01 Desember 2010

Biodata : Kamir Raziudin Brata

Biodata  
Nama         : Kamir Raziudin Brata, MSc  

Lahir        : Cirebon, 12 Desember 1948

Pendidikan   :
- sarjana Pertanian IPB, 1974
- MSc Soil Physic dari University Western Australia, 1992


Karir        :
- Dosen Konservasi Tanah dan Air, Fakultas Pertanian IPB, sejak 1978
- Dosen Ekologi Tanah, Fakultas Pertanian IPB, sejak 1994
- Lektor Kepala dalam mata kuliah Ekologi Tanah, Fakultas Pertanian IPB, sejak 1998


Penelitian   :
- Survei dan pemetaan tanah untuk Proyek Pembangunan Persawahan Pasang Surut (P4S) di Jambi dan Sumatera Selatan
- Survei kemampuan lahan untuk proyek irigasi di Cisadane, Jawa Barat (1973), Jatiroto, Jawa Timur (1974), Citarum, Jawa Barat (1993)
- Studi pengembangan pusat pembibitan di daerah transmigrasi Aceh, Kalimantan Trngah, Irian Jaya, 1993-1994


Publikasi     :
- Modifikasi sistem microcatchment untuk konservasi tanah dan air pada pertanian lahan kering, 2004
- Pemanfaatan jerami padi sebagai mulsa vertikal untuk pengendalian aliran permukaan, erosi, kehilangan unsur hara dari pertanian lahan kering, 1998
- Pengaruh penggunaan cacing tanah, sisa tanaman dan sistem pengolahan tanah terhadap beberapa sifat tanah dan produksi tanaman kedelai pada latosol, 1996


Alamat Kantor :
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB)
Jl. Meranti, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680
Telp : 0251-629354
Fax : 0251-629352

Kamir Raziudin Brata Pencetus Lubang Resapan Biopori

Melestarikan lingkungan hidup tak perlu teknologi yang sulit-sulit. Berbagi kepada yang miskin juga tidak perlu menunggu kaya. Itu falsafah Kamir Raziudin Brata yang sehari-hari mengajar mahasiswa di Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Kamir pula yang mencetuskan teknologi untuk melestarikan fauna tanah dengan lubang resapan biopori (LRB). Dari fungsi meresapkan air ke dalam tanah, LRB secara masif bisa mengurangi risiko banjir. LRB dibuat dengan alat sederhana sehingga Kamir menyebut tidaklah perlu teknologi yang sulit untuk melestarikan lingkungan.

Lalu, apa pula maksud dia, tak perlu menunggu kaya untuk berbagi dengan mereka yang miskin?

Sebab, LRB bisa sekaligus menampung sampah organik. Dengan sendirinya, orang pun dituntut memilah sampah nonorganik, yang kemudian dipungut pemulung sebagai nafkah.

”Tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi kepada para pemulung,” kata Kamir sambil menunjukkan sebuah karung berisi antara lain kertas, plastik, botol, dan kaleng di sudut halaman rumahnya. Dalam sepekan, isi karung itu selalu habis dikuras para pemulung.
Liang biopori

LRB merupakan lubang silindris pada permukaan tanah. Ukurannya sengaja dibuat kecil untuk mengoptimalkan penampang vertikal tanah. Diameter yang lazim hanya 10 sentimeter. Kedalamannya cukup satu meter dengan pengertian lebih dari itu akan makin sedikit oksigen sehingga fauna tanah sulit bertahan hidup.

Alat pembuat LRB disusun dari batang pipa besi 3/4 inci. Pada ujung bawah diberi mata bor tanah dengan lebar sesuai dengan diameter lubang yang diinginkan. Pada bagian atas dibuat pipa melintang untuk memudahkan pegangan ketika ingin memakainya.

”Tukang las besi di mana-mana bisa membuatnya,” kata Kamir, pria kelahiran Cirebon yang dikaruniai dua anak tersebut.

Kerendahan hati juga mencuat pada sosok Kamir. Ia tak ingin mematenkan alat pembuat LRB meski alat tersebut ditemukannya sejak tahun 1976. Akhir-akhir ini pihak instansi IPB-lah yang ingin mengajukan paten tersebut.

Menurut Kamir, paten itu bermanfaat bagi IPB sekadar untuk mengingatkan asal-muasal LRB. Kelak akan memudahkan penelusuran metodologinya dalam kerangka teknologi untuk kelestarian lingkungan.

Padahal, pada masa awal dia memulai menerapkan LRB banyak orang yang tak menanggapinya dengan serius. Mereka justru menganggap LRB terlalu sederhana, relatif bisa dilakukan semua orang.

”Karena terlalu sederhana itu, orang mungkin jadi tidak percaya kalau LRB ada gunanya,” kata Kamir yang justru berusaha membuat alat sesederhana mungkin sehingga semua orang bisa menggunakannya.

Sosialisasi
Sejak banjir besar melanda Jakarta sekitar Februari 2007, dia makin getol menyosialisasikan LRB kepada masyarakat. Ia menyosialisasikan LRB mulai dari tingkat rukun tetangga (RT) sampai provinsi, seperti DKI Jakarta, dan beberapa universitas di Indonesia.

”Sosialisasi LRB sampai di tingkat RT sekaligus pertanggungjawaban moral seorang ilmuwan bagi masyarakat,” kata Kamir yang pada April 2007 mendapat penghargaan dari Wali Kota Bogor untuk LRB-nya itu.

LRB memperkecil ruang alasan bagi masyarakat untuk tidak mengambil peran bagi upaya pelestarian lingkungan, dengan cara meresapkan air bersih (air hujan) sebanyak-banyaknya ke dalam tanah. LRB dapat diaplikasikan pada lahan sempit dengan fleksibel sekalipun di lokasi yang secara ekstrem dibuat perkerasan 100 persen.

Pemilik rumah dapat membuat LRB pada tanah terbuka, yang sekaligus menjadi jalur masuk ke rumah. Di sini yang penting lokasi LRB disesuaikan menjadi permukaan paling rendah sehingga air hujan mengalir ke LRB. Jarak LRB satu dengan yang lain juga sangat fleksibel, bisa sampai radius 20 sentimeter dengan perkerasan bibir lubang di permukaan.

Kalau LRB berfungsi meresapkan air ke dalam tanah, lalu apa bedanya dengan sumur resapan atau situ?

”Hal paling pokok yang membedakan LRB dengan sumur resapan atau situ adalah pada terciptanya liang biopori pada LRB,” katanya.

Liang biopori merupakan terowongan-terowongan kecil di dalam tanah yang terbentuk oleh aktivitas fauna tanah seperti cacing, selain akibat sistem perakaran pohon. Liang biopori ini terisi udara dan bisa memperlancar jalur air yang meresap.

Letak beda yang juga krusial antara LRB, sumur resapan, dan situ adalah pada penambahan luas penampang tanah. Makin berkali-lipat luas penampang tanah, makin besar pula potensi meresapkan air ke dalam tanah.

Kamir membuat perbandingan luas mulut lubang dari yang terkecil dengan diameter 10 sentimeter sampai 100 sentimeter. Makin kecil diameternya, maka beda kali lipat luas penampang tanahnya makin besar.

Keanekaragaman hayati

”LRB jelas-jelas berbeda dengan sumur resapan atau situ,” ujar Kamir sambil menambahkan, LRB memiliki kompleksitas fungsi. LRB berfungsi meningkatkan laju peresapan air ke dalam tanah untuk dijadikan sebagai cadangan air tanah.

Fungsi lainnya, sampah organik di dalam LRB pada hitungan waktu tertentu juga dapat dipungut kembali sebagai pupuk kompos.

Keteruraian sampah organik di dalam LRB berkat peran biodiversitas (keanekaragaman hayati) tanah sehingga LRB sekaligus menjaga kelangsungan biodiversitas fauna tanah.

