31 Maret 2009

demo demo demo

Warga Keluhkan Galian Liar

Senin, 12 Januari 2009 , 16:17:00
SUMBER, (PRLM).- Warga Desa Ajimut Kec. Waled Kab. Cirebon kembali mengeluhkan akibat aktivitas penggalian liar di desa setempat. Warga semula sudah tenang, saat satu bulan yang lalu Polwil Cirebon menutup usaha galian pasir liar tersebut dan memeriksa pengusahanya.
"Sudah dua hari yang lalu, galian pasir liar itu kembali dibuka. Di lokasi itu, ada lima backhoe dan puluhan trun tronton. Jalanan jadi rusak, selain itu terjadi perusakan lingkungan. Warga khawatir terjadi longsor dan banjir," ujar tokoh masyarakat setempat Darto, Senin (12/1).
Sementara Kapolwil Cirebon, Kombes Nasir Amir mengatakan, pihaknya akan mengecek langsung ke lapangan. Jika laporan warga itu benar, maka pihaknya akan menutup kembali galian liar tersebut.
Anggota Komisi C DPRD Kab. Cirebon, H. Yoyo Siswoyo mengatakan hal senada. "Besok (Selasa), kami akan meninjau ke lokasi. Galian liar itu harus ditutup," ujarnya. (C-17/A-147)***
Sumber :Pikiran Rakyat



SITU GINTUNG, SITU PATOK, SITU SEDONG...DAN SITU CIUYAH KAB.CIREBON... ?

Senin, 30 Maret, 2009 17:15
Dari:
"JBP" Melihat detail kontak
Kepada:
jabarpeduli@googlegroups.com

30/03/09 22:03 , ) - Depkes: 139 Korban Situ Gintung SelamatBogor (ANTARA News)

Pusat Penanggulangan Krisis Departemen Kesehatan (PPK-Depkes), Senin malam mengumumkan bahwa korban dampak dari jebolnya Situ (Danau) Gintung di Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, yang sebelumnya dinyatakan masih hilang, ternyata sudah ditemukan dalam keadaanselamat hidup."Data terbaru kita hingga pukul 15.00 WIB, korban selamat hidup sebanyak 130 orang, dan semuanya ada data nama-namanya," kata Kepala PPK-Depkes dr Rustam S Pakaya, MPH melalui pesan singkat (SMS) yang dikirimkan kepada ANTARA di Bogor, Senin malam.Berdasarkan verifikasi paling akhir, jumlah korban yang masih dinyatakan hilang --setelah sebanyak 139 korban yang semula dinyatakan hilang ternyata ditemukan dalam keadaan selamat hidup-- hingga kini tercatat masih lima orang.Selain itu, kata dia, untuk korban meninggal dunia masih tercatat sebanyak 98 orang, korban luka 190 orang termasuk dua korban menjalani rawat inap, dan jumlah pengungsi sebanyak 171 jiwa.Khusus untuk korban yang masih mengungsi, pihaknya mengusulkan agar dilakukan penanganan tertentu, khususnya berkaitan dengan rencana pihak Universitas Muhammadiyah Jakarta dan Kampus STIE Ahmad Dahlan, yang akan memakai ruangan yang selama ini dipakai pengungsi untuk proses belajar-mengajar."Perlu segera ada solusi bagaimana agar para korban yang masih mengungsi bisa dicarikan tempat yang baik," katanya.Menurut dia, dalam penanganan tanggap darurat bencana di Situ Gintung itu, pada hari Selasa (31/3), akan diterjunkan 100 tim semprot gabungan dari unsur kesehatan, TNI dan Polri sebanyak 100 orang, untuk melakukan penyemprotan di lokasi bencana hingga 1kilometer luar lokasi."Para anggota `tim semprot` itu akan melakukan penyemprotan lokasi dengan desinfektan agar steril dari berbagai kuman dan penyakit, sehingga melapangkan jalan bagi tim relawan untuk masuk area bencana dengan aman," katanya.Selain itu, kata Rustam S Pakaya --yang belum lama ini memimpin tim kemanusiaan Indonesia untuk membawa bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina di Jalur Gaza itu--tim gabungan bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten dan Dinkes setempat akan melakukan pengasapan (fogging) untuk mencegah merebaknya penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD) dan lainnya.Ia menambahkan bahwa sejak hari Sabtu (28/3) (Depkes) mengirimkan sebanyak dua ton Makanan Pendukung Air Susu Ibu (MP-ASI) untuk membantu para korban tragedi jebolnya Situ Gintung.Selain MP-ASI, pihaknya juga mengirimkan dua paket obat-obatan.Paket obat-obatan yang dikirimkan, kata dia, diantaranya 50 vial ATS (Anti-Tetanus Serum), empat pendingin udara (AC) besar "standing", empat tenda rumah sakit lapangan (Rumkitlap), 100 kantong mayat, ABU (anti bisa ular) dan dana operasional Rp100 juta.Di samping itu, juga dikirimkan sebanyak 100 sepatu boot, 25 paket leptospira tes, dan tim kesehatan PPK Regional DKI-Banten juga masih siaga di tujuh posko kesehatan (Poskokes), sehingga layanan kesehatanmasih terkendali.(*)http://www.antara.co.id/arc/2009/3/30/depkes-139-korban-situ-gintung-selamat/--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~Anda menerima pesan ini karena terdaftar sebagai anggota mailing list Jawa Barat Peduli. Mailing list kedaruratan dan kebencanaan yang terbuka bagi siapa saja, yang dibentuk berdasarkan semangat berbagi informasi.Informasi lebih lanjut:http://poskojabar.blogsome.comhttp://groups.google.com/group/jabarpeduli-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---


W A R N I N G....!!!
Untuk Menhut, Gub Jabar dan Bupati Cirebon:
Musibah Situ Gintung bisa juga terjadi di Situ Sedong Kec.Sedong dan calon Situ baru di Desa Ciuyah Kec.Waled Kabupaten Cirebon. Di desa Ciuyah terdapat bekas tambang galian yang sangat luas, saat ini sudah ada dua kubangan besar disana... SELAMAT DATANG BENCANA DI KEC.WALED KAB.CIREBON JAWA BARAT.

