21 November 2010

Deddy Madjmoe:Kegelisahan Penjaga Lingkungan


Banjir, longsor, dan kerusakan lingkungan menjadi keresahan hidup Deddy Madjmoe (42). Di Ciledug Wetan, desa kecil di pinggir pantai utara Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, aktivis lingkungan ini memilih mengorbankan waktu dan tenaga untuk menggerakkan puluhan warga guna mengembalikan lingkungan desanya agar hijau lagi.
Deddy akrab dipanggil dengan Deddy Kermit. Panggilan Kermit—si katak hijau dalam serial televisi—itu karena sejak SMA tahun 1987 dia suka mendaki gunung dan aktivitas cinta alam lainnya.
Deddy, yang sehari-hari bekerja sebagai herbalis, sangat memerhatikan ketidakberesan alam. Ia resah melihat sekawanan rusa dan babi hutan yang turun dari hutan di perbukitan karena kekeringan. ”Ini tidak biasa,” katanya suatu saat.
Deddy menangkap keganjilan alam tersebut. Ia tahu betul ada yang tak beres dan dia tak berhenti mencari tahu penyebabnya.
Dua tahun lalu, Deddy dan kawan-kawan dari Perkumpulan Pencinta Kelestarian Alam (Petakala) Grage, Cirebon, melepaskan induk rusa di hutan Gunung Tilu, perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Induk rusa itu diharapkan bisa berkembang biak secara alami karena populasinya kian menciut akibat perburuan, permukiman, dan perladangan. Namun kini, rusa-rusa itu justru mendekati perkampungan.
Karena penasaran, Deddy dan kawan-kawannya pun mengadakan survei kecil tentang mata air. Hasilnya, ternyata alam memang sudah terdegradasi. Tiga mata air yang ditemukan ternyata semuanya sudah tak lagi menyediakan air berlimpah.
Mata air di hutan Caringin, misalnya, kering pada musim kemarau. Adapun mata air Jamberancak hanya mengalir dengan volume kecil. Hutan-hutan habitat babi dan rusa yang dahulu hijau berubah menjadi ladang tebu dan tambang pasir. Hutan tak lagi menyediakan cukup air untuk penghuninya, seperti rusa dan babi hutan, pada musim kemarau.
Kegelisahan Deddy berlanjut dan mendorongnya untuk terlibat langsung dalam aksi lingkungan. Pada Januari 2010, saat banjir mengepung Cirebon, pemanjat tebing ini mengabaikan pekerjaannya sebagai herbalis.
Setiap hari ia memantau ketinggian air Sungai Cisanggarung yang hampir selalu meluap saat hujan. Di kala warga lain terlelap tidur, ia memilih menjadi sukarelawan siaga banjir dan membantu warga yang kebanjiran.
Saat tanggul desa jebol dan melimpahkan isi sungai ke perkampungan, merendam persawahan, dan usaha batu bata warga, kegelisahan Deddy pun memuncak. Ia berkali-kali mengadu kepada pemerintah tentang derita warga di wilayahnya akibat banjir karena sedimentasi dan jebolnya tanggul. Karena tak segera ditanggapi, ia dan rekan-rekannya pun akhirnya bergerak sendiri.