”Selama ini keanekaragaman hayati yang dijaga seperti harimau yang akan punah atau jenis satwa lainnya yang mulai langka, tetapi fauna tanah jarang dijaga kelangsungan hidupnya,” kata Kamir bernada keluhan.

Dia menambahkan, di dalam tanah ada kehidupan. Semestinya, setiap manusia juga menjaga kehidupan di dalam tanah.

Begitu tak diperhatikannya kelangsungan hidup fauna tanah, sampai-sampai Kamir kerap kali menyitir salah satu syair dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya karya Wage Rudolph Supratman. Ini demi menunjukkan pentingnya menjaga kehidupan di dalam tanah.

Hal seperti itulah yang biasa dikemukakan Kamir saat memberikan sosialisasi fungsi LRB mulai dari tingkat RT sampai provinsi. Bait itu berbunyi, ”Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku, bangsaku, rakyatku semuanya....”

”Kesadaran pentingnya menjaga kehidupan tanah selalu diingatkan di dalam lagu kebangsaan kita,” kata Kamir.

Bila dikaitkan dengan isu pemanasan global, menurut Kamir, LRB bisa berfungsi untuk mengikat karbon dioksida.

Belakangan, semakin banyak orang yang menerapkan LRB karena menganggap sistem ini dapat diandalkan. Namun, Kamir mengaku tak mungkin bekerja sendiri. Dia berharap banyak pihak berminat mengembangkan aplikasi LRB yang dirintisnya.

”LRB terbukti bisa untuk mengurangi genangan. Tetapi, ketika hujan terjadi, faktanya, masih timbul genangan air di mana-mana dan mengakibatkan banyak jalan menjadi rusak parah,” katanya prihatin. (Oleh: Nawa Tunggal, Kompas, Sabtu, 8 Maret 2008) ►ti
 
Kamir Raziudin Brata, peneliti IPB yang memperkenalkan teknologi yang disebut biopori. Biopori adalah teknologi alternatif penyerapan air hujan selain dengan sumur resapan. Istilah beken untuk biopori adalah istana cacing, walaupun sebenarnya penghuni biopori bukan hanya cacing saja.

Teknologinya sederhana, cukup dengan membuat lubang di dalam tanah dengan kedalaman sekitar 1 meter dan diameter kurang lebih 10 cm, kemudian sampah-sampah organik dimasukkan kedalamnya untuk memancing binatang-binatang, semut, cacing atau rayap masuk dan membuat biopori berupa terowongan-terowongan kecil sehingga air cepat meresap. Karenanya walaupun air tekumpul disitu, kondisinya tidak jenuh air yang berarti air cukup, udara cukup, dan makanan tercukupi dari sampah -- yang juga menyebabkan sampah tidak menyebarkan bau. Untuk mencegah orang terperosok, biopori dapat dilengkapi dengan jaring kawat pengaman.

Biopori membuat keseimbangan alam terjaga, sampah organik yang sering menimbulkan bau tidak sedap dapat tertangani, disamping itu kita dapat menabung air untuk keperluan musim kemarau. Penerapan biopori di rumah tangga sangat mungkin dilakukan karena sampah organik dapat dengan mudah ditemukan di dalam rumah.
Caranya dengan memasukkan sampah rumah tangga organik ke dalam biopori setelah memisahkan sampah anorganik ke dalam wadah lain. Dengan cara itu sampah organik yang sering menimbulkan bau tak sedap akan habis dimakan “penghuni” lubang biopori. Pemisahan sampah bermanfaat untuk mempermudah pemulung sehingga mereka tidak perlu mengais-ngais sampah lagi. Pembuatan biopori juga mengurangi aliran air dari halaman rumah satu ke halaman rumah lainnya, atau ke daerah lain yang lebih bawah, yang bisa menyebabkan banjir. Air hujan yang terserap ke dalam lubang biopori juga menambah jumlah cadangan air tanah di daerah itu.

Kelebihan lain dari biopori adalah memperkaya kandungan air hujan. Bila sumber air hanya berupa air hujan tanpa tambahan apa-apa berarti kandungannya hanya H2O. Namun setelah diresapkan kedalam tanah lewat biopori yang mengandung lumpur dan bakteri, air akan melarutkan dan kemudian mengandung mineral-mineral yang diperlukan oleh kehidupan.

Jangan bayangkan lubang biopori hanya bisa dibuat di kampung-kampung yang masih punya halaman luas. Biopori dapat dibuat di rumah yang halamannya terbatas karena ukuran diameternya hanya sekitar 10 cm. Bahkan bisa dilakukan di bangunan-bangunan modern yang halamannya telah di beton atau di semen. Tentu saja harus ada pengorbanan yang dilakukan, yaitu dengan melakukan pelubangan terhadap beton dan semen -- memang memakan biaya -- namun perlu dilakukan karena sangat bermanfaat untuk mencegah banjir dan memperbanyak cadangan air tanah. Pembuatan biopori mungkin tidak cukup dengan himbauan sukarela, tetapi harus dengan sedikit “paksaan” atau jika perlu dengan peraturan daerah. Toh hasilnya akan dinikmati oleh semua penduduk kota.

Sang penemu biopori, Kamir Raziudin Brata adalah seorang peneliti dan dosen di Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan IPB. Pria kelahiran Cirebon memperkenalkan biopori sebagai teknologi untuk mengurangi sampah organik dan mengatasi banjir. Pemkot Bogor telah menyambut baik teknologi Biopori untuk diterapkan di wilayahnya. Pada ulang tahunnya bulan Juni ini, Kota Bogor menargetkan pembuatan lubang biopori sebanyak 22.407 buah.
www.republika.co.id
Republika, Minggu, 20 Mei 2007
Wawancara dengan Kamir R Brata
Membangun Istana Cacing

Teknik Biopori Diperkenalkan
Jakarta – Dalam upaya konservasi dan penyimpanan air tanah hingga tidak terjadi kekeringan di musim kemarau dan tidak banjir di musim hujan, Departemen Arsitektur Lanskap Faperta Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama PT Erhalogy, produk perawatan kesehatan kulit pria dan wanita, mengenalkan penerapan teknik biopori kepada RW 08 Kampung Kalibata Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta.
Ditemukan dan diperkenalkan pertama kali oleh Kamir Raziudin Brata, biopori diciptakan untuk mengolah sampah rumah tangga yang berbentuk bahan organik menjadi kompos dengan cara sederhana.
Cukup dengan memendamnya dengan lubang tanah yang digali di pekarangan rumah, teknologi ini dapat memperbaiki struktur dan aerasi tanah, serta drainase lahan. Ketika turun hujan, sebagian air dapat meresap di dalam tanah, melalui lubang-lubang yang bisa mengatasi masalah banjir.
Ketua Departemen Arsitektur Lanskap Faperta IPB, Hadi Susilo Arifin, mengatakan penerapan teknik biopori diawali di Perkampungan Budaya Betawi Situ Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Pada tahap pertama, kegiatan dilaksanakan pada satu RW, yang terdiri dari empat RT, dengan masing-masing 30 rumah tangga, yaitu RT 09, RT 010, RT 012, dan RT 013. Pada setiap lima rumah tangga, akan diproduksikan satu buah Bordosi yang akan digunakan untuk membuat lubang resapan.
Selain itu, diserahkan 120 tempat sampah untuk digunakan 30 rumah tangga, delapan drum tempat pembuatan Effective Microorganism (EM), sejumlah starter EM, delapan paket bahan EM yang sudah jadi, 60 leflet, dan lima poster A1. (romauli SINAR HARAPAN, Sabtu, 17 November 2007)

Peduli Banjir & Global Warming Erhalogy Kembangkan Teknik Biopori
Sampah rumah tangga yang selama ini disia-siakan pengelolaannya dan menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir besar di kota Jakarta, dapat dikendalikan, bahkan bisa menjadi kompos sehingga lingkungan akan menjadi lebih hijau, bersih, indah, nyaman dan aman.

