Tampilkan postingan dengan label WS RENDRA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WS RENDRA. Tampilkan semua postingan

12 Agustus 2009

WS Rendra

Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja.
Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan.
Amarah merajalela tanpa alamat.
Ketakutan muncul dari sampah kehidupan.
Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah.

O, jaman edan !
O, malam kelam pikiran insan !
Koyak-moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan.
Kitab undang-undang tergeletak diselokan.
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan.

O, tatawarna patamorgana kekuasaan !
O, sihir berkilauan darai mahkota raja-raja !
Dari sejak jaman Ibrahim dan Musa
Allah selalu mengingatkan
bahwa hukum harus lebih tinggi
dari keinginan para politisi, raja-raja dan tentara.

O, kebingungan yang muncul dari kabut ketkutan !
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur !
Berhentilah mencari Ratu Adil !
Ratu Adil itu tidak ada, Ratu Adil itu tipu daya !
Apa yang harus kita tegakkan bersama
adalah Hukum Adil.
Hukum Adil adalah bintang pedoman didalam prahara.

Bau anyir darah yang kini memenuhi udara
menjadi saksi yang akan berkata ;
Apabila pemerintah sudah menjarah Keadilan Hukum dan Daulat Rakyat;
Apabila cukong-cukong sudah menggangsir dan menjarah vbank, dan juga menjarah ekonomi bangsa dengan penimbunan, monopoli dan oligopoli;
apabila aparat keamanan telah menjarah keamanan dengan pungli, backing, teror, penculikan dan pembunuhan, maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa,
lalu menjadi penjarah dipasar dan jalan raya.

Wahai, kekuasaan dunia yang fana !
Apakah masih akan menipu diri sendiri ?
Apakah masih buta dan tuli didalam hati ?
Apabila saran akal sehat kamu remehkan
berarti pintu untuk pikiran-pikiran kalap
yang akan muncul dari sudut-sudut gelap
telah kamu bukakan !

Air membanjir dari mata Ibu Pertiwi.
Air mata mengalir dari sajakku ini.

Jakarta, 17 Mei 1998
Rendra
sajak diatas koleksi guntingan media cetak dari Tabloid Berita Mingguan ADIL, edisi khusus tahun ke-66, 21 Mei 1998



08 Agustus 2009

WS RENDRA IMAJINERKU....


Si Burung Merak Telah Pergi Dengan Damai, meninggalkan begitu banyak kenangan buat Negeri Tercinta Indonesia, puisinya membuat aku selalu bersemangat untuk tetap tegar..........................................................................................................................
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................
kelu lidah ini...
remuk hati ini...
lunglai semua tulang ini...
Selamat Jalan Guruku..

Setelah Masuk Islam, Rendra Merasa Dimanja Allah
Jumat, 07-Agustus-2009, 03:02:04
, Republika

''Demi cahaya-Mu, duhai ya Allah, kami berdoa demi Mustafa, bapak tawanan dan para hina, ke hadirat-Mu wasilah kami pada Mustafa. Begitu pula pada warganya tajuk mahkota. Tetapkan iman bersama mati. Semoga didapat apa diminta apa diarah. Jagalah kami dari laku yang nista, laku yang rendah.''

Syair ini meluncur dari mulut Rendra saat menampilkan Shalawat Barzanji, sebuah pertunjukan yang digagas Republika pada 2003. Inilah drama musikal yang bersumberkan skenario Kasidah Barzanji, sebuah pertunjukan teater terbesar pada era 70-an.

Ada beda besar bagi Rendra antara Shalawat Barzanji dan Kasidah Barzanji. ''Kini Shalawat Barzanji saya pentaskan setelah saya menjadi seorang Muslim,'' katanya saat hendak pentas.

Rendra sempat ragu menampilkan Shalawat Barzanji. Namun, hasratnya kian kuat setelah bertemu dengan dukungan Republika. Ia kemudian merasa Shalawat Barzanji lebih dapat ia hayati karena pertunjukan yang menampilkan keteladanan Nabi Muhammad saw itu ia lakoni dalam keadaan diri sebagai Muslim.

''Ada dorongan kerinduan akan Nabi Muhammad saw sebagai teladan. Nabi adalah orang yang tanpa keajaiban, penuh kesederhanaan, dan kerendahan hati, tapi sukses memimpin umatnya keluar dari kegelapan zaman jahiliyah. Itu yang mendorong saya kembali mementaskan naskah ini,'' tuturnya.

Rendr a merasa, setelah masuk Islam, ia seperti dimanjakan oleh Allah. ''Saya diperkenankan menghayati keimanan Islam dan tidak habis-habisnya bersyukur. Saya sering memikirkan apa yang bisa saya lakukan untuk mengimbangi kebaikan Allah sehingga kehidupan saya bisa lebih berguna,'' paparnya. rys/rif


Puisinya Yang Terakhir :
WS Rendra tetap berkarya meski dirawat di rumah sakit karena sakit jantung koroner. Puisi terakhir Rendra menghadirkan nuansa religius yang dalam, yang mengisyaratkan kecintaan pada Sang Pencipta.

"Tuhan, aku cinta padamu..." demikian penggalan puisi yang tak diberi judul itu. Puisi terakhir ini ditulis Rendra pada 31 Juli di RS Mitra Keluarga.

Teks puisi bertulis tangan itu diperlihatkan di rumah duka di Bengkel Teater, Citayam, Depok, Jumat (7/8/2009). Berikut teks puisi tersebut:

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

Rendra
31 July 2009
Mitra Keluarga
(nvc/nrl)


Lihat Juga Tentang Ajaran SAMIN:




Greenpeace SEA-Indonesia
Racikan Obat Herbal
CAMPAKA KAROMAH Khusus Untuk Direbus/Godogan, Insyaallah Dapat Menyembuhkan Penyakit Yang Anda Derita.

Formulator : Deddy kermit madjmoe
Hotline: 081324300415
Jl. Buyut Roda Gg.Polos No.84 Ciledug Cirebon Jawa Barat 45188

Pasien TIDAK MAMPU dan KURANG MAMPU Jangan TAKUT Untuk Berobat Pada Kami....!!!! Kami Tetap akan melayaninya.