Bermodal tenaga dan tekad, Deddy bersama warga dan para aktivis di Petakala Grage membangun tanggul darurat secara swadaya. Modalnya hanya bambu, makanan, dan bantuan tenaga dari warga serta karung dari instansi pemerintah. Hasil kerja dari modal sederhana itu untuk sementara bisa memberikan rasa aman bagi warga.
Langkahnya tidak berhenti di situ. Deddy dan kawan-kawan juga merambah ke Kuningan. Mereka berjuang membuat kawasan karst Goa Indrakila di Kuningan agar tetap lestari.
Kawasan yang menjadi habitat tanaman langka dan macan ini dikhawatirkan rusak akibat kegiatan penambangan pasir. Deddy berpikir menjadikan kawasan ini sebagai ekowisata lebih menguntungkan dalam jangka panjang dibandingkan proses penambangan pasir yang jelas-jelas merusak lingkungan.
”Indrakila bisa terpelihara dengan ekowisata. Penduduk pun akan ikut memelihara karena ini sumber ekonomi mereka,” kata Deddy suatu sore ketika menengok kawasan karst Maneungteung di Cirebon.
Tabungan sendiri
Deddy akrab dengan dunia lingkungan sejak SMA. Panjat tebing dan naik gunung adalah kegiatannya sehari-hari. Dari situlah dia mengenal alam sangat dekat. Bahkan, hidupnya kini tak bisa jauh dari tumbuhan dan hewan.
Meski demikian, Deddy tidak hidup dari kegiatannya yang berkaitan dengan lingkungan. Ia justru yang menghidupi kegiatan itu dengan mendirikan organisasi nirlaba Petakala Grage pada 1986 bersama teman temannya.
Setiap kali mengadakan kegiatan, seperti kerja bakti pembangunan tanggul, penanaman pohon, atau pelepasan rusa, ia rela mengorbankan tabungan pribadinya. Padahal, dari sisi materi, ayah tiga anak ini hidup sederhana. Sarana transportasinya hanya sepeda onthel dan istrinya masih bekerja sebagai guru honorer di SD Negeri II Ciledug Wetan.
Tentu saja usaha yang dilakukan Deddy tak bisa berhasil tanpa dukungan rekan-rekannya. Sama halnya dengan Deddy, mereka punya jiwa dan kesadaran lingkungan yang tinggi. Untuk hidup, mereka bekerja sebagai mekanik bengkel atau penjahit. Sebagian hasil kerja mereka itu disumbangkan untuk kegiatan pelestarian lingkungan. ”Ini memang panggilan hidup kami, rasanya tidak rela jika pohon dirusak,” ujar Deddy.
Baru-baru ini, Deddy dan 20 kawannya mencoba menghijaukan Bukit Maneungteung di perbatasan Cirebon dan Kuningan dengan tanaman manoa, asam jawa, dan pinang. Seperti langkah sebelumnya, dia melibatkan warga dan menggunakan dana swadaya dari tabungan pribadi mereka.
Bukit itu sejak bertahun-tahun lalu menarik perhatian mereka karena berubah fungsi dari hutan menjadi tambang pasir. Kini separuh bukit telah hilang karena digali pasirnya. Fungsinya sebagai salah satu sumber penyerapan air di wilayah timur Cirebon kini hilang karena tak ada satu pohon pun yang tumbuh.
Gerakan menanam pohon secara swadaya adalah jawabannya karena belum tampak ada tindakan dari pemerintah untuk menyelamatkan lingkungan hutan tersebut.
Meski bermisi sosial, gerakan Deddy tak selamanya berjalan lancar. Niatnya menghijaukan Bukit Maneungteung seluas lebih dari 5 hektar membuat dia harus berurusan dengan polisi. Polisi melarang kegiatan penanaman pohon di bukit yang kini masih dalam perkara hukum karena penambangan ilegal tersebut.
Namun, jangan sebut dia Deddy Kermit jika menyerah. Dia tetap melanjutkan usaha itu. ”Polisi memegang KUHP sebagai dasar tindakan, tetapi kami pencinta lingkungan berpikir beda. Kalau tidak segera dihijaukan, bagaimana nanti jadinya lingkungan ini,” katanya.


  • didik raharyono
    Rabu, 6 Oktober 2010 | 21:17 WIB
    bravo! bravo! hong wilaheng sekareng bawono langgeng.... semoga DIA benar-benar Tidak Tidur.... selamat berdzikir Kang Deddy...

  • marudut siahaan
    Kamis, 30 September 2010 | 12:18 WIB
    Seharusnya semua manusia saat ini, di belahan manapun terutama korporasi-korporasi, pemerintah pusat dan daerah, harus sadar dan bertobat bahwa kita semua tidak bisa hidup tanpa alam. Jika kita tidak memperhatikan kelestarian alam, maka tidak hanya kita yang akan rugi dan menderita, tetapi juga pastinya para anak-anak kita generasi berikutnya. Bertobatlah! Cintailah lingkunganmu!

  • Vega Priyono
    Kamis, 30 September 2010 | 10:48 WIB
    salung A...jd teringat ktika qt bersama melakukan penghijauan di bukit itu pada 1997......semua harapan penghijauan itu kini tergerus keserakahan pembangunan TransJawa

  • Sheila Kartika
    Selasa, 28 September 2010 | 13:10 WIB
    salut dengan orang2 seperti Kang Deddy. semoga semakin banyak yang sadar akan pentingnya lingkungan. salam hijau.

  • wilarno setiawan
    Selasa, 28 September 2010 | 07:17 WIB
    Setuju kang Deddy Kermit, semoga tetap kuat dan didukung lebih banyak lagi oleh warga yang peduli lingkungan.

09 November 2010

PRODUCE BAMBOO

Generally bamboo produce new shoots each growing season.  The shoots grow to their full height in a single growing season and do not continue to get taller or larger diameter each year like a tree.  Although water, sun, and nutrients are factors the new shoots on a young bamboo tend to get larger diameter and taller each year untill the plant reaches its full diameter and height. A young culm from a clumping bamboo will die if it is removed from the mother plant before it has branches, leaves and roots. Young culms one to three years make better propagation material(culm cuttings) but are not good for building material. Photosynthesis in culm and leaves decrease with increasing age and the sugars in the culm decrease and the culm lignifies and silicifies becoming useful for building material after three to six years.  Harvesting mature culms does not lead to the death of the entire plant.INFO : 
http://www.texasbamboosociety.net/