Kepedulian PT Erhalogy , produk perawatan kesehatan kulit untuk wanita dan pria, ternyata tidak saja peduli dengan masalah kesehatan kulit, namun juga memiliki komitmen untuk ikut ambil bagian dalam mengatasi berbagai masalah yang dihadapi masyarakat sekitar.

Contohnya terhadap dampak negatif dari global warming terhadap alam dan lingkungan hidup. Bukti kepedulian sosial tersebut,ditunjukkan oleh Erhalogy dengan menggandeng Tim dari Departemen Arsitektur Lanskap-Faperta IPB untuk melakukan Penerapan Teknik Biopori di Pekarangan Perkampungan Budaya Betawi, Setu Babakan Jakarta.

Melalui penerapan lubang resapan dengan teknik Biopori ini, dapat dilakukan konservasi air, sehingga air dapat disimpan di dalam tanah. Diharapkan pada musim kemarau tidak terjadi kekeringan dan sebaliknya di musim hujan tidak banjir. Lebih jauh lagi, sampah rumah tangga yang selama ini disia-siakan pengelolaannya dan seringkali menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir besar di kota Jakarta, dapat dikendalikan, bahkan bisa menjadi kompos sehingga lingkungan akan menjadi lebih hijau, bersih, indah, nyaman dan aman.

Biopori ini sendiri ditemukan serta diperkenalkan oleh Ir. Kamir Raziudin Brata, MS. dari Institut Pertanian Bogor.

Biopori diciptakan untuk mengolah sampah rumah tangga yang berbentuk bahan organik menjadi kompos dengan cara yang sangat sederhana. Hanya dengan memendamnya dalam lubang tanah yang digali di pekarangan rumah!

Selain mengatasi masalah sampah, teknologi ini dapat memperbaiki struktur dan aerasi tanah, serta drainase lahan. Sehingga ketika turun hujan sebagian air dapat meresap ke dalam tanah melalui lubang-lubang Biopori, yang bisa mengatasi masalah banjir.


Lubang Biopori Berisi Cacing

”Teknik Biopori memiliki berbagai keuntungan. Antara lain, sampah organik yang terkumpul di dalam lubang Biopori akan menjadi kompos setelah 3 sampai 4 minggu dalam tanah bila ditambah dengan larutan effective microorganism (EM),” ujar Dr. Tati Budiarti, anggota Tim dari Departemen Arsitektur Lanskap - Faperta IPB kepada rileks.com, Sabtu, 17/11-2007, di pekarangan Perkampungan Budaya Betawi, Setu Babakan Jakarta.
Hasil kompos tersebut tak hanya bisa digunakan untuk menyuburkan tanah pekarangan rumah namun bisa juga dipasarkan sehingga memberikan kontribusi pada pendapatan keluarga.
”Sebagai brand yang selama ini sangat peduli dengan masalah kesehatan kulit pada wanita dan pria, Erhalogy juga tidak menutup mata dengan masalah yang dihadapi masyarakat sekitar. Terutama menyangkut masalah lingkungan hidup seperti global warming," tutur Djoko Kurniawan, Brand & CRM Manager - Erhalogy, kepada rileks.com .

Erhalogy juga memahami bahwa akibat efek pemanasan global tersebut masyarakat akan mengalami berbagai masalah yang cukup serius. Mulai dari kekeringan, banjir, hingga suhu yang makin memanas yang nantinya akan berdampak negatif pada kulit dan tubuh seseorang. Itu sebabnya Erhalogy merasa terpanggil untuk memberikan solusi pada masyarakat melalui kegiatan penerapan teknik Biopori ini,lanjut Djoko Kurniawan.

”Dana untuk kegiatan ini kami kumpulkan dari lelang foto dalam pameran yang yang bertajuk Ageposure - Aging Through The Eyes of 5 Photographers yang telah kami lakukan beberapa bulan lalu di Jakarta dan Bandung.”

Sketsa Penampang Lubang Resapan
Program pertama ini akan berjalan di Jakarta selama 4 bulan, yang secara beriringan dilaksanakan pula di Kampung Sirnagalih dan Kampung Pagentongan, Kelurahan Loji, kota Bogor. Sehingga secara bertahap kontribusi Erhalogy dalam mengatasi masalah lingkungan dan global warming dapat dirasakan oleh masyarakat yang cukup luas.

”Program ini diharapkan bisa berlangsung lancar sehingga bisa membuka wawasan kita semua bahwa melalui teknologi yang sederhana tetapi sangat inovatif, bisa memberikan kontribusi besar bagi penanganan masalah lingkungan. Bukan tidak mungkin, kita bisa membantu pemerintah dalam mengatasi masalah banjir yang kerap mengkhawatirkan warga Jakarta."

Sebagai brand yang menawarkan solusi bagi perawatan kesehatan kulit wanita dan pria Indonesia, Erhalogy sendiri, aku Djoko, akan terus mempertahankan komitmennya untuk mencari hal-hal yang inovatif agar dapat memberikan yang terbaik dan terbaru bagi para konsumen loyalnya. (lily http://www.rileks.com/ragam/index.php?act=detail&artid=31102006116181)

Kecil Lubangnya Besar Manfaat
Kota kita tercinta Salatiga Hati Beriman, merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki curah hujan tinggi. Jika musim penghujan tiba, tidak jarang matahari hanya nampak pada jam 11.00-12.00 saja, itupun masih diselimuti awan. Namun herannya, di musim kemarau orang direpotkan dengan masalah kekurangan air, terlebih lagi daerah sebagian kecamatan Argomulyo kawasan atas.

Kelangkaan air ini merupakan masalah tahunan yang dihadapi Kota Salatiga, di lain sisi kota ini dikelilingi wilayah yang memiliki sumber mata air dengan debit cukup tinggi. Contohnya: pemandian Senjoyo, Muncul, Rawa Permai yang merupakan wilayah Kabupaten Semarang. Sedang di Salatiga sendiri juga memiliki banyak sumber mata air seperti Kelurahan Kecandran dan Kutowinangun serta masih banyak potensi mata air lainnya.

Permasalahan ini menimbulkan rasa gerah dikalangan Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH) Kota Salatiga, utamanya Bidang Lingkungan. Oleh karenanya mulai tahun 2007 ini getol mempromosikan satu temuan salah satu insinyur dari Institut Pertanian Bogor (IPB) berupa lubang resapan air.

Dia adalah Ir. Kamir Raziudin Brata, M.Sc penemu teknologi lubang resapan sederhana yang diberi nama Lubang Resapan Biopori (LRB), sedang karena peningkatan laju resapan air terjadi karena terbentuknya bioposi maka system tersebut diperkenalkan sebagai Saluran Resapan Biopori (SRB).

LBR merupakan lubang berbentuk silinder yang memiliki ukuran diameter 10-30 cm dengan kedalaman 100 cm, namun jangan sampai melebihi kedalaman muka air tanah. Lubang-lubang biopori ini nantinya dapat diisi dengan sampah-sampah organic baik dari limbah rumah tangga, atau berupa daun agar mendorong terbentuknya biopori. Jadi biopori adalah lubang/terowongan kecil yang dibentuk oleh aktivitas fauna (mikrobia) tanah dan akar tanaman.

Selain sebagai lubang resapan, LRB juga secara otomatis berfungsi mencegah banjir di musim penghujan karena meningkatkan daya resap tanah, mengubah sampah organic menjadi kompos, meningkatkan peran aktivitas fauna tanah serta mengatasi masalah yang ditimbulkan karena masalah genangan air berupa penyakit demam berdarah dan malaria.

Mengenai lokasi pembuatan LBR ini dapat ditempatkan dimana saja, misalnya halaman, kebun, saluran air, tempat genangan air dan sebagainya asalkan lokasi tersebut dapat dialiri air hujan dan tidak tertutup oleh atap.