Tim Advokasi Lingkungan Petakala Grage untuk Galian Tambang




SAHABAT IBUKU

Perempuan-perempuan Penyelamat Lingkungan
Ditulis oleh Hans
Minggu, 08 Maret 2009 13:02
Oleh Nur R Fajar

Perubahan iklim, adalah kata-kata yang secara sakti telah mengubah kesadaran manusia termasuk perempuan untuk lebih memperhatikan, menyelamatkan dan melestarikan lingkungan.
Akan tetapi, ternyata sudah ada orang-orang yang tergugah pikiran dan batinnya untuk menyelamatkan lingkungan di sekitar mereka, jauh sebelum orang sadar akan dampak dari perubahan iklim yang sedang terjadi karena pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan oleh manusia yang serakah.

Di Indonesia, penyelamat dan pelestari lingkungan, ternyata tidak hanya dilakukan oleh kaum pria, tetapi juga oleh perempuan dan ibu rumah tangga, bahkan perempuan desa miskin buruh tani.

Tercatat ada 18 perempuan-perempuan perkasa pemerhati lingkungan dari sembilan propinsi di Indonesia penerima penghargaan Kalpataru selama kurun waktu 1980 sampai 2008.

Dari propinsi Riau ada Anjar Suharmini penerima Kalpataru tahun 1993 kategori pengabdi lingkungan dengan aktivitas memanfaatkan lahan tidur berupa rawa, juga ada Sumarni penerima Kalpataru tahun kategori pengabdi lingkungan yang merupakan penyuluh lingkungan, dan ada Erni Suarti penerima kategori perintis lingkungan Kalpataru 2007 yang berhasil membuat pupuk organik.

Dari propinsi Sumatera Utara ada Zamriyah penerima perintis lingkungan Kalpataru tahun 1983 yang melakukan aktivitas teknologi perairan.

Sedangkan dari Jambi, ada Robiah yang melakukan penghijuan sehingga mendapat pengabdi lingkungan Kalptaru tahun 1988 karena melakukan penghijauan.

Dari Jakarta, ada Ully Sigar Rusady yang bernama lengkap Rulany Indra Gartika Rusady mendapatkan penghargaan pembina lingkungan hidup Kalpataru 2001 karena memberdayakan masyarakat, hutan rakyat, diklat dan menggubah lagu-lagu bertema lingkugan hidup.

Dari Jawa Barat ada Ny Eroh penerima perintis lingkungan Kalpataru 1988 karena perempuan miskin desa Santara Mekar, Cisayong, Tasikmalaya ini berhasil membuat saluran air dengan memapras tebing cadas yang berhasil mengairi 75 hektar sawah.

Sedangkan dari Yogyakarta ada Dr Ir Oemi Hani`in Suseno penerima pengabdi lingkugan Kalpatru 1989 karena melakukan penghijuan , juga ada Larasati Suliantoro Sulaiman penerima Kalpataru tahun 1997 karena berhasil melestarikan tanaman.

Dari Yogyakarta juga ada Suwito Wongsodihardjo, perintis lingkungan Kalpataru tahun 2001 karena melakukan penangkaran dan Endang Maryatun penerima penyelamat lingkungan Kalpataru 2002 karena aktivitas sebagai penyuluh lingkungan.

Dari Jawa Timur ada Titik Tarwati penerima Kalpataru kategori pengabdi lingkungan tahun 2003 karena aktivitasnya menghijaukan lahan kritis dan pengembangan terasering, serta ada Julita Joylita Wahyu Mumpuni, penerima Kalpataru tahun 2004 sebagai perintis lingkungan karena berhasil memanfaatkan tanaman enceng gondok untuk bahan kerajinan, pupuk kompos dan kertas.

Di Jawa Timur juga ada Nurhidayati, penerima Kalpataru 2004 sebagai yang melakukan penyuluhan lingkungan, hutan rakyat dan rehabilitasi lahan kritis melalui penanamn pohon, serta Sriyatun Djufri, penerima Kalpataru 2008 yang melakukan pengkadersan kebersihan kota Surabaya.

Selain itu ada Wayan Sutiari Mastoer dari Surabaya yang menerima penghargaan Kalpataru tahun 2006 karena berhasil memanfaatkan sampah menjadi karya seni yang diminati masyarakat.

Di Kalimantan Timur, ada Sumiati penerima Kalpataru tahun 1993 karena berhasil memanfaatkan gulma menjadi lebih berguna.

Dari Sulawesi Utara ada Linneke S Watoelangkow yang menerima Kalpataru 2004 karena berhasil merehabilitasi lahan melallui penanaman pohon, penyelamatan DAS, penggalangan dana lingkungan, pemberian beasiswa lingkungan, penyediaan TPA dan bibit pohon.

Organisasi Lingkungan

Selain perempuan-perempuan yang melakukan tindakan nyata di sekitar lingkungan mereka, juga terdapat perempuan-perempuan Indonesia yang memilih menyelamatkan dan melestarikan lingkungan melalui aktivitas organisasinya, baik dalam lingkup Indonesia maupun merambah dunia internasional.

Dari sedikit perempuan aktivis penyelamat dan advokasi lingkungan tersebut, ada Erna Witoelar, Emmy Hafild dan Siti Maemunah.