BAMBU YANG BERNILAI EKONOMI

1. Bambusa bambos (L.) Voss
Nama lokal: bambu ori, jawa : pring ori 
Tinggi, diameter dan warna batang:
Tinggi mencapai 30 m (dinding batang sangat tebal dan batang berbulu tebal); 15-18 cm (jarak buku 20-40 cm); hijau muda.
Tempat tumbuh:
Tanah basah, di sepanjang sungai.
Budidaya :
Jarak tanam 6 m x 6 m. Pemberian pupuk kompos 5-10 kg pada saat penanaman berguna untuk pertumbuhan awal. Pemupukan dengan NPK akan meningkatkan biomasa. Jenis ini kurang cocok untuk skala luas karena berduri sehingga menyulitkan dalam pemanenan. Penebangan dapat dilakukan dengan memotong setinggi 2 m dari atas tanah.
Pemanenan dan Hasil :
panen dapat mulai dilakukan setelah umur 3-4 tahun. Sisakan 8-10 batang setiap rumpun untuk mempertahankan tingkat produksi. Hindari pengambilan risoma untuk perbanyakan karena dapat merusak rumpun. Produktivitas tahunan dapat mencapai sekitar 5000-8000 batang/ha.
Manfaat :
Rebungnya (sayuran), daunnya (makanan ternak), dan bibitnya (bahan makanan sekunder) sampai dengan batangnya (keperluan rumah tangga dan bahan dasar bangunan). Jenis ini berguna sebagai pengendali banjir bila ditanam disepanjang sungai dan pelindung tanaman dari angin kencang. Batangnya dipakai untuk industri pulp, kertas dan kayu lapis. Jenis ini juga dapat dipakai sebagai bahan dasar pembuatan semir sepatu, lem perekat, kertas karbon dan kertas kraft tahan air. Rendaman daun bambunya dipakai untuk penyejuk mata dan mengobati penyakit (bronkitis, demam, dan gonorrhoea).
2. Bambusa vulgaris Schrader ex Wendland
Nama lokal: pring ampel, bambu ampel, haur 
Tinggi, diameter dan warna batang:
Tinggi mencapai 10-20 m (batang berbulu sangat tipis dan tebal dinding batang 7-15 mm); 4-10 cm (jarak buku 20-45 cm); kuning muda bergaris hijau tua.
Tempat tumbuh :
Mulai dataran rendah hingga ketinggian 1200 m, di tanah marjinal atau di sepanjang sungai, tanah genangan, pH optimal 5-6,5, tumbuh paling baik pada dataran rendah.
Budidaya :
Jarak tanam 8 m x 4 m (312 rumpun/ha). Pemberian pupuk sangat dianjurkan untuk meningkatlkan hasil. Dosis pupuk per ha adalah 20-30 kg N,0-15 kg P, 10-15 kg K dan 20-30 kg Si. Pembersihan cabang berduri dan dasar rumpun tua akan meningkatkan produksi batang bambu dan mempermudah pemanenan.
Pemanenan dan Hasil :
Pemanenan dapat dimulai setelah tanaman berumur 3 tahun, puncak produksi mulai umur 6-8 tahun. Rebung dapat dipanen 1 minggu setelah keluar dari permukaan. Satu rumpun dalam setahun dapat menghasilkan 3-4 batang baru. Produksi tahunan diperkirakan menghasilkan sekitar 2250 batang atau 20 ton berat kering/ha.
Manfaat :
Air rebusan rebung muda bambu kuning dimanfaatkan untuk mengobati penyakit hepatitis. Batangnya banyak digunakan untuk industri mebel, bangunan, perlengkapan perahu, pagar, tiang bangunan dan juga sangat baik untuk baha baku kertas.
3. Dendrocalamus asper (Schultes f.) Backer ex Heyne
Nama lokal : bambu petung, buluh betung, bulu jawa, betho.  
Tinggi, diameter dan warna batang:
Tinggi mencapai 20-30 m (batang berbulu tebal dan ebal dinding batang 11-36 mm); 8-20 cm (jarak buku 10-20 cm di bagian bawah dan 30-50 cm di bagian atas); coklat tua.
Tempat tumbuh :