Tahapan pembuatan LRB adalah : pertama, buatlah lubang silinder ke dalam tanah dengan diameter 10-30 cm serta kedalaman 100 cm (jangan sampai melebihi kedalaman air tanah), jarak lubang 50-100 cm. Kedua, mulut lubang dapat diperkuat dengan adukan semen setebal 2 cm dan lebar 2-3 cm mengelilingi lubang. Ketiga, segera isi LRB dengan sampah organic. Keempat, kompos yang terbentuk dalam lunbang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang. Kelima, sampah organic perlu selalu ditambahkan ke dalam lubang yang sudah berkurang isinya karena proses pelapukan.

Sedangkan jumlah lubang yang harus dibuat untuk setiap luas tanah adalah dapat menggunakan rumus (50X100): 180= 27, sekian. Jadi untuk setiap tanah seluas 100 m2 diisi dengan 28 lubang biobori. Contoh tersebut adalah untuk daerah dengan intensitas curah hujan 50 mm/jam (hujan lebat), dengan laju peresapan air perlubang 33 liter/menit.

Bila lubang biopori tersebut dibuat dengan kedalaman 100 cm dengan diameter 10 cm, setiap lubang dapat menampung 7,8 liter sampah organic, dan ini dapat dipenuhi sampah organic dapur 2-3 hari. Dengan demikian 28 lubang baru dapat dipenuhi sampah organic

Maka selain mimiliki fungsi penyerap air, LRB juga dapat meringankan mengatasi masalah persampahan di perkotaan, utamanya sampah organik yang dapat terurai. Apabila pembuatan lobang biopori telah membudaya di tiap-tiap warga maka barang tentu permasalahan menumpukanya sampah di TPA akan terkurangi.

Di Salatiga sosialisasi tentang teknis pembuatan dan manfaat lubang biopori telah dilaksanakan oleh DPLH, antara lain di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga, di Jembrak Kabupaten Semarang dengan peserta LSM dan tokoh masyarakat Salatiga, di SD Kecandran, di SMP N 5 Salatiga, di SMK 2 Salatiga, di Universitas Kristen Satyawacana (UKSW) dan di daerah masing-masing staf DPLH.

“Dibanding dengan sumur resapan, system ini lebih murah. Jika sumur resapan ditaksir menghabiskan dana 1-2 juta, sedangkan dengan alat pembuat lubang biopori harganya antara 150-250 ribu. Akan lebih irit lagi jika alat tersebut digunakan bersama-sama, misalnya tiap RW memiliki satu” terang Riawan Widyatmoko Sataf DPLH.

“Selama sosialisasi minat warga Salatiga cukup tinggi, namun mereka belum mau bertindak. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh enggannya mereka membeli alat pembuat lubang. Memang manfat biopori agar menghasilkan mata air cukup lama, tapi manfaat mencegah banjir dan mengatasi permasalahan sampah dapat dirasakan”tambah Riawan.

Saat ini target utama DPLH adalah Salatiga bagian atas di Kecamatan Argomulyo dan Sidomukti. Daerah ini sangat strategis untuk daerah resapan, karena air hujan tidak mengalir diatas tanah melainkan di dalam tanah setelah diserap lubang biopori.

Ada anggapan air yang ada di lubang bipori akan menimbulkan bau dan mencemari air bawah tanah. Hal tersebut dibantah oleh Ir. Kamir penemu teknologi ini. Hal tersebut tidak akan terjadi karena sampah organic jumlahnya sedikit demikian juga air yang masuk, sehingga tidak akan terjadi genangan. Air akan meresap kedalam tanah sehingga memudahkan proses penguraian sampah yang relatif cepat. Kasmir juga menambahkan jika pada sumur resapan, mungkin terjadi munculnya bau karena volume air yang cukup tinggi dan menggenang.(lux)

Sumber: DPLH Kota Salatiga, Percik dan Makalah Ir. kamir R. Brata.

21 November 2010

Deddy Madjmoe:Kegelisahan Penjaga Lingkungan


Banjir, longsor, dan kerusakan lingkungan menjadi keresahan hidup Deddy Madjmoe (42). Di Ciledug Wetan, desa kecil di pinggir pantai utara Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, aktivis lingkungan ini memilih mengorbankan waktu dan tenaga untuk menggerakkan puluhan warga guna mengembalikan lingkungan desanya agar hijau lagi.
Deddy akrab dipanggil dengan Deddy Kermit. Panggilan Kermit—si katak hijau dalam serial televisi—itu karena sejak SMA tahun 1987 dia suka mendaki gunung dan aktivitas cinta alam lainnya.
Deddy, yang sehari-hari bekerja sebagai herbalis, sangat memerhatikan ketidakberesan alam. Ia resah melihat sekawanan rusa dan babi hutan yang turun dari hutan di perbukitan karena kekeringan. ”Ini tidak biasa,” katanya suatu saat.
Deddy menangkap keganjilan alam tersebut. Ia tahu betul ada yang tak beres dan dia tak berhenti mencari tahu penyebabnya.
Dua tahun lalu, Deddy dan kawan-kawan dari Perkumpulan Pencinta Kelestarian Alam (Petakala) Grage, Cirebon, melepaskan induk rusa di hutan Gunung Tilu, perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Induk rusa itu diharapkan bisa berkembang biak secara alami karena populasinya kian menciut akibat perburuan, permukiman, dan perladangan. Namun kini, rusa-rusa itu justru mendekati perkampungan.
Karena penasaran, Deddy dan kawan-kawannya pun mengadakan survei kecil tentang mata air. Hasilnya, ternyata alam memang sudah terdegradasi. Tiga mata air yang ditemukan ternyata semuanya sudah tak lagi menyediakan air berlimpah.
Mata air di hutan Caringin, misalnya, kering pada musim kemarau. Adapun mata air Jamberancak hanya mengalir dengan volume kecil. Hutan-hutan habitat babi dan rusa yang dahulu hijau berubah menjadi ladang tebu dan tambang pasir. Hutan tak lagi menyediakan cukup air untuk penghuninya, seperti rusa dan babi hutan, pada musim kemarau.
Kegelisahan Deddy berlanjut dan mendorongnya untuk terlibat langsung dalam aksi lingkungan. Pada Januari 2010, saat banjir mengepung Cirebon, pemanjat tebing ini mengabaikan pekerjaannya sebagai herbalis.
Setiap hari ia memantau ketinggian air Sungai Cisanggarung yang hampir selalu meluap saat hujan. Di kala warga lain terlelap tidur, ia memilih menjadi sukarelawan siaga banjir dan membantu warga yang kebanjiran.
Saat tanggul desa jebol dan melimpahkan isi sungai ke perkampungan, merendam persawahan, dan usaha batu bata warga, kegelisahan Deddy pun memuncak. Ia berkali-kali mengadu kepada pemerintah tentang derita warga di wilayahnya akibat banjir karena sedimentasi dan jebolnya tanggul. Karena tak segera ditanggapi, ia dan rekan-rekannya pun akhirnya bergerak sendiri.

