little) acts just don’t seem momentous enough? And does it not perturb you that when you ask the experts, the Climate Change consultants and active speakers, “what can I do as an individual to make a difference?”, the answer (for me has been and) will be, “change your light bulbs, drive less, use public transport, .. etc.,… ”??!!
But aren’t we facing the greatest existential threat in the history planet Earth? For example, in the last 50 years the Arctic has lost 80% of its volume, the majority of which has been lost since 2000 [4]. The Arctic is now forecast to be iceless in summer in the not too distant future [5]. The Arctic reflects up to 80% of the suns radiation and once the Arctic is gone this radiation will be rapidly absorbed by the sea and hence accelerating Global Warming [6]. The further immediate implications for permafrost melt, the death of corals, the Greenland ice sheet  melting (which is equivalent to a 7m sea level rise), .. etc., only further reinforces and accelerates all the real and worst fears of Climate Change.
So do you still feel that changing the light bulbs in your house is the best thing you can do to make a difference? Do you want to go down fighting knowing that you did the most substantial and profound acts to save the Earth and all Earthlings? Well, there is one single act you can do every day to make such a significant difference and that is to reduce and ultimately eat No Meat.
In 2006 the UN FAO published its report “Livestock’s Long Shadow”. The report detailed how animal production accounted for 18% of GHG emissions and how one third of GHG emissions are related to agriculture and land use [7]. And now more recently, a comprehensive re-study of animal production agriculture and landuse by the Worldwatch institute showing that 51% of GHG emissions can be attributed to livestock and their byproducts [8]. And this shockingly large number does not include the other negative ecological effects that are a result of over fertilizing crops, GM contamination, untreated sewage runoff from animal farms, deforestation [9], and or animal welfare concerns [10].
Here are a few more facts and comparisons that may excite you
  1. animal agriculture accounts for 9% of our carbon dioxide emissions, emits 37% of our methane, and a whopping 65% of our nitrous oxide. This is particular more problematic when you know that methane and nitrous oxide are 23 and 296 times more potent than CO2 [11]
  2. If everyone went vegetarian just for one day, the U.S. would save: 100 billion gallons of water, enough to supply all the homes in New England for almost 4 months; 1.5 billion pounds of crops otherwise fed to livestock, enough to feed the state of New Mexico for more than a year;  70 million gallons of gas–enough to fuel all the cars of Canada and Mexico combined with plenty to spare;  33 tons of antibiotics [12]
  3. If everyone went vegetarian just for one day, the U.S. would prevent: Greenhouse gas emissions equivalent to 1.2 million tons of CO2, as much as produced by all of France; 3 million tons of soil erosion and $70 million in resulting economic damages;  4.5 million tons of animal excrement;  Almost 7 tons of ammonia emissions, a major air pollutant [13]
The bottom line is reducing or stopping meat intake is the most profound positive contribution you can make to fix Climate Change, reduce and improve the ecology of many ecosystems globally, literally feed the world and improve global inequities, improve animal welfare, and also your health [14]!
  1. http://www.greenkampong.com/tech-science/rethinking-your-disposable-coffee-cup/
  2. Randomly drop into the Macritchie Reservoir car park most days and you will be surprised
  3. Google “climate change greatest threat…”  I would also suggest visiting http://www.climatecodered.net/ (there are other websites) and reading what hard core climate scientists are so concerned about. To talk about containing a (simple) 2c warming or a 1m rise in sea levels is almost grossly negligent and deceiving to what is actually likely to happen… Read Fred Pearce book “With Speed and Violence”
  4. http://www.climatecodered.net/ see article title “350 is the wrong target”
  5. Google “iceless arctic summer”.. http://www.cbc.ca/world/story/2008/06/27/iceless-arctic.html the sad reality is that the IPCC initially suggested around 2100, then it became 2050, then after the record ice loss recently, it seems inevitable that within 5-10 years (hopefully not sooner) it will be iceless.
  6. http://nsidc.org/quickfacts/seaice.html, and http://www.themalaysianinsider.com/index.php/opinion/breaking-views/43546-tough-to-ink-deal-as-sea-levels-inch-up–michael-richardson for other Arctic and or Antarctic comments
  7. http://aphg.jhsph.edu/?event=browse.subject&subjectID=18
  8. http://www.worldwatch.org/node/6294
  9. Google “deforestation”.. depending on where you go anywhere from 70-90% of deforestation is due to grain for feedstock. That is for example soy being grown for animal feeds. You can hear and see this statistic in Yann Arhus Bertrands recent movie documentary Home http://www.home-2009.com/us/index.html
  10. A great book that covers a lot of the ecological issues of eating is “The Omnivore’s Dilemma” by Michael Pollan.
  11. http://www.huffingtonpost.com/kathy-freston/vegetarian-is-the-new-pri_b_39014.html
  12. http://www.kathyfreston.com/blogs_by_kathy/17_the_breathtaking_effects_of_cutting_back_on_meat.html
  13. http://www.kathyfreston.com/blogs_by_kathy/17_the_breathtaking_effects_of_cutting_back_on_meat.html
  14. http://www.thechinastudy.com/ most recent and probably best known empirical study that clearly shows that a plant based, whole foods diet is the optimal diet for  humans.
Greenpeace SEA-Indonesia
Racikan Obat Herbal
CAMPAKA KAROMAH Khusus Untuk Direbus/Godogan, Insyaallah Dapat Menyembuhkan Penyakit Yang Anda Derita.

Formulator : Deddy kermit madjmoe
Hotline: 081324300415
Jl. Buyut Roda Gg.Polos No.84 Ciledug Cirebon Jawa Barat 45188

Pasien TIDAK MAMPU dan KURANG MAMPU Jangan TAKUT Untuk Berobat Pada Kami....!!!! Kami Tetap akan melayaninya.