Mulai dataran rendah hingga ketinggian 1500 m, tumbuh terbaik pada ketinggian antara 400-500 m dengan curah hujan tahunan sekitar 2400 mm. Tumbuh di semua jenis tanah tetapi paling baik di tanah yang berdrainase baik.
Budidaya :
Jarak tanam 8m x 4m (312 rumpun/ha). Pemberian pupuk sangat dianjurkan untuk meningkatkan hasil. Dosis pupuk setiap tahun adalah 100-300 kg/ha NPK (15:15:15). Untuk memperbanyak rebung baru sangat dianjurkan untuk memberi seresah di sekitar rumpun.
Pemanenan dan Hasil :
Pemanenan dapat dimulai setelah tanaman berumur 3 tahun, puncak produksi mulai umur 5-6 tahun; untuk pemanenan rebung dilakukan satu minggu setelah rebung muncul ke permukaan. Satu rumpun dewasa dapat menghasilkan 10-12 batang baru per tahun (dengan 400 rumpun menghasilkan sekitar 4500-4800 batang/ha). Produktivitas tahunan rebung dapat menghasilkan 10-11 to rebung/ha dan untuk 400 rumpun per ha dapat mencapai 20 ton rebung.
Manfaat :
Rebung dari jenis ini adalah rebung yang terbaik dengan rasanya yang manis dibuat untuk sayuran. Batangnya digunakan untuk bahan bangunan (perumahan dan jembatan), peralatan memasak, bahkan juga untuk penampung air. Banyak digunakan untuk konstruksi rumah, atap dengan disusun tumpang-tindih, dan dinding dengan cara dipecah dibuat plupu.
4. Dendrocalamus strictus (Roxb.) Nees
Nama lokal : bambu batu 
Tinggi, Diameter dan Warna batang:
Tinggi mencapai 8-16 m (batang berbulu tebal dan tebal dinding batang hingga 1 cm); 2,5-12,5 cm (jarak buku 30-45 cm); hijau – kekuningan – buram.
Tempat tumbuh :
Di segala jenis tanah, khususnya tanah liat berpasir dengan drainase yang baik dengan pH 5,5-7,5. Ketinggian dari permukaan laut sampai dengan 1200 dengan curah hujan optimal per tahun 1000-3000 mm.
Budidaya :
Iklim dan jenis tanah memegang kunci dalam keberhasilan penanaman jenis ini. Jika tanahnya miskin hara atau terlalu kering atau kena penyakit akan mempengaruhi elastisitas bambu (mudah patah) dan bisa menyebabkan kerontokan daun. Suhu haruslah berkisar antara 20-30 derajat C (min 5 derajat C, maks 45 derajat C). Aplikasi penyubur NPK sangat dianjurkan (misal campuran 15:15:15 untuk 200 kg/ha). Jarak tanam 3-5 m x 3-5 m (400-1000 rumpun/ha).
Pemanenan dan Hasil :
Dilakukan setelah 3-4 tahun. Pemotongan dapat dilakukan kurang dari 30 cm di atas tanah dan / diatas jarak buku ke dua. Produktivitas tahunan dari penanaman 400 rumpun bisa mencapai sekitar 3,5 ton bamboo atau dengan 200 rumpun bisa mencapai 2,8 ton bamboo.
Manfaat :
Digunakan untuk bahan industri pulp dan kertas, kayu lapis, bangunan, mebel, anyaman, peralatan pertanian, dan peternakan. Daunnya digunakan untuk makanan ternak.
5. Gigantochloa apus (J.A & J.H. Schultes) Kurz
Nama lokal: bambu apus, pring apus, peri 
Tinggi, Diameter dan Warna batang:
Tinggi mencapai 8-30 m (batang berbulu tebal dan tebal dinding batang 1,5 cm); 4-13 cm (jarak buku 20-75); hijau keabu-abuan cenderung kuning mengkilap.
Tempat tumbuh :
Jenis ini dapat tumbuh di dataran rendah, dataran tinggi (atau berbukit-bukit) sampai dengan 1500 m. Bahkan juga dapat tumbuh di tanah liat berpasir.
Budidaya:
Penanaman jenis ini sebaiknya dilakukan antara bulan Desember samapai Maret. Untuk meningkatkan produktivitasnya dapat diberi pupuk kompos atau pupuk kimia, jarak tanam 5-7 m2.
Pemanenan dan Hasil :