Erna Witoelar yang bernama lengkap Andi Erna Anastasjia Walinono merupakan aktivis pendiri beberapa lembaga lingkungan hidup seperti Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), Yayasan Kehati (Keanekaragaman Hayati) , Yayasan WWF-Indonesia dan Yayasan Pembangunan Berkelanjutan.

Istri Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar yang lahir di Danau Tempe, Sulawesi Selatan aktivitas paling akhir menjadi Duta Besar PBB wilayah Asia Pasifik untuk masalah Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs).

Sedangkan Emmy Hafild yang terpilih sebagai "Hero of The Planet" oleh Majalah "Time" pada 1999, memulai aktivitas peduli lingkungannya di Yayasan Indonesia Hijau pada 1982 sampai akhirnya Direktur LSM lingkungan Walhi periode 1996 - 1999 dan 1999 - 2002.

Tahun 2005-2008, perempuan yang lahir di Petumbukan, Sumatera Utara itu terpilih sebagai Koordinator Organisasi Greenpeace Asia Tenggara (Thailand, Filipina dan Indonesia) dan sekarang aktif di lembaga Kemitraan (Partnership).

Siti Maemunah yang merupakan koordinator nasional LSM Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) sejak 2003 sampai sekarang ini memulai aktivitas organisasinya dari Pencinta Alam Uiversitas Jember Jawa Timur kemudian ke LSM Kappala (Komunitas Pencinta Alam Pemerhati Lingkungan) sampai masuk ke JATAM pada tahun 2000.

Naluri Memelihara

Menurut Erna Witoelar, perempuan secara kodrati mempunyai naluri untuk memelihara sehingga akan lebih tekun dan lebih baik untuk menjaga lingkungan hidup dibandingkan kaum pria.

"Ada perbedaan yang membuat perempuan lebih bisa tekun dan lebih baik dalam memelihara lingkungan yaitu karena perempuan punya naluri untuk memelihara," kata Erna.

Bila gerakan ramah lingkungan secara konsisten dilakukan oleh kaum perempuan,katanya, akan dapat mempengaruhi anggota keluarganya seperti suami, anak, adik, kakak, kakek, maupun nenek sehingga akan lebih banyak orang yang peduli lingkungan.

Isu-isu kemasyarakatan seperti pendidikan, kesehatan, air bersih dan sanitasi yang termaktub pada Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) juga dekat dengan kehidupan perempuan.

Oleh karena itu, kaum perempuan mempunyai potensi yang kuat untuk memberiperubahan besar terutama terhadap lingkungan. antara
Pemutakhiran Terakhir ( Minggu, 08 Maret 2009 13:17 )



30 Maret 2009

DEMO PESANAN

Formasi Datangi Polwil Adukan Pelanggaran Galian C
SUMBER : Puluhan masyarakat yang tergabung dalam Forum Masyarakat Anti Korupsi (Formasi) Selasa (24/3) siang tadi berunjuk rasa mendatangi kantor Polwil Cirebon mengadukan aktivitas galian pasir di lokasi terlarang seperti di Ciuyah dan Ajimut di Kecamatan Waled.

"Bupati sudah menutup galian pasir di Ciuyah pada Desember 2008 kemarin, tapi ternyata hingga saat ini aktivitas penggalian masih terjadi," katanya.

Dari aktivitas penggalian tersebut, menurut Dedi, Warga mengkhawatirkan terjadinya longsor yang akan menimbun desa yang ada di sekitar galian, selain itu truk-truk pengangkut pasir pun telah merusak jalan-jalan desa.

Unjuk rasa yang berlangsung selama 30 menit ini, kemudian mendapat tanggapan dari Kabag Ops Polwil Cirebon, Kompol Indra Ratana. indra berjanji akan segera melakukan penyelidikan terhadap laporan tersebut. Apabila benar terjadi maka dipastikan pihaknya akan mengambil tindakan tegas.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, massa pun akhirnya membubarkan diri. (BC-211)

sumber :dari Berita Cerbon


RILIS UNTUK MEDIA MASSA :

TERKAIT DENGAN BERITA DEMO OLEH FORMASI DIPOLWIL CIREBON, KAMI DARI TIM ADVOKASI PETAKALA GRAGE MENGKLARIFIKASI BAHWA KAMI TIDAK TERGABUNG DENGAN ORGANISASI TERSEBUT. DAN PEMIMIPIN DEMO YANG KEBETULAN NAMA DEPANNYA SAMA "DEDI...". KALAU DARI PETAKALA GRAGE ADALAH DEDDY MADJMOE yang sering dipanggil kang dedi kermit.

DARI AWAL ADVOKASI LINGKUNGAN YANG KAMI LAKUKAN UNTUK AZIMUT DAN CIUYAH SERTA DAERAH GALIAN TAMBANG LAINNYA, KAMI TIDAK AKAN MELAKUKAN DEMO TAPI MELALUI JALUR KEBIJAKAN PUBLIK DAN MEDIA. BAGI REKAN-REKAN AKTIVIS YANG INTERES DI KASUS GALIAN DIWALED KAMI SANGAT MENDUKUNG APAPUN YANG DILAKUKAN REKAN-REKAN. TERUS DAN TERUS...BERJUANG, MASIH BANYAK PR YANG HARUS KITA HADAPI.

UNTUK REKAN-REKAN KELOMPOK PECINTA ALAM(KPA)jangan gamang untuk maju, jangan takut dikatakan pahlawan kesiangan, lebih baik terlambat daripada NONTON terus...