Bermodal tenaga dan tekad, Deddy bersama warga dan para aktivis di Petakala Grage membangun tanggul darurat secara swadaya. Modalnya hanya bambu, makanan, dan bantuan tenaga dari warga serta karung dari instansi pemerintah. Hasil kerja dari modal sederhana itu untuk sementara bisa memberikan rasa aman bagi warga.
Langkahnya tidak berhenti di situ. Deddy dan kawan-kawan juga merambah ke Kuningan. Mereka berjuang membuat kawasan karst Goa Indrakila di Kuningan agar tetap lestari.
Kawasan yang menjadi habitat tanaman langka dan macan ini dikhawatirkan rusak akibat kegiatan penambangan pasir. Deddy berpikir menjadikan kawasan ini sebagai ekowisata lebih menguntungkan dalam jangka panjang dibandingkan proses penambangan pasir yang jelas-jelas merusak lingkungan.
”Indrakila bisa terpelihara dengan ekowisata. Penduduk pun akan ikut memelihara karena ini sumber ekonomi mereka,” kata Deddy suatu sore ketika menengok kawasan karst Maneungteung di Cirebon.
Tabungan sendiri
Deddy akrab dengan dunia lingkungan sejak SMA. Panjat tebing dan naik gunung adalah kegiatannya sehari-hari. Dari situlah dia mengenal alam sangat dekat. Bahkan, hidupnya kini tak bisa jauh dari tumbuhan dan hewan.
Meski demikian, Deddy tidak hidup dari kegiatannya yang berkaitan dengan lingkungan. Ia justru yang menghidupi kegiatan itu dengan mendirikan organisasi nirlaba Petakala Grage pada 1986 bersama teman temannya.
Setiap kali mengadakan kegiatan, seperti kerja bakti pembangunan tanggul, penanaman pohon, atau pelepasan rusa, ia rela mengorbankan tabungan pribadinya. Padahal, dari sisi materi, ayah tiga anak ini hidup sederhana. Sarana transportasinya hanya sepeda onthel dan istrinya masih bekerja sebagai guru honorer di SD Negeri II Ciledug Wetan.
Tentu saja usaha yang dilakukan Deddy tak bisa berhasil tanpa dukungan rekan-rekannya. Sama halnya dengan Deddy, mereka punya jiwa dan kesadaran lingkungan yang tinggi. Untuk hidup, mereka bekerja sebagai mekanik bengkel atau penjahit. Sebagian hasil kerja mereka itu disumbangkan untuk kegiatan pelestarian lingkungan. ”Ini memang panggilan hidup kami, rasanya tidak rela jika pohon dirusak,” ujar Deddy.
Baru-baru ini, Deddy dan 20 kawannya mencoba menghijaukan Bukit Maneungteung di perbatasan Cirebon dan Kuningan dengan tanaman manoa, asam jawa, dan pinang. Seperti langkah sebelumnya, dia melibatkan warga dan menggunakan dana swadaya dari tabungan pribadi mereka.
Bukit itu sejak bertahun-tahun lalu menarik perhatian mereka karena berubah fungsi dari hutan menjadi tambang pasir. Kini separuh bukit telah hilang karena digali pasirnya. Fungsinya sebagai salah satu sumber penyerapan air di wilayah timur Cirebon kini hilang karena tak ada satu pohon pun yang tumbuh.
Gerakan menanam pohon secara swadaya adalah jawabannya karena belum tampak ada tindakan dari pemerintah untuk menyelamatkan lingkungan hutan tersebut.
Meski bermisi sosial, gerakan Deddy tak selamanya berjalan lancar. Niatnya menghijaukan Bukit Maneungteung seluas lebih dari 5 hektar membuat dia harus berurusan dengan polisi. Polisi melarang kegiatan penanaman pohon di bukit yang kini masih dalam perkara hukum karena penambangan ilegal tersebut.
Namun, jangan sebut dia Deddy Kermit jika menyerah. Dia tetap melanjutkan usaha itu. ”Polisi memegang KUHP sebagai dasar tindakan, tetapi kami pencinta lingkungan berpikir beda. Kalau tidak segera dihijaukan, bagaimana nanti jadinya lingkungan ini,” katanya.


  • didik raharyono
    Rabu, 6 Oktober 2010 | 21:17 WIB
    bravo! bravo! hong wilaheng sekareng bawono langgeng.... semoga DIA benar-benar Tidak Tidur.... selamat berdzikir Kang Deddy...

  • marudut siahaan
    Kamis, 30 September 2010 | 12:18 WIB
    Seharusnya semua manusia saat ini, di belahan manapun terutama korporasi-korporasi, pemerintah pusat dan daerah, harus sadar dan bertobat bahwa kita semua tidak bisa hidup tanpa alam. Jika kita tidak memperhatikan kelestarian alam, maka tidak hanya kita yang akan rugi dan menderita, tetapi juga pastinya para anak-anak kita generasi berikutnya. Bertobatlah! Cintailah lingkunganmu!

  • Vega Priyono
    Kamis, 30 September 2010 | 10:48 WIB
    salung A...jd teringat ktika qt bersama melakukan penghijauan di bukit itu pada 1997......semua harapan penghijauan itu kini tergerus keserakahan pembangunan TransJawa

  • Sheila Kartika
    Selasa, 28 September 2010 | 13:10 WIB
    salut dengan orang2 seperti Kang Deddy. semoga semakin banyak yang sadar akan pentingnya lingkungan. salam hijau.

  • wilarno setiawan
    Selasa, 28 September 2010 | 07:17 WIB
    Setuju kang Deddy Kermit, semoga tetap kuat dan didukung lebih banyak lagi oleh warga yang peduli lingkungan.

09 November 2010

PRODUCE BAMBOO

Generally bamboo produce new shoots each growing season.  The shoots grow to their full height in a single growing season and do not continue to get taller or larger diameter each year like a tree.  Although water, sun, and nutrients are factors the new shoots on a young bamboo tend to get larger diameter and taller each year untill the plant reaches its full diameter and height. A young culm from a clumping bamboo will die if it is removed from the mother plant before it has branches, leaves and roots. Young culms one to three years make better propagation material(culm cuttings) but are not good for building material. Photosynthesis in culm and leaves decrease with increasing age and the sugars in the culm decrease and the culm lignifies and silicifies becoming useful for building material after three to six years.  Harvesting mature culms does not lead to the death of the entire plant.INFO : 
http://www.texasbamboosociety.net/