Dilakukan setelah 1-3 tahun pada musim kering (antara April sampai Oktober) pada batang yang sudah berumur lebih dari 2 tahun. Produktivitas dalam satu rumpun adalah 6 batang. Produktivitas tahunannya dapat menghasilkan sekitar 1000 batang/ha.
Manfaat :
Biasanya digunakan sebagai tanaman pagar penghias. Batangnya juga dapat dipakai sebagai alat pembuatan pegangan payung, peralatan memancing, kerajinan tangan (rak buku), industri pulp dan kertas dan penghalau angin kencang (wind-break). 
6. Gigantochloa atroviolacea Widjaja
Nama lokal:
bambu hitam, pring wulung, peri laka
Tinggi, Diameter dan Warna batang:
Tinggi mencapai 2 m (batang berbulu tipis/halus dan tebal, dinding batang hingga 8 mm); 6-8 cm (jarak buku 40-50 cm); Dari hijau-coklat tua-keunguan atau hitam.
Tempat tumbuh :
Ditanah tropis dataran rendah, berlembab, dengan curah hujan per tahun mencapai 1500-3700 mm, dengan kelembaban relatif sekitar 70% dan temperatur 20-32 derajat C. Dapat pula tumbuh di tanah kering berbatu atau tanah (vulkanik) merah. Jika ditanam di tanah kering berbatu, warna ungu pada batang akan kelihatan semakin jelas.
Budidaya :
Jarak tanam 8 m x 7 m (200 rumpun/ha). Dianjurkan untuk selalu memperhatikan tentang pengairan, pembersihan gulma dan penggemburan tanah secara terus-menerus selama 2-3 tahun setelah awal penanaman. Pembersihan dasar rumpun tua dan penggalian ulang tanah akan meningkatkan produksi rebung.
Pemanenan dan Hasil :
Pemanenan dapat dimulai setelah tanaman berumur 4-5 tahun dengan hasil produksi 20 batang per 3 tahun (atau dengan 200 rumpun/ha dapat menghasilkan sekitar 4000 batang/ha dalam 3 tahun).
Manfaat :
Digunakan untuk bahan pembuatan instrumen musik seperti angklung, calung, gambang dan celempung. Juga berfungsi untuk bahan industri kerajinan tangan dan pembuatan mebel. Rebungnya dapat dimanfaatkan sebagai sayuran.
7. Gigantochloa pseudoarundinacea (Steudel) Widjaja
Nama lokal: bambu andong, gambang surat, peri 
Tinggi, Diameter dan warna batang:
Tinggi mencapai 7-30 m (batang berbulu tebal dan tebal dinding batang hingga 2 cm); 5-13 cm (jarak buku hingga 40- 45 cm); hijau kehijau-kuningan atau hijau muda.
Tempat tumbuh :
Di tanah liat berpasir/tanah berpasir dengan ketinggian hingga 1200 m di atas permukaan laut dengan curah hujan per tahun 2350-4200 mm, temperatur 20-32 derajat C dengan tingkat kelembaban relatif sekitar 70%.
Budidaya :
Jarak tanam 8 m x 8 m. Pemberian pupuk organik maupun pupuk kompos pada awal penanaman sangat berguna sekali bagi peningkatan produksi. Juga dianjurkan untuk dilakukan pembersihan gulma, diperhatikan tentang pengairan serta penggemburan tanah. Pembersihan dasar rumpun tua dan penggalian ulang tanah akan memacu pertumbuhan batang baru.
Pemanenan dan Hasil :
Pemanenan dapat dimulai setelah berumur 3 tahun dengan memotong batang tepat di atas tanah dan sebaiknya dipilih musim kering untuk memanennya. Untuk regenerasi batang baru dianjurkan untuk menggali ulang dan menutup dasar batang sisa panen dengan plastik. Hasil produksi tahunan untuk 275 rumpun/ha menghasilkan sekitar 1650 batang/ha atau 6 batang/rumpun.
Manfaat :
Digunakan untuk bahan bangunan, pipa air, mebel, peralatan rumah tangga, sumpit makan, tusuk gigi, dan peralatan musik. Rebungnya dapat dimasak menjadi sayuran.