JARINGAN TAMBANG

JATAM Luncurkan Program Dukungan Publik "Kita Terhubung"

on Thursday, 12 March 2009


Jakarta (12/03/09) - Bulan Maret 2009, JATAM kembali meluncurkan program “Dukungan Publik” "Kita Terhubung" atau We Are Connected, melalui website. Setelah hampir 6 tahun vakum, JATAM kembali menghidupkan program publik aktif dalam gerakan penyelamatan lingkungan melalui advokasi isu tambang dan energi.
"Lewat upaya ini, JATAM mengajak warga negara Indonesia saling mendukung dan berkontribusi terhadap upaya menjamin keselamatan dan produktivitas rakyat serta fungsi layanan alam, baik di sekitar pertambangan, hingga kedaulatan negara mengurus kekayaan sumber daya tambang dan energinya', jelas Siti Maimunah, Koordinator JATAM. Jaringan Advokasi Tambang merupakan jaringan organisasi non pemerintah (ornop) dan organisasi komunitas yang memiliki kepedulian terhadap masalah-masalah HAM, gender, lingkungan hidup, masyarakat adat dan isu-isu keadilan sosial dalam industri pertambangan dan migas.

Sebelumnya, JATAM telah mendorong keterlibatan publik secara sukarela dalam kampanye-kampanyenya. Bergabung di website JATAM, terlibat aktif dalam event kolektif bersama panitia South to South Film Festival (StoS) dan kegiatan lainnya. Hingga pertengahan Maret 2009, telah tercatat 613 anggota website JATAM. Sedangkan StoS melibatkan sedikitnya 1000 orang. Program dukungan publik "Kita Terhubung" ini diharapkan dapat menyatukan kekuatan dukungan publik lebih luas dengan hasil maksimal.

Program Dukungan publik kali ini akan diarahkan pada dukungan solidaritas hingga pengalangan dana. Dana yang terkumpul diperuntukan mendukung produksi dan distribusi bahan-bahan kampanye dan bacaan bagi publik terkait daya rusak industri tambang dan migas. Program ini akan mendukung perluasan dan kemudahan akses informasi, khususnya warga di lokasi-lokasi terpencil yang terancam industri tambang, dan juga pubik secara umum. JATAM percaya, informasi yang adil dan transparan adalah salah satu kunci utama untuk menjamin hak-hak warga negara dan penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan berdaulat.

JATAM mengundang setiap individu mendonasikan dana maksimal sebesar Rp 100.000 per tahun, atau mendonasikan Rp 100.000 pada produk bahan bacaan yang akan diperbanyak. Bahan bacaan ini nantinya akan didistribusikan kepada masyarakat calon dan atau korban pertambangan, sekolah dan perguruan tinggi yang ada di Indonesia. JATAM akan melaporkan berkala lewat website hasil dukungan publik ini.

Catatan:

Kampanye We Are Connected merupakan satu gerakan solidaritas menghubungkan publik di kawasan-kawasan eksploitasi sumber daya alam, khususnya pertambangan dan migas dengan kawasan lainnya di Indonesia. Kampanye ini bertujuan menggalang dukungan terhadap Jaminan keselamatan dan produktivitas rakyat serta fungsi layanan alam, baik di sekitar pertambangan, hingga kedaulatan negara mengurus kekayaan sumber daya tambang dan energinya'

Anda Dapat Mendukung Dengan :

  • Donasi maksimal Rp. 100.000 (seratus ribu rupiah) per tahun. Kirimkan donasi Anda ke :
BANK CIMB NIAGA
Cabang. Mampang
No. Rekening : 903-01-01045-00-2
Atas Nama : PERKUMPULAN JARINGAN ADVOKASI TAMBANG
SWIFT CODE : BNIAIDJA
Alamat Bank :
Mampang Prapatan Raya No. 100
Jakarta Selatan, 12790 Telp. 021-7988884,7982170
  • Menjadi Sponsor produk publikasi JATAM seperti Buku, juga kunjungi SAUNG JATAM .



Poject Jalan Tol

Projek Tol Harus Perhatikan Kondisi Sekitar

Posted by mitradialog on Mar 11th, 2009 and filed under Cirebon Raya. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

WALED, Megaprojek jalan tol Kanci-Pejagan tidak boleh menjadi pembenaran atas aktivitas kendaraan tronton yang membawa muatan melebihi kapasitas dan daya dukung jalan. Sebab, jika terus dibiarkan akan mengganggu perekonomian di kawasan sekitar.
Kepala Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan (BKPP) Wilayah Cirebon Drs. H. Ano Sutrisno, M.M., menyatakan, saat dirinya melakukan kunjungan kerja ke jalan provinsi yang longsor di Desa Waled Asem, Kec. Waled, Kab. Cirebon, akhir pekan lalu, diketahui bahwa kerusakan jalan yang menjadi tanggung jawab provinsi, sangat parah. Hal itu terutama akibat aktivitas tronton yang melampaui batas.
“Seharusnya pembangunan jalan tol Kanci-Pejagan memerhatikan kondisi dan daya dukung jalan yang dilewatinya,” tutur Ano.
Ano menambahkan, jalan provinsi meliputi jalan yang menghubungkan satu daerah dengan daerah dalam ruang lingkup provinsi. Pemprov Jabar telah menganggarkan dana untuk pemeliharaan jalan sesuai kebutuhan. “Setelah dilihat seberapa parah kerusakannya, ternyata butuh dana ekstra untuk memerbaiki jalan yang rusak itu. Semestinya, pengusaha tidak memikirkan bisnis semata, tapi juga kekuatan jalan,” ujar Ano.