BAMBU YANG BERNILAI EKONOMI

1. Bambusa bambos (L.) Voss
Nama lokal: bambu ori, jawa : pring ori 
Tinggi, diameter dan warna batang:
Tinggi mencapai 30 m (dinding batang sangat tebal dan batang berbulu tebal); 15-18 cm (jarak buku 20-40 cm); hijau muda.
Tempat tumbuh:
Tanah basah, di sepanjang sungai.
Budidaya :
Jarak tanam 6 m x 6 m. Pemberian pupuk kompos 5-10 kg pada saat penanaman berguna untuk pertumbuhan awal. Pemupukan dengan NPK akan meningkatkan biomasa. Jenis ini kurang cocok untuk skala luas karena berduri sehingga menyulitkan dalam pemanenan. Penebangan dapat dilakukan dengan memotong setinggi 2 m dari atas tanah.
Pemanenan dan Hasil :
panen dapat mulai dilakukan setelah umur 3-4 tahun. Sisakan 8-10 batang setiap rumpun untuk mempertahankan tingkat produksi. Hindari pengambilan risoma untuk perbanyakan karena dapat merusak rumpun. Produktivitas tahunan dapat mencapai sekitar 5000-8000 batang/ha.
Manfaat :
Rebungnya (sayuran), daunnya (makanan ternak), dan bibitnya (bahan makanan sekunder) sampai dengan batangnya (keperluan rumah tangga dan bahan dasar bangunan). Jenis ini berguna sebagai pengendali banjir bila ditanam disepanjang sungai dan pelindung tanaman dari angin kencang. Batangnya dipakai untuk industri pulp, kertas dan kayu lapis. Jenis ini juga dapat dipakai sebagai bahan dasar pembuatan semir sepatu, lem perekat, kertas karbon dan kertas kraft tahan air. Rendaman daun bambunya dipakai untuk penyejuk mata dan mengobati penyakit (bronkitis, demam, dan gonorrhoea).
2. Bambusa vulgaris Schrader ex Wendland
Nama lokal: pring ampel, bambu ampel, haur 
Tinggi, diameter dan warna batang:
Tinggi mencapai 10-20 m (batang berbulu sangat tipis dan tebal dinding batang 7-15 mm); 4-10 cm (jarak buku 20-45 cm); kuning muda bergaris hijau tua.
Tempat tumbuh :
Mulai dataran rendah hingga ketinggian 1200 m, di tanah marjinal atau di sepanjang sungai, tanah genangan, pH optimal 5-6,5, tumbuh paling baik pada dataran rendah.
Budidaya :
Jarak tanam 8 m x 4 m (312 rumpun/ha). Pemberian pupuk sangat dianjurkan untuk meningkatlkan hasil. Dosis pupuk per ha adalah 20-30 kg N,0-15 kg P, 10-15 kg K dan 20-30 kg Si. Pembersihan cabang berduri dan dasar rumpun tua akan meningkatkan produksi batang bambu dan mempermudah pemanenan.
Pemanenan dan Hasil :
Pemanenan dapat dimulai setelah tanaman berumur 3 tahun, puncak produksi mulai umur 6-8 tahun. Rebung dapat dipanen 1 minggu setelah keluar dari permukaan. Satu rumpun dalam setahun dapat menghasilkan 3-4 batang baru. Produksi tahunan diperkirakan menghasilkan sekitar 2250 batang atau 20 ton berat kering/ha.
Manfaat :
Air rebusan rebung muda bambu kuning dimanfaatkan untuk mengobati penyakit hepatitis. Batangnya banyak digunakan untuk industri mebel, bangunan, perlengkapan perahu, pagar, tiang bangunan dan juga sangat baik untuk baha baku kertas.
3. Dendrocalamus asper (Schultes f.) Backer ex Heyne
Nama lokal : bambu petung, buluh betung, bulu jawa, betho.  
Tinggi, diameter dan warna batang:
Tinggi mencapai 20-30 m (batang berbulu tebal dan ebal dinding batang 11-36 mm); 8-20 cm (jarak buku 10-20 cm di bagian bawah dan 30-50 cm di bagian atas); coklat tua.
Tempat tumbuh :
Mulai dataran rendah hingga ketinggian 1500 m, tumbuh terbaik pada ketinggian antara 400-500 m dengan curah hujan tahunan sekitar 2400 mm. Tumbuh di semua jenis tanah tetapi paling baik di tanah yang berdrainase baik.
Budidaya :
Jarak tanam 8m x 4m (312 rumpun/ha). Pemberian pupuk sangat dianjurkan untuk meningkatkan hasil. Dosis pupuk setiap tahun adalah 100-300 kg/ha NPK (15:15:15). Untuk memperbanyak rebung baru sangat dianjurkan untuk memberi seresah di sekitar rumpun.
Pemanenan dan Hasil :
Pemanenan dapat dimulai setelah tanaman berumur 3 tahun, puncak produksi mulai umur 5-6 tahun; untuk pemanenan rebung dilakukan satu minggu setelah rebung muncul ke permukaan. Satu rumpun dewasa dapat menghasilkan 10-12 batang baru per tahun (dengan 400 rumpun menghasilkan sekitar 4500-4800 batang/ha). Produktivitas tahunan rebung dapat menghasilkan 10-11 to rebung/ha dan untuk 400 rumpun per ha dapat mencapai 20 ton rebung.
Manfaat :
Rebung dari jenis ini adalah rebung yang terbaik dengan rasanya yang manis dibuat untuk sayuran. Batangnya digunakan untuk bahan bangunan (perumahan dan jembatan), peralatan memasak, bahkan juga untuk penampung air. Banyak digunakan untuk konstruksi rumah, atap dengan disusun tumpang-tindih, dan dinding dengan cara dipecah dibuat plupu.
4. Dendrocalamus strictus (Roxb.) Nees
Nama lokal : bambu batu 
Tinggi, Diameter dan Warna batang:
Tinggi mencapai 8-16 m (batang berbulu tebal dan tebal dinding batang hingga 1 cm); 2,5-12,5 cm (jarak buku 30-45 cm); hijau – kekuningan – buram.
Tempat tumbuh :
Di segala jenis tanah, khususnya tanah liat berpasir dengan drainase yang baik dengan pH 5,5-7,5. Ketinggian dari permukaan laut sampai dengan 1200 dengan curah hujan optimal per tahun 1000-3000 mm.
Budidaya :
Iklim dan jenis tanah memegang kunci dalam keberhasilan penanaman jenis ini. Jika tanahnya miskin hara atau terlalu kering atau kena penyakit akan mempengaruhi elastisitas bambu (mudah patah) dan bisa menyebabkan kerontokan daun. Suhu haruslah berkisar antara 20-30 derajat C (min 5 derajat C, maks 45 derajat C). Aplikasi penyubur NPK sangat dianjurkan (misal campuran 15:15:15 untuk 200 kg/ha). Jarak tanam 3-5 m x 3-5 m (400-1000 rumpun/ha).
Pemanenan dan Hasil :
Dilakukan setelah 3-4 tahun. Pemotongan dapat dilakukan kurang dari 30 cm di atas tanah dan / diatas jarak buku ke dua. Produktivitas tahunan dari penanaman 400 rumpun bisa mencapai sekitar 3,5 ton bamboo atau dengan 200 rumpun bisa mencapai 2,8 ton bamboo.
Manfaat :
Digunakan untuk bahan industri pulp dan kertas, kayu lapis, bangunan, mebel, anyaman, peralatan pertanian, dan peternakan. Daunnya digunakan untuk makanan ternak.
5. Gigantochloa apus (J.A & J.H. Schultes) Kurz
Nama lokal: bambu apus, pring apus, peri 
Tinggi, Diameter dan Warna batang:
Tinggi mencapai 8-30 m (batang berbulu tebal dan tebal dinding batang 1,5 cm); 4-13 cm (jarak buku 20-75); hijau keabu-abuan cenderung kuning mengkilap.
Tempat tumbuh :
Jenis ini dapat tumbuh di dataran rendah, dataran tinggi (atau berbukit-bukit) sampai dengan 1500 m. Bahkan juga dapat tumbuh di tanah liat berpasir.
Budidaya:
Penanaman jenis ini sebaiknya dilakukan antara bulan Desember samapai Maret. Untuk meningkatkan produktivitasnya dapat diberi pupuk kompos atau pupuk kimia, jarak tanam 5-7 m2.
Pemanenan dan Hasil :
Dilakukan setelah 1-3 tahun pada musim kering (antara April sampai Oktober) pada batang yang sudah berumur lebih dari 2 tahun. Produktivitas dalam satu rumpun adalah 6 batang. Produktivitas tahunannya dapat menghasilkan sekitar 1000 batang/ha.
Manfaat :
Biasanya digunakan sebagai tanaman pagar penghias. Batangnya juga dapat dipakai sebagai alat pembuatan pegangan payung, peralatan memancing, kerajinan tangan (rak buku), industri pulp dan kertas dan penghalau angin kencang (wind-break). 
6. Gigantochloa atroviolacea Widjaja
Nama lokal:
bambu hitam, pring wulung, peri laka
Tinggi, Diameter dan Warna batang:
Tinggi mencapai 2 m (batang berbulu tipis/halus dan tebal, dinding batang hingga 8 mm); 6-8 cm (jarak buku 40-50 cm); Dari hijau-coklat tua-keunguan atau hitam.
Tempat tumbuh :
Ditanah tropis dataran rendah, berlembab, dengan curah hujan per tahun mencapai 1500-3700 mm, dengan kelembaban relatif sekitar 70% dan temperatur 20-32 derajat C. Dapat pula tumbuh di tanah kering berbatu atau tanah (vulkanik) merah. Jika ditanam di tanah kering berbatu, warna ungu pada batang akan kelihatan semakin jelas.
Budidaya :
Jarak tanam 8 m x 7 m (200 rumpun/ha). Dianjurkan untuk selalu memperhatikan tentang pengairan, pembersihan gulma dan penggemburan tanah secara terus-menerus selama 2-3 tahun setelah awal penanaman. Pembersihan dasar rumpun tua dan penggalian ulang tanah akan meningkatkan produksi rebung.
Pemanenan dan Hasil :
Pemanenan dapat dimulai setelah tanaman berumur 4-5 tahun dengan hasil produksi 20 batang per 3 tahun (atau dengan 200 rumpun/ha dapat menghasilkan sekitar 4000 batang/ha dalam 3 tahun).
Manfaat :
Digunakan untuk bahan pembuatan instrumen musik seperti angklung, calung, gambang dan celempung. Juga berfungsi untuk bahan industri kerajinan tangan dan pembuatan mebel. Rebungnya dapat dimanfaatkan sebagai sayuran.
7. Gigantochloa pseudoarundinacea (Steudel) Widjaja
Nama lokal: bambu andong, gambang surat, peri 
Tinggi, Diameter dan warna batang:
Tinggi mencapai 7-30 m (batang berbulu tebal dan tebal dinding batang hingga 2 cm); 5-13 cm (jarak buku hingga 40- 45 cm); hijau kehijau-kuningan atau hijau muda.
Tempat tumbuh :
Di tanah liat berpasir/tanah berpasir dengan ketinggian hingga 1200 m di atas permukaan laut dengan curah hujan per tahun 2350-4200 mm, temperatur 20-32 derajat C dengan tingkat kelembaban relatif sekitar 70%.
Budidaya :
Jarak tanam 8 m x 8 m. Pemberian pupuk organik maupun pupuk kompos pada awal penanaman sangat berguna sekali bagi peningkatan produksi. Juga dianjurkan untuk dilakukan pembersihan gulma, diperhatikan tentang pengairan serta penggemburan tanah. Pembersihan dasar rumpun tua dan penggalian ulang tanah akan memacu pertumbuhan batang baru.
Pemanenan dan Hasil :
Pemanenan dapat dimulai setelah berumur 3 tahun dengan memotong batang tepat di atas tanah dan sebaiknya dipilih musim kering untuk memanennya. Untuk regenerasi batang baru dianjurkan untuk menggali ulang dan menutup dasar batang sisa panen dengan plastik. Hasil produksi tahunan untuk 275 rumpun/ha menghasilkan sekitar 1650 batang/ha atau 6 batang/rumpun.
Manfaat :
Digunakan untuk bahan bangunan, pipa air, mebel, peralatan rumah tangga, sumpit makan, tusuk gigi, dan peralatan musik. Rebungnya dapat dimasak menjadi sayuran.