INFO :
1.  http://www.bambooweb.info/

Pemanfaatan Bambu


Pemanfaatan Bambu Berdasarkan Spesiesnya
Sumber: Small Scale Bamboo Enterprises in Indonesia Case study in Bali and Tana Toraja (Sulawesi) by Dra. Reki Mayangsari ladybamboo.org, from EBF Bali
 No. Species                    Uses at present
  1.  Bambusa atra               basketry, handicraft
 2.  Bambusa bamboo             basketry, paper
 3.  Bambusa blumeana           basketry, chopstick
 4.  Bambusa heterostachya      basketry
 5.  Bambusa hirsuta            basketry
 6.  Bambusa vulgaris           basketry, building, handicraft
 7.  Bambusa sp. 1              building, handicraft, furniture
 8.  Bambusa sp. 3              basketry, building
 9.  Bambusa sp. 11             building
 10.  Dendrocalamus asper        basketry, building, handicraft, furniture, vegetables
 11.  Dinochloa scandens         ornamental plant
 12.  Gigantochloa achmadii      basketry, building, handicraft
 13.  Gigantochloa apus          basketry, building, handicraft, furniture
 14.  Gigantochloa atroviolacea  basketry, building, handicraft, furniture, music
 15.  Gigantochloa atter         basketry, building, handicraft, furniture, music, chopstick, toothpick
 16.  Gigantochloa balui         building, handicraft
 17.  Gigantochloa hasskarliana  building, handicraft
 18.  Gigantochloa levis         basketry, building, handicraft
 19.  Gigantochloa manggong      building, chopstick, toothpick
 20.  Gigantochloa nigrociliata  building, vegetable
 21.  Gigantochloa pseudoarundinacea    basketry, building, handicraft, toothpick
 22.  Gigantochloa pruriens      building, handicraft
 23.  Gigantochloa robusta       basketry, building, vegetable
 24.  Gigantochloa scortechinii  basketry, building
 25.  Gigantochloa wrayi         basketry, building, medicine
 26.  Gigantochloa sp. 1 (kuring)  basketry, building, medicine
 27.  Gigantochloa sp. 2 (munti)  basketry
 28.  Gigantochloa sp. 3 (kapal)  basketry, building, medicine
 29.  Gigantochloa sp. 4 (sariak)  basketry, building, medicine
 30.  Gigantochloa sp. 5         basketry, building
 31.  Gigantochloa sp. 6         basketry, building
 32.  Gigantochloa sp. 7 (tali)  basketry, building, handicraft
 33.  Gigantochloa sp. 8         basketry, building
 34.  Gigantochloa sp. 9 (jahe)  basketry, building
 35.  Gigantochloa sp. 10        basketry, building
 36.  Gigantochloa sp. 11        basketry, building
 37.  Gigantochloa sp. 12        basketry, building
 38.  Nastus elastus             building
 39.  Nastus schmutzii           basketry
 40.  Schziostachyum blumei      basketry, music
 41.  Schziostachyum brachycladum  basketry, building, handicraft, music, traditional ceremony
 42.  Schziostachyum caudatum    traditional ceremony
 43.  Schziostachyum grande      basketry
 44.  Schziostachyum iraten      music
 45.  Schziostachyum latifolium  music
 46.  Schziostachyum lima        basketry, music
 47.  Schziostachyum zollingeri  basketry, building, handicraft
 48.  Schziostachyum sp. 1       basketry
 49.  Schziostachyum sp. 2.(bamban)      basketry
 50.  Schziostachyum sp. 4 (mampouw)     basketry
 51.  Schziostachyum sp. 5       basketry
 52.  Schziostachyum sp. 7       basketry
 53.  Schziostachyum sp. 8       basketry
 54.  Schziostachyum sp. 9 (kelae)      basketry
 55.  Schziostachyum sp. 10(kedampal)   basketry, building
  56.  Schziostachyum sp. 11      basketry, building
Pemanfaatan Bambu Berdasarkan Spesiesnya
 Sumber :

SPESIES BAMBU

Spesies dan Nama Lokal Bambu di Indonesia dan Malaysia(diolah dari www.plantnames.unimelb.edu.au dengan tambahan dari berbagai sumber)

1.Bambusa amahussana Lindley: Bambu nitu

2.Bambusa atra Lindley: Buluh luleba (Indonesia)  

3.Bambusa nutans G.C. Wall. ex Munro:  Sering jai

4.Bambusa arundinacea (Retz.) Willd.: Bambu duri, Pring ori,

5.Bambusa burmanica Gamble Buloh aoh bukit

6.Bambusa dolichomerithalla Hayata 'Green-Striped-Stem':  Buloh bersumpitan

7.Bambusa glauscencens: Bambu Cendani

8.Bambusa heterostachya (Munro) Holttum Buloh galah, Buloh pengait, Buloh telang, Buluh pengait.

9.Bambusa multiplex (Lour.) Raeusch. var. nana (Roxb.) Keng f. : Aor selat (West Kalimantan), Awi krisik (Indonesia - Sundanese), Bambu cina, Bambu pagar (Indonesia), Buloh cina, Buloh pagar, Buluh pagar, Pring cendani (Java, Indonesia)

10.Bambusa sinospinosa McClure: Bambu duri kecil (Java, Indonesia),

11.Bambusa spinosa Roxb. : Aor duri (West Kalimantan), Bambu duri, Buloh duri, Buloh sikai, Pring gesing (Java), Aor duri (West Kalimantan)

12.Bambusa textilis McClure 'Maculata':  Pring tutul (Java)

13.Bambusa tuldoides Munro: Bambu blenduk (Indonesia), Buloh balai,

14.Bambusa vulgaris Schrad. ex J. C. Wendl.: Bambu ampel (Indonesia), Bambu kuning (Indonesia), Buloh aao beting, Buloh aur, Buloh gading, Buloh kuning, Buloh minyak, Buloh pau, Pring ampel,

15.Bambusa wamin Brandis ex Camus: Bambu blenduk (Indonesia),

16.Dendrocalamus asper (Schult. & Schult. f.) Backer ex K. Heyne: Awi bitung (Indonesia - Sundanese), Bambu betung (Indonesia), Buloh beting, Buloh betong, Buloh panching, Deling petung (Java), Pring petung (Indonesia), Rebong china (Singapore),

17.Dendrocalamus giganteus Wallich ex Munro: Bambu sembilang (Indonesia), Buloh betong,

18.Dendrocalamus hirtellus Ridley: Buloh kapor

19.Dendrocalamus latiflorus Munro: Bambu taiwan (Indonesia),

20.Dendrocalamus pendulus Ridley: Buloh tali, Buloh akar,

21.Dendrocalamus strictus (Roxb.) Nees: Bambu batu (Indonesia), Buloh batu, Pring peting (Java, Indonesia),