Semakin lebar
Jalan provinsi dari Losari, Pabedilan, Ciledug, dan Waled menuju Kab. Kuningan, tidak dirancang untuk dilewati truk tronton dengan bobot melebihi kapasitas kendaraan tersebut. Namun faktanya, mobil besar itu setiap hari mengangkut material untuk kebutuhan projek tol.
Untuk itu, Ano mengungkapkan, dalam waktu dekat, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak terkait agar persoalan itu segera diselesaikan. Perlu dibuka komunikasi dengan pihak terkait untuk mencari solusi terbaik, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.
“Kita mengetahui pembangunan tol Kanci-Pejagan merupakan projek nasional yang harus berjalan lancar. Namun harus juga tercipta situasi kondusif, dan dapat menyelesaikan dampak negatif akibat kegiatan projek,” paparnya.
Dihubungi secara terpisah, Ketua LSM Petakala Grage, Deddy Majmoe, memprediksi, longsoran jalan di Waled Asem akan semakin lebar. Sebab, jalan yang dibuat pada zaman penjajahan Belanda itu sudah tidak mampu menahan ratusan truk tronton yang melewati rute tersebut.
“Parahnya lagi, jalan di Bukit Maneungteung Azimut Waled itu sangat labil, dan lingkungan sekitar tidak mendukung. Jalan itu berada di atas tanah cadas, dan di bawahnya merupakan Sungai Cisanggarung, yang jaraknya dengan jalan hanya beberapa meter. Kalau kendaraan tidak diatur maka jalan yang ambrol akan melebar,” paparnya.
Deddy mengingatkan, rusaknya jalan provinsi tidak cukup diselesaikan dengan perbaikan. Perlu penegakan aturan mengenai tonase kendaraan. “Rupanya tonase kendaraan ini tidak diawasi secara ketat. Seharusnya, setiap kendaraan disesuaikan dengan kondisi jalan,” ungkapnya.(C-16)




28 Maret 2009

HARI BUMI 2009




satu jam
untuk bumi kita yang lebih baik

28 Maret 2009
KUMPULKAN SATU POHON BIBIT TANAMAN PER ORANG PADA PUKUL 08.30-09.30 PAGI DIKELUARGA ANDA.

MATIKAN LAMPU PADA PUKUL 20.30-21.30 MALAM
hanya satu jam mematikan lampu bersama-sama dalam tindakan sederhana peduli pada pemanasan global

memperingati hari bumi 2009
  • greenhouse Deddy kermit Madjmoe
  • Perkumpulan Pecinta Kelestarian Alam Grage (PETAKALA GRAGE)
  • Program Dukungan Publik Petakala Grage 2009





21 Maret 2009

UPAYA REKLAMASI





NNNGERUUK LAGI ATAU REKLAMASI, KELIHATANNYA KALAU ADA DUA BECHO BIKIN TERASERING, MUNGKIN REKLAMASI KALI.....(Jawabannya...tunggu....)




kondisi galian maneunteung saat ditutup



KONDISI TERAKHIR (FOTO DEDDY KERMIT MADJMOE)

GALIAN LIAR MANEUNGTEUNG SAAT DRAMA PENUTUPAN YANG ke-II OLEH POLWIL CIREBON...ADA APAKAH...? 19 MARET 2009 JAM 15.00 WIB.




19 Maret 2009

PENUTUPAN GALIAN LIAR MANEUNGTEUNG KAMIS 19 MARET 2009


GAK AKAN LIHAT SARANG BURUNG PI'IT JANTUNG LAGI... KARENA NANTI GAK AKAN ADA LAGI POHON YANG BISA TUMBUH ALAMI DITEMPAT KENANGAN INI...

perlu waktu puluhan bahkan mungkin ratusan tahun lagi agar tempat ini indah kembali...

perlu dana pemulihan yang tidak sedikit dan tidak ternilai dengan rupiah...

mampukah hai para penggali..... seumur hidup kalian sampai 10 turunan anak-cucu dan cicit kalian, memulihkan tempat ini...?

jiwa-jiwa kalian hai para penggali...
keringat kalian hai para penggali...
saweran kalian hai para penggali...
jejak kaki kalian hai para penggali...
SEKALI LAGI HAI...PARA PENGGALI LIAR...
hai para penggali...seumur hidupmu sampai anak- cucu dan cicit,akan tetap terikat kuat dengan tanah keramat Maneungteung... jangan lari... karena kami akan mengejarmu...sampai kemanapun...

Untuk mengejar kalian hai para penggali, dunia ini kecil bagi kami...dan... tidak ada kekuatan iblis manapun yang dapat menghalangi kami...DAN KEMANAPUN....tetap akan kami kejar...

JANGAN LARI...DARI TANAH KERAMAT MANEUNGTEUNG SETELAH KALIAN MENGOYAK-NGOYAKNYA....


Capee dech......


Maneungteung Riwayatmu...

Kira_kira nasib maneungteung kedepan bagaimana???
apa masih ada pemandangan bukit yg bisa dilihat???

wa dengar dan liat penggalian bukit maneungteung sudah ditutup!!!
btw untuk sementara???apa seterusnya???
mungkin tunggu waktu yg menjawabnya dan keseriusan pemkab CIREBON....

watt temen2,,,,sa akan sa hutan sa leuweung sa inum cai hawangan........ yang suka ke bukit maneungteung kira_kira klo tempat untuk ber inpirasi nya hilang gmana???buat anak (PA)gmana nich??ko slow bae,,,teu era hugan???kanu karolot???hayu atuh bangkit!!!!ulaah eleh atuh ku jurig maneungteung,,,,,,,,,....buka mata n telinga kita>>>ulah padu status na we................ (PA)
BY.......
(ucup) REGEN ADVENTURE