INFO :
1.  http://www.bambooweb.info/

Pemanfaatan Bambu


Pemanfaatan Bambu Berdasarkan Spesiesnya
Sumber: Small Scale Bamboo Enterprises in Indonesia Case study in Bali and Tana Toraja (Sulawesi) by Dra. Reki Mayangsari ladybamboo.org, from EBF Bali
 No. Species                    Uses at present
  1.  Bambusa atra               basketry, handicraft
 2.  Bambusa bamboo             basketry, paper
 3.  Bambusa blumeana           basketry, chopstick
 4.  Bambusa heterostachya      basketry
 5.  Bambusa hirsuta            basketry
 6.  Bambusa vulgaris           basketry, building, handicraft
 7.  Bambusa sp. 1              building, handicraft, furniture
 8.  Bambusa sp. 3              basketry, building
 9.  Bambusa sp. 11             building
 10.  Dendrocalamus asper        basketry, building, handicraft, furniture, vegetables
 11.  Dinochloa scandens         ornamental plant
 12.  Gigantochloa achmadii      basketry, building, handicraft
 13.  Gigantochloa apus          basketry, building, handicraft, furniture
 14.  Gigantochloa atroviolacea  basketry, building, handicraft, furniture, music
 15.  Gigantochloa atter         basketry, building, handicraft, furniture, music, chopstick, toothpick
 16.  Gigantochloa balui         building, handicraft
 17.  Gigantochloa hasskarliana  building, handicraft
 18.  Gigantochloa levis         basketry, building, handicraft
 19.  Gigantochloa manggong      building, chopstick, toothpick
 20.  Gigantochloa nigrociliata  building, vegetable
 21.  Gigantochloa pseudoarundinacea    basketry, building, handicraft, toothpick
 22.  Gigantochloa pruriens      building, handicraft
 23.  Gigantochloa robusta       basketry, building, vegetable
 24.  Gigantochloa scortechinii  basketry, building
 25.  Gigantochloa wrayi         basketry, building, medicine
 26.  Gigantochloa sp. 1 (kuring)  basketry, building, medicine
 27.  Gigantochloa sp. 2 (munti)  basketry
 28.  Gigantochloa sp. 3 (kapal)  basketry, building, medicine
 29.  Gigantochloa sp. 4 (sariak)  basketry, building, medicine
 30.  Gigantochloa sp. 5         basketry, building
 31.  Gigantochloa sp. 6         basketry, building
 32.  Gigantochloa sp. 7 (tali)  basketry, building, handicraft
 33.  Gigantochloa sp. 8         basketry, building
 34.  Gigantochloa sp. 9 (jahe)  basketry, building
 35.  Gigantochloa sp. 10        basketry, building
 36.  Gigantochloa sp. 11        basketry, building
 37.  Gigantochloa sp. 12        basketry, building
 38.  Nastus elastus             building
 39.  Nastus schmutzii           basketry
 40.  Schziostachyum blumei      basketry, music
 41.  Schziostachyum brachycladum  basketry, building, handicraft, music, traditional ceremony
 42.  Schziostachyum caudatum    traditional ceremony
 43.  Schziostachyum grande      basketry
 44.  Schziostachyum iraten      music
 45.  Schziostachyum latifolium  music
 46.  Schziostachyum lima        basketry, music
 47.  Schziostachyum zollingeri  basketry, building, handicraft
 48.  Schziostachyum sp. 1       basketry
 49.  Schziostachyum sp. 2.(bamban)      basketry
 50.  Schziostachyum sp. 4 (mampouw)     basketry
 51.  Schziostachyum sp. 5       basketry
 52.  Schziostachyum sp. 7       basketry
 53.  Schziostachyum sp. 8       basketry
 54.  Schziostachyum sp. 9 (kelae)      basketry
 55.  Schziostachyum sp. 10(kedampal)   basketry, building
  56.  Schziostachyum sp. 11      basketry, building
Pemanfaatan Bambu Berdasarkan Spesiesnya
 Sumber :

SPESIES BAMBU

Spesies dan Nama Lokal Bambu di Indonesia dan Malaysia(diolah dari www.plantnames.unimelb.edu.au dengan tambahan dari berbagai sumber)

1.Bambusa amahussana Lindley: Bambu nitu

2.Bambusa atra Lindley: Buluh luleba (Indonesia)  

3.Bambusa nutans G.C. Wall. ex Munro:  Sering jai

4.Bambusa arundinacea (Retz.) Willd.: Bambu duri, Pring ori,

5.Bambusa burmanica Gamble Buloh aoh bukit

6.Bambusa dolichomerithalla Hayata 'Green-Striped-Stem':  Buloh bersumpitan

7.Bambusa glauscencens: Bambu Cendani

8.Bambusa heterostachya (Munro) Holttum Buloh galah, Buloh pengait, Buloh telang, Buluh pengait.

