08 Agustus 2009

WS RENDRA IMAJINERKU....


Si Burung Merak Telah Pergi Dengan Damai, meninggalkan begitu banyak kenangan buat Negeri Tercinta Indonesia, puisinya membuat aku selalu bersemangat untuk tetap tegar..........................................................................................................................
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................
kelu lidah ini...
remuk hati ini...
lunglai semua tulang ini...
Selamat Jalan Guruku..

Setelah Masuk Islam, Rendra Merasa Dimanja Allah
Jumat, 07-Agustus-2009, 03:02:04
, Republika

''Demi cahaya-Mu, duhai ya Allah, kami berdoa demi Mustafa, bapak tawanan dan para hina, ke hadirat-Mu wasilah kami pada Mustafa. Begitu pula pada warganya tajuk mahkota. Tetapkan iman bersama mati. Semoga didapat apa diminta apa diarah. Jagalah kami dari laku yang nista, laku yang rendah.''

Syair ini meluncur dari mulut Rendra saat menampilkan Shalawat Barzanji, sebuah pertunjukan yang digagas Republika pada 2003. Inilah drama musikal yang bersumberkan skenario Kasidah Barzanji, sebuah pertunjukan teater terbesar pada era 70-an.

Ada beda besar bagi Rendra antara Shalawat Barzanji dan Kasidah Barzanji. ''Kini Shalawat Barzanji saya pentaskan setelah saya menjadi seorang Muslim,'' katanya saat hendak pentas.

Rendra sempat ragu menampilkan Shalawat Barzanji. Namun, hasratnya kian kuat setelah bertemu dengan dukungan Republika. Ia kemudian merasa Shalawat Barzanji lebih dapat ia hayati karena pertunjukan yang menampilkan keteladanan Nabi Muhammad saw itu ia lakoni dalam keadaan diri sebagai Muslim.

''Ada dorongan kerinduan akan Nabi Muhammad saw sebagai teladan. Nabi adalah orang yang tanpa keajaiban, penuh kesederhanaan, dan kerendahan hati, tapi sukses memimpin umatnya keluar dari kegelapan zaman jahiliyah. Itu yang mendorong saya kembali mementaskan naskah ini,'' tuturnya.

Rendr a merasa, setelah masuk Islam, ia seperti dimanjakan oleh Allah. ''Saya diperkenankan menghayati keimanan Islam dan tidak habis-habisnya bersyukur. Saya sering memikirkan apa yang bisa saya lakukan untuk mengimbangi kebaikan Allah sehingga kehidupan saya bisa lebih berguna,'' paparnya. rys/rif


Puisinya Yang Terakhir :
WS Rendra tetap berkarya meski dirawat di rumah sakit karena sakit jantung koroner. Puisi terakhir Rendra menghadirkan nuansa religius yang dalam, yang mengisyaratkan kecintaan pada Sang Pencipta.

"Tuhan, aku cinta padamu..." demikian penggalan puisi yang tak diberi judul itu. Puisi terakhir ini ditulis Rendra pada 31 Juli di RS Mitra Keluarga.

Teks puisi bertulis tangan itu diperlihatkan di rumah duka di Bengkel Teater, Citayam, Depok, Jumat (7/8/2009). Berikut teks puisi tersebut:

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

Rendra
31 July 2009
Mitra Keluarga
(nvc/nrl)


Lihat Juga Tentang Ajaran SAMIN:




Greenpeace SEA-Indonesia
Racikan Obat Herbal
CAMPAKA KAROMAH Khusus Untuk Direbus/Godogan, Insyaallah Dapat Menyembuhkan Penyakit Yang Anda Derita.

Formulator : Deddy kermit madjmoe
Hotline: 081324300415
Jl. Buyut Roda Gg.Polos No.84 Ciledug Cirebon Jawa Barat 45188

Pasien TIDAK MAMPU dan KURANG MAMPU Jangan TAKUT Untuk Berobat Pada Kami....!!!! Kami Tetap akan melayaninya.