09 Maret 2009

SAVE OUR CISANGGARUNG

Longsor Hambat Jalur Cirebon-Kuningan
Rabu, 04 Maret 2009 , 17:29:00

CIREBON, (PRLM).-Jalur selatan Cikuning (Cirebon-Kuningan) longsor. Arus lalu lintas penghubung dari Kecamatan Waled (Cirebon) ke Luragung (Kuningan) barat lumpuh. Hujan lebat yang turun selama sepekan terakhir membuat lereng bukit Maneungteung, Desa Waled Asem longsor. Berbarengan dengan tingginya luapan Sungai Cisanggarung yang berada persis di dasar lereng.
Informasi yang dihimpun "PRLM", Rabu (4/3), akibat longsornya lereng Meneungteung, arus lalu lintas menjadi terganggu. Truk tronton pengangkut tanah urug untuk jalan tol Kanci-Pejagan terpaksa antri bila melalui daerah longsor.
Setengah bahu jalan, terutama lajur ke arah Cirebon, terkepras akibat dinding lereng yang longsor. Sejauh ini, belum ada penanganan darurat mengatasi longsoran.
Penanganan baru sebatas memberi tanda-tanda di lokasi longsor. Benteng penahan tanah dibuat seadanya hanya dengan bambu-bambu yang ditanam dan diberi tumpukan batu belah. Para pengguna jalan dan warga di perbatasan Cikuning rata-rata mengaku khawatir. Sebab longsoran masih mungkin makin parah dan bahu jalan yang tergerus bisa bertambah lebar.
Apalagi bila melihat lereng yang miring mendekati sudut 45 derajat. Ditambah tinggi lereng dari dasar yang berupa sungai dan atas berupa jalan, mencapai sekitar 50 meter lebih.
"Bila tidak ditangani lebih permanen, seluruh bahu jalan bisa terputus. Longsor sangat mungkin bertambah parah mengingat hujan masih terus turun dan sungai meluap," tutur Deddy Madjmoe, Ketua LSM Petakala Grage yang juga warga setempat.
Bila longsor yang panjangnya mencapai 30 meter lebih makin hebat, jalan Cikuning yang dibuat sejak jaman Belanda bisa terputus total. Itu berarti warga perbatasan harus memutar bila mau bepergian melintas batas kedua daerah.
"Setiap hari ribuan warga menggunakan jalan itu dengan berbagai kendaraan. Bila terputus, harus memutar sangat jauh karena satu-satunya penghubung perbatasan jalan itu," tutur dia. Di lereng Maneungteung, sejak musim hujan turun dan Cisanggarung meluap, terdapat sejumlah titik rawan longsor. Beberapa diantaranya berada di sepanjang jalan Cikuning tersebut.(A-93/A-50)**

SAVE OUR CISANGGARUNG

DAS Cisanggarung Sudah Tak Mendukung

Posted by mitradialog on Feb 27th, 2009 and filed under Halaman Utama. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

TINGKAT kerusakan daerah aliran sungai (DAS) Cisanggarung tergolong cukup parah sehingga berpotensi membahayakan penduduk yang bermukim tidak jauh dari sungai tersebut. Banjir akibat meluapnya sungai yang merupakan batas wilayah Jabar-Jateng ini diperkirakan masih akan terus terjadi sepanjang belum ada penanganan serius dari semua pihak.
Hal itu disampaikan aktivis lingkungan, Deddy Majmoe, Kamis (26/2), menanggapi bencana banjir akibat meluapnya Sungai Cisanggarung dua hari terakhir. Menurut Dedi, tingginya tingkat sedimentasi (endapan lumpur) di sungai yang lebarnya mencapai 40-60 meter itu merupakan penyebab utama banjir.
“Dari mulai hulu hingga hilir lingkungan sekitar DAS Cisanggarung sudah tidak lagi mendukung. Artinya terjadi kerusakan lingkungan yang sangat parah sehingga palung sungai tidak mampu lagi menahan besarnya volume air. Menurut saya hal ini merupakan suatu yang membahayakan,” tutur Deddy.
Ketua LSM Petakala Grage ini mengungkapkan, dirinya bersama sejumlah aktivis pecinta alam pernah menelusuri Sungai Cisanggarung dari mulai kawasan Kab. Kuningan hingga berakhir di Losari. Hasilnya cukup mengejutkan di mana ekologi di sekitar DAS sudah sangat rusak. “Betapa kurangnya daya dukung lingkungan di DAS Cisanggarung. Jika terus dibiarkan seperti sekarang banjir akan lebih parah,” paparnya.
Dedi menambahkan banjir di pantai utara (pantura) akan menjadi masalah yang sangat kompleks pada masa mendatang. Banjir juga akan melanda beberapa kilometer dari pantura karena antara hulu denga hilir sungai memiliki kaitan yang sangat erat dalam hal memberi ruang gerak laju air.
Dedi menyatakan, saat ini genangan air kerap kali terjadi di sepanjang daerah aliran sungai Cisanggarung. Untuk itu harus ada upaya antisipatif yang harus diambil dan paling tepat untuk meminimalisir dampak negatif dari kegiatan pembangunan yang semakin intensif.
“Langkah tersebut harus mengganti pendekatan yang selama ini dilakukan, yaitu cenderung untuk mengatasi krisis yang terjadi daripada melakukan upaya berkelanjutan yang erat kaitannya dengan solidaritas antargenerasi,” papar
Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung (BBWSCC), mengakui sepanjang DAS Cisanggarung mengalami kerusakan lingkungan. Hal ini diperparah dengan tingkat curah hujan dalam beberapa minggu terakhir cukup tinggi sehingga banjir susulan sangat mungkit terjadi.
Kasi Data & Informasi BBWSCC. Sulistio E.P., A.T.P., M.T., mengatakan, sepanjang masih ada hujan dengan intensitas waktu tiga jam berturut-turut maka sungai-sungai berpotensi meluap.
Ia mengatakan, sungai yang ada di pantura kini dalam kondisi rusak. Dari mulai pendangkalan, penyempitan, bahkan ada pula sungai yang sengaja dibendung untuk keperluan areal pertanian. Hal ini memperburuk persoalan sehingga daya dukung sungai berkurang.Johana/MD