9.Bambusa multiplex (Lour.) Raeusch. var. nana (Roxb.) Keng f. : Aor selat (West Kalimantan), Awi krisik (Indonesia - Sundanese), Bambu cina, Bambu pagar (Indonesia), Buloh cina, Buloh pagar, Buluh pagar, Pring cendani (Java, Indonesia)

10.Bambusa sinospinosa McClure: Bambu duri kecil (Java, Indonesia),

11.Bambusa spinosa Roxb. : Aor duri (West Kalimantan), Bambu duri, Buloh duri, Buloh sikai, Pring gesing (Java), Aor duri (West Kalimantan)

12.Bambusa textilis McClure 'Maculata':  Pring tutul (Java)

13.Bambusa tuldoides Munro: Bambu blenduk (Indonesia), Buloh balai,

14.Bambusa vulgaris Schrad. ex J. C. Wendl.: Bambu ampel (Indonesia), Bambu kuning (Indonesia), Buloh aao beting, Buloh aur, Buloh gading, Buloh kuning, Buloh minyak, Buloh pau, Pring ampel,

15.Bambusa wamin Brandis ex Camus: Bambu blenduk (Indonesia),

16.Dendrocalamus asper (Schult. & Schult. f.) Backer ex K. Heyne: Awi bitung (Indonesia - Sundanese), Bambu betung (Indonesia), Buloh beting, Buloh betong, Buloh panching, Deling petung (Java), Pring petung (Indonesia), Rebong china (Singapore),

17.Dendrocalamus giganteus Wallich ex Munro: Bambu sembilang (Indonesia), Buloh betong,

18.Dendrocalamus hirtellus Ridley: Buloh kapor

19.Dendrocalamus latiflorus Munro: Bambu taiwan (Indonesia),

20.Dendrocalamus pendulus Ridley: Buloh tali, Buloh akar,

21.Dendrocalamus strictus (Roxb.) Nees: Bambu batu (Indonesia), Buloh batu, Pring peting (Java, Indonesia),

22.Dinochloa scandens (Blume) Kuntze: Pring kadalan (Java, Indonesia)

23.Gigantochloa achmadii Widjaja Buluh apo

24.Gigantochloa apus (Schult. & Schult. f.) Kurz: Awi tali (Indonesia - Sundanese), Bambu apus (Indonesia), Bambu tali, Deling apus (Java), Pring apes, Pring apus (Java), Pring tali,

25.Gigantochloa atroviolacea Widjaja: Bambu hitam, Awi hideung (Indonesia - Sundanese), Bambu betung hitam (Indonesia), Pring wulung,

26.Gigantochloa atter (Hassk.) Kurz: Awi teme (Indonesia - Sundanese), Awi temen (Indonesia - Sundanese), Bambu ater (Indonesia), Bambu legi (Indonesia), Bambu santong (Indonesia), Buluh jawa (Eastern-Indonesia), Pring legi,

27.Gigantochloa balui K. M. Wong Buluh abe (Kalimantan), Bambu taris (Brunei, Sabah), Buluh balui (Brunei)

28.Gigantochloa hasskarliana (Kurz) Backer ex K. Heyne: Awi tela (Indonesia - Sundanese), Bambu lengka tali, Buloh busi (Kalimantan), Buluh sorik (Sumatra),

29.Gigantochloa ligulata Gamble: Buloh bilalai, Buloh gala, Buloh mata rusa, Buloh tikus, Buloh tilan, Buloh tumpat,

30.Gigantochloa levis (Blanco) Merrill: Buluh tup (Borneo), Buluh abang, Buluh betong, Buluh betung (Indonesia), Buluh suluk (Borneo-Kalimantan),


31.Gigantochloa manggong Widjaja; Pring manggong (East-Java), Bambu manggong, Tiying jahe (Bali),

32.Gigantochloa nigrociliata (Büse) Kurz.: Awi lengka (Indonesia - Sundanese), Awi ular (Indonesia - Sundanese), Bambu lengka, Tiying tabah (Bali),

33.Gigantochloa robusta Kurz.: Awi mayan, Buluh riau (West Sumatra), Rebong (Singapore), Rebung (Indonesia), Tiying jelepung (Bali),

34.Gigantochloa thoii K. M. Wong Pring srat (Java), Buloh betung

35.Gigantochloa ridleyi Holttum Tiying aya (Bali), Tiying kaas (Bali)

36.Gigantochloa pruriens Widjaja  Buluh belangke, Buluh regen, Buluh yakyak

37.Gigantochloa pseudoarundinacea (Steud.) Widj.: Awi andong (Indonesia - Sundanese), Bambu gombong (Indonesia), Buluh batuang danto (Sumatra), Pring surat,

38.Gigantochloa scortechinii Gamble: Buloh kapal, Buloh semantan, Buloh rayah, Buloh seremai, Buloh telor, Buluh Kapal,

39.Gigantochloa verticillata (Willd.) Munro

Awi andong (Indonesia - Sundanese), Pring srat (Java),

40.Gigantochloa wrayi Gamble Buloh minyak, Buloh beti,  Buloh rusa, Buluh dabo (Sumatra)

41.Kinabaluchloa wrayi (Stapf) K. M Wong:  Buloh sewor, Buloh bersumpitan

42.Melocanna humilis Kurz: Buluh (Java, Indonesia), Bambu wulu (Java, Indonesia)

43.Nastus elegantissimus (Hassk.) Holttum: Awi eul eul (West Java - Sundanese), Bambu eul-eul (Java, Indonesia),

44.Phyllostachys aurea Rivière & C. Rivière: Bambu kuning (Indonesia), Pring uncue (Indonesia),

45.Phyllostachys nigra (Lodd. ex Lindl.) Munro Buluh hitam

46.Schizostachyum aciculare Gamble   Buloh padi , Buloh akar

47.Schizostachyum brachycladum (Kurz) Kurz: Awi buluh (Indonesia - Sundanese), Buloh lemang, Buloh nipis, Buloh silau, Buloh telang (Sarawak), Buluh lemang (Indonesia), Buluh nehe (Indonesia), Buluh sero (Moluccas), Buluh tolang (North Sumatra),

48.Schizostachyum blumei Nees: Awi bunar (Indonesia - Sundanese), Awi tamiyang (Indonesia - Sundanese), Buloh anap (Sabah), Buluh lacau, Buluh tamiang (Indonesia), Pring jawa (Java & Bali ?), Pring wuluh (Indonesia),

49.Schizostachyum caudatum Backer ex Heyne: Bambu buta (Lampung), Buluh bungkok (Indonesia), Bambu buta (Lampung),

50.Schizostachyum grande Ridley Buloh semeliang, Buloh seminyeh, Buluh lemeng (Sumatra),

51.Schizostachyum gracile (Munro) Holttum: Buluh akar, Buluh alar, Buluh giling, Buloh akar, Buloh rapen,

52.Schizostachyum hantu S. Dransf. Buloh hantu (Sarawak),

53.Schizostachyum irratun Kurz Bambu tamiyang

54.Schizostachyum iraten Steudel: Awi bunar (Indonesia - Sundanese), Awi tamiyang (Indonesia - Sundanese), Pring wuluh (Indonesia ),

55.Schizostachyum jaculans Holttum Buloh kasap, Buloh sumpitan, Buloh temiang,

56.Schizostachyum latifolium Gamble Buloh kasap, Buloh engkalad (Sarawak),  Buloh kasip,  (Singapore), Buloh pelupu (Sabah), Buloh pisa (Sarawak), Buluh angkalat, Buluh lacau (Brunei), Buluh nanap, Buluh suling (North Sumatra),

57.Schizostachyum lima (Blanco) Merr. Buluh toi (Moluccas), Bambu toi (Indonesia)

58.Schizostachyum pilosum S. Dransf. Buloh pus

59.Schizostachyum zollingeri Steudel: Awi cakeutreuk (Indonesia - Sundanese), Bambu lampar (East-Java), Buloh dinding, Buloh nipis, Buloh telor, Buluh deli, Buluh dingding, Buluh kasap, Buluh kecai, Buluh nipis (Sumatra), Buluh telor , (Indonesia)

60.Thyrsostachys siamensis Gamble: Bambu jepang, Bambu siam (Indonesia)

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Racikan Obat Herbal
CAMPAKA KAROMAH Khusus Untuk Direbus/Godogan, Insyaallah Dapat Menyembuhkan Penyakit Yang Anda Derita.

Formulator : Deddy kermit madjmoe
Hotline: 081324300415
Jl. Buyut Roda Gg.Polos No.84 Ciledug Cirebon Jawa Barat 45188

Pasien TIDAK MAMPU dan KURANG MAMPU Jangan TAKUT Untuk Berobat Pada Kami....!!!! Kami Tetap akan melayaninya.