22.Dinochloa scandens (Blume) Kuntze: Pring kadalan (Java, Indonesia)

23.Gigantochloa achmadii Widjaja Buluh apo

24.Gigantochloa apus (Schult. & Schult. f.) Kurz: Awi tali (Indonesia - Sundanese), Bambu apus (Indonesia), Bambu tali, Deling apus (Java), Pring apes, Pring apus (Java), Pring tali,

25.Gigantochloa atroviolacea Widjaja: Bambu hitam, Awi hideung (Indonesia - Sundanese), Bambu betung hitam (Indonesia), Pring wulung,

26.Gigantochloa atter (Hassk.) Kurz: Awi teme (Indonesia - Sundanese), Awi temen (Indonesia - Sundanese), Bambu ater (Indonesia), Bambu legi (Indonesia), Bambu santong (Indonesia), Buluh jawa (Eastern-Indonesia), Pring legi,

27.Gigantochloa balui K. M. Wong Buluh abe (Kalimantan), Bambu taris (Brunei, Sabah), Buluh balui (Brunei)

28.Gigantochloa hasskarliana (Kurz) Backer ex K. Heyne: Awi tela (Indonesia - Sundanese), Bambu lengka tali, Buloh busi (Kalimantan), Buluh sorik (Sumatra),

29.Gigantochloa ligulata Gamble: Buloh bilalai, Buloh gala, Buloh mata rusa, Buloh tikus, Buloh tilan, Buloh tumpat,

30.Gigantochloa levis (Blanco) Merrill: Buluh tup (Borneo), Buluh abang, Buluh betong, Buluh betung (Indonesia), Buluh suluk (Borneo-Kalimantan),


31.Gigantochloa manggong Widjaja; Pring manggong (East-Java), Bambu manggong, Tiying jahe (Bali),

32.Gigantochloa nigrociliata (Büse) Kurz.: Awi lengka (Indonesia - Sundanese), Awi ular (Indonesia - Sundanese), Bambu lengka, Tiying tabah (Bali),

33.Gigantochloa robusta Kurz.: Awi mayan, Buluh riau (West Sumatra), Rebong (Singapore), Rebung (Indonesia), Tiying jelepung (Bali),

34.Gigantochloa thoii K. M. Wong Pring srat (Java), Buloh betung

35.Gigantochloa ridleyi Holttum Tiying aya (Bali), Tiying kaas (Bali)

36.Gigantochloa pruriens Widjaja  Buluh belangke, Buluh regen, Buluh yakyak

37.Gigantochloa pseudoarundinacea (Steud.) Widj.: Awi andong (Indonesia - Sundanese), Bambu gombong (Indonesia), Buluh batuang danto (Sumatra), Pring surat,

38.Gigantochloa scortechinii Gamble: Buloh kapal, Buloh semantan, Buloh rayah, Buloh seremai, Buloh telor, Buluh Kapal,

39.Gigantochloa verticillata (Willd.) Munro

Awi andong (Indonesia - Sundanese), Pring srat (Java),

40.Gigantochloa wrayi Gamble Buloh minyak, Buloh beti,  Buloh rusa, Buluh dabo (Sumatra)

41.Kinabaluchloa wrayi (Stapf) K. M Wong:  Buloh sewor, Buloh bersumpitan

42.Melocanna humilis Kurz: Buluh (Java, Indonesia), Bambu wulu (Java, Indonesia)

43.Nastus elegantissimus (Hassk.) Holttum: Awi eul eul (West Java - Sundanese), Bambu eul-eul (Java, Indonesia),

44.Phyllostachys aurea Rivière & C. Rivière: Bambu kuning (Indonesia), Pring uncue (Indonesia),

45.Phyllostachys nigra (Lodd. ex Lindl.) Munro Buluh hitam

46.Schizostachyum aciculare Gamble   Buloh padi , Buloh akar

47.Schizostachyum brachycladum (Kurz) Kurz: Awi buluh (Indonesia - Sundanese), Buloh lemang, Buloh nipis, Buloh silau, Buloh telang (Sarawak), Buluh lemang (Indonesia), Buluh nehe (Indonesia), Buluh sero (Moluccas), Buluh tolang (North Sumatra),

48.Schizostachyum blumei Nees: Awi bunar (Indonesia - Sundanese), Awi tamiyang (Indonesia - Sundanese), Buloh anap (Sabah), Buluh lacau, Buluh tamiang (Indonesia), Pring jawa (Java & Bali ?), Pring wuluh (Indonesia),

49.Schizostachyum caudatum Backer ex Heyne: Bambu buta (Lampung), Buluh bungkok (Indonesia), Bambu buta (Lampung),