08 Maret 2009

SAVE OUR CISANGGARUNG : MENGENAL BIOPORI

MENGENAL BIOPORI  
Apa Sih Biopori itu ?
Lubang Resapan Biopori atau singkat LRB merupakan salah satu metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi genangan air dan banjir serta sampah organic di pemukiman, perkantoran, kawasan industri dan tempat publik lainnya. Metode ini dicetuskan oleh Dr. Kamir R. Brata, salah satu peneliti senior IPB.
Peningkatan daya resap air pada tanah dilakukan dengan membuat lubang silindris yang dibuat secara pertikal kedalam tanah dengan diameter 10 – 30 cm dan kedalaman 80-100 cm, atau tidak melebihi kedalaman muka air tanah. Pada lubang tersebut dimasukkan sampah oraganik berupa daun-daunan, pangkasan rumput atau limbah dapur sisa-sisa makanan. Sampah organik yang ditimbun  didalam lubang itu akan menghidupi fauna tanah dan makanan bagi akar tanaman yang sterusnya mampu menciptakan pori-pori didalam tanah. Selain itu lubang inipun dapat menghasilkan kompos. Teknologi sederhana ini dikenal dengan nama biopori.
Keunggulan Dan Manfaat
LRB merupakan metode konservasi air dan tanah yang ramah lingkungan untuk mengatasi  genangan air dan banjir serta permasalahan sampah organik, dengan cara :
1.Meningkatkan Daya Resap Air
Kehadiran LRB secara langsung akan menambah bidang rsapan air, setidaknya sebesar luas kolom/dinding lubang. Dengan adanya aktivitas fauna tanah dan perakaran tanaman pada lubang  resapan, maka biopori akan terbentuk dan senantiasa terpelihara keberadaannya. Dengan demikian kombinasi antara luas bidang resapan dengan kehadiran biopori secara bersama-sama akan meningkatkan kemampuan dalam meresapkan air. Pendek kata, LRB akan menahan air hujan ditanah dan tidak langsung mengarus ke tempat tempat genangan dan atau mengarah ke sungai dan laut. Air yang tertahan ini akan mengisi cadangan air tanah, karena dimusim kemarau nanti, air cadangan inik sangat bermanfaat sekali bagi kehidupan kita.
2. Mengubah Sampah Organik Menjadi Kompos
LRB “diaktifkan” dengan memberikan sampah organik yang akan dijadikan makanan dan menjadi sumber energi bagi organisme tanah dan perakaran tanaman untuk melakukan kegiatannya melalui proses dekomposisi. Melalui proses ini, LRB selain berfungsi sebagai bidang peresap air juga sekaligus berfungsi sebagai “pabrik” pembuat kompos. Kompos dapat dipanen secara periodik dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada berbagai jenis tanaman.
3. Manfaat Fauna Tanah Dan Akar Tanaman
Organisme tanah khususnya fauna tanah dan akar tanaman akan beraktivitas mnciptakan rongga-rongga atau pori-pori yang akan dijadikan “saluran” air untuk meresap jauh kedalam tanah. Dengan memanfaatkan aktivitas mereka maka rongga-rongga tanah tersebut akan senantiasa terpelihara dan terjaga tanpa campur tangan langsung dari manusia untuik pemeliharaannya. Kewajiban kita hanya memberikan pakan kepada mereka berupa sampah organic secara periodic. Karena diameter bidang resapnya keci sampah organic yang dimasukkan kedalam lubang tidak cepat diemisikan ke atmosfir sebagai gas rumah kaca tetapi dengan menjadi humus dan media tumbuhnya biota tanah, berarti akan mengurangi pemanasan goba dan memelihara biodiversitas dalam tanah.
Lokasi Pembuatan LRB
·        Pada dasar Saluran Pembuang Air (SPA) bukan saluran air limbah rumah tangga
·        Di kiri kanan SPA
·        Di sekeliling pohon
·        Pada batas taman dan halaman
·        Di kebun kebun kosong
·        Tempat genangan air
·        Di sekitar mata air
·        Di kiri kanan jalan setapak atau jalan umum
 Alat Yang Digunakan
LRB dibuat dengan menggunakan peralatan yang sangat sederhana seperti linggis, bamboo yang ujungnya dibelah-belah atau bor rancangan tim IPB.
Cara Pembuatan
Buat lubang silindris secara vertikal kedaam tanah dengan diameter 10-30cm. Kedalaman ubang antara 50 -100 cm atau tidak melampaui muka air tanah, bila muka air tanahnya dangkal. Jarak antar ubang 50 – 100 cm.
Mulut lubang dapat diperkuat dengan plester semen selebar 2-3 cm dan tebal 2 cm mengelilingi mulut lubang. Untuk tempat tempat yang sering dilalui orang dan anak anak dapat dipasang loster/ blok beton berlubang.
Isi lubang dengan sampah organik yang berasa dari pangkasan rumput, sampah dapur atau sampah tanaman.
Sampah organik harus selalu ditambahkan kedalam lubang yang isinya sudah berkurang dan menyusut akibat proses dekomposisi (pelapukan).
 