50.Schizostachyum grande Ridley Buloh semeliang, Buloh seminyeh, Buluh lemeng (Sumatra),

51.Schizostachyum gracile (Munro) Holttum: Buluh akar, Buluh alar, Buluh giling, Buloh akar, Buloh rapen,

52.Schizostachyum hantu S. Dransf. Buloh hantu (Sarawak),

53.Schizostachyum irratun Kurz Bambu tamiyang

54.Schizostachyum iraten Steudel: Awi bunar (Indonesia - Sundanese), Awi tamiyang (Indonesia - Sundanese), Pring wuluh (Indonesia ),

55.Schizostachyum jaculans Holttum Buloh kasap, Buloh sumpitan, Buloh temiang,

56.Schizostachyum latifolium Gamble Buloh kasap, Buloh engkalad (Sarawak),  Buloh kasip,  (Singapore), Buloh pelupu (Sabah), Buloh pisa (Sarawak), Buluh angkalat, Buluh lacau (Brunei), Buluh nanap, Buluh suling (North Sumatra),

57.Schizostachyum lima (Blanco) Merr. Buluh toi (Moluccas), Bambu toi (Indonesia)

58.Schizostachyum pilosum S. Dransf. Buloh pus

59.Schizostachyum zollingeri Steudel: Awi cakeutreuk (Indonesia - Sundanese), Bambu lampar (East-Java), Buloh dinding, Buloh nipis, Buloh telor, Buluh deli, Buluh dingding, Buluh kasap, Buluh kecai, Buluh nipis (Sumatra), Buluh telor , (Indonesia)

60.Thyrsostachys siamensis Gamble: Bambu jepang, Bambu siam (Indonesia)

BAMBU UNTUK KONSERVASI TANAH DAN AIR


Diperkirakan sekitar 15 tahun hingga 20 tahu ke deapan orang Indonesia tidak akan melihat lagi pohon bambu akibat akibat eksplorasi besar-besaran tanpa disertai budidaya. Kenyataan ini, jika dibiarkan akan berpangaruh terhadap keseimbangan lingkungan.

Penelitu Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI), Prof. Dr. Elizabeth A. Widjaja, mengatakan itu kepada wartawan di Bandung, Sabtu (27/6). Menurutnya, pemerintah Indonesia hingga kini belum menunjukkan kepeduliannya.
“Buktinya, hingga saat ini pemerintah Indonesia belum memasukkan bambu ke dalam jenis tanaman yang dilindungi,” kata Elizabeth seusai bicara dalam Seminar sehari Bambu untuk Kehidupan Modern (Bamboo for Modern Life) di Saung Angklung Udjo Bandung itu. Untuk melindungi pohon bambu dari kepunahan, menurut Elizabeth, salah satunya tidak mengeksplorasi secara besar-besaran dan ada upaya pengendalian atau kuota dalam mengeksplorasinya.
“Selain itu, juga harus ada upaya budidaya, sehingga habitatnya tetap seimbang,” kata Elizabeth, seraya menambahkan pohon ini sangat baik untuk konservasi air. Selain upaya tersebut, lanjut perempuan yang selama 33 tahun hingga sekarang eksis dalam penelitian bambu itu, harus ada kemauan pemerintah Indonesia membuat regulasi perlindungan bambu. “Bisa saja pemerintah memasukkan bambu ke dalam jenis tanaman lain yang dilindungi, lengkap dengan sanksi, sebagaimana regulasi lainnya,” katanya. Ancaman lain terhadap kepunahan bambu, sebagai pohon penahan erosi tersebut karena semakin sempitnya lahan kebun bambu akibat berubah fungsi, antara lain jadi perumahan atau industri.

Di Indonesia terdapat 160 jenis bambu, dan 88 jenis di antaranya, merupakan bambu endmik atau jenis bambu khas yang terdapat di suatu daerah. Semua jenis bambu itu memiliki barbagai nilai yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, selain untuk kebutuhan perumahan dan perkakas rumah tangga atau tanaman hias, bambu merupakan salah satu jenis pohon yang sangat baik untuk kelestarian lingkungan. Sebagai fungsi pelestari lingkungan yang paling baik, bisa kita buktikan setiap ada rumpun bambu di sana sudah pasti ada sumber air, ya kan?
sumber: kompas.com
Greenpeace SEA-Indonesia
Racikan Obat Herbal
CAMPAKA KAROMAH Khusus Untuk Direbus/Godogan, Insyaallah Dapat Menyembuhkan Penyakit Yang Anda Derita.

Formulator : Deddy kermit madjmoe
Hotline: 081324300415
Jl. Buyut Roda Gg.Polos No.84 Ciledug Cirebon Jawa Barat 45188

Pasien TIDAK MAMPU dan KURANG MAMPU Jangan TAKUT Untuk Berobat Pada Kami....!!!! Kami Tetap akan melayaninya.