AKTIVITAS  PROGRAM  DUKUNGAN  PUBLIK  PETAKALA GRAGE
·        Masyarakat secara individu dapat langsung belajar bersama dan diskusi dan membuat LRB dan Sumur Resapan di greenhouse Deddy Kermit Madjmoe.
·        Bermitra dengan organisasi/ kelompok/ lembaga swadaya masyarakat atau pemerintah.
·        Bermitra dengan Play Group/ SD/ SMP/ SMA serta PT untuk Program Pengenalan dan Pembuatan LRB serta pembentukan Komunitas Sekolah Hijau
·        Bermitra dengan perusahaan yang mempunyai program CSR (Corporate Sosial Responsibility) sebagai bentuk kepedulian perusahaan kepada masyarakat.
·        Menggalang para relawan dan memobilisasinya dalam mengembanmgkan LRB di tempat tingga masing masing.
·        Menjual dan membuat alat biopori.
Demikian sumbangan dan usaha kecil kami, semoga dapat bermanfaat bagi semua mahkluk. Tidak ada motivasi apapun  dibalik semua kegiatan kami, bukan bermaksud menggugat apalagi menggurui.
Hanya Allah lah pemilik Ilmu semuanya ini.
Salam Lestari, Biodata Penemu Biopori

Sebelum berubah pikiran...(RTRW dan RUTR)

KAMPANYE PROGRAM DUKUNGAN PUBLIK PETAKALA GRAGE 2009

DIJUAL SEGERA "TANPA PERANTARA" CADANGAN GALIAN SELUAS 16OO HA di Kec.Waled Kab.Cirebon Jawa Barat Indonesia

Bahan Galian ini, TERBUKTI cocok untuk mengurug jalan tol Kanci-Pejagan (sekarang Bakrie Toll Road), pltu... dan terbukti bukan janji, juga sangat baik untuk mendangkalkan sungai Cisanggarung, Ciberes dan sungai-sungai lain. Terbukti membuat konflik antar komponen masyarakat. Terbukti melenyapkan flora dan fauna liar. Dan terbukti menghilangkan mata air....serta sangat AMPUH untuk menggurunkan kawasan karst sebagai daerah resapan air...dan menghilangkan CAGAR BUDAYA serta potensi tanaman yang bermanfaat untuk obat. Juga bahan galian ini terbukti menutup mata dan telinga para pengambil keputusan. Dan dapat memangkas solidaritas antar generasi sampai 25 turunan. Hebat yach...

tidak memakai ijin yang berbelit-belit, tinggal koordinasi kemana-mana (baca: asal, sawer...wer...wer...yang banyak kesana kemari). Beli 5 hektar dapat gratis nyolong 20 hektar + GRATISS... termasuk jasa pengusiran mahkluk halus dilokasi, seperti raja jin,siluman, tuyul dll.

. Tim Advokasi Nirlaba Lingkungan Hidup Petakala Grage Dan Masyarakat Maneungteung
 

" MAU MENDUKUNG ATAUPUN MAU MENCEKAL GERAKAN KAMI TETAP AKAN KAMI HORMATI DENGAN SUKACITA DAN DUKACITA " Buruan nanti sech Perda Galian mau dirubah...

Jalan Buatan VOC

Jalan Amblas Kuningan - Ciledug Belum Diperbaiki



KUNINGAN
: Sejumlah pengemudi terutama kendaraan roda empat, terlihat sangat hati-hati ketika melintas Jalur Kuningan-Ciledug Cirebon yang nyaris terputus, yang hingga Sabtu (7/3) siang tadi, belum terlihat diperbaiki.

Namun, beberapa orang pekerja di pinggir sungai sekitar lokasi bahu jalan yang nyaris terputus itu terlihat sedang menggali bagian tanah untuk penahan air sungai yang terus mengancam badan jalan tersebut.

Deddy Madjmoe, dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Petakala Grage, menduga amblasnya jalan itu erat kaitannya dengan adanya penamabangan tanah di bukit maneungteung.

Semenjak adanya kegiatan eksploitasi penambangan di bukit Azimut ( Maneungteung) Desa Waled, sudah melihat terjadinya kerusakan lingkungan akibat dari eksploitasi tambang yang tidak berwawasan lingkungan.

"Saya sudah memprediksi kegiatan penambangan di bukit Azimut akan menimbulkan dampak negatif. Bukan hanya hilangnya nilai keindahan alam, tapi menimbulkan erosi dan sedimintasi yang akhirnya terjadi banjir Lumpur dan banjir bandang," paparnya.

Oleh sebab itu, Deddy mendesak jalan yang nyaris terputus itu segera diperbaiki, sebab jika dibiarkan jalan buatan VOC yang amblas dan longsoran tebing yang menutup sebagian saluran irigasi utama sungai Maneungteung jalur itu akan terputus.

Selain itu Deddy juga mendesak penambangan tanah di bukit Azimut Desa Waled dan Desa Ciuyah segera dihentikan.

"Penutupan galian bukit Azimut oleh Pemkab Cirebon beberapa hari lalu hanya akal-akalan bupati untuk cuci tangan dan melindungi kepentingan para penggali sendiri, buktinya, sampai hari ini penggalian itu tetap berlangsung," paparnya. (BC-99) Berita Cerbon

Ad-Dinawari Bapak Botani dari Dunia Islam

Rabu, 04 Maret 2009 pukul 10:48:00

Ad-Dinawari Bapak Botani dari Dunia Islam


Ketika Revolusi Pertanian Islam bergulir di era kekhalifahan, para insinyur Muslim berhasil mencapai kemajuan yang begitu gemilang dalam ilmu tumbuh-tumbuhan alias botani. Para ahli botani Muslim di zaman keemasan Islam mam pu menampilkan keahliannya dalam agronomi, agroteknik, meteorologi, klimatologi, hidrologi, penguasaan lahan, serta manajemen usaha pertanian.

Tak cuma itu, para ahli botani dan pertanian Muslim juga sudah menguasai beragam pengetahuan lainnya, seperti ekologi, pertanian, pedologi, irigasi, serta pengetahuan penunjang pertanian lainnya. Berkat penguasaan pengetahuan itulah, Revolusi Hijau yang dikembangkan dunia Islam mencapai puncak kesuksesan.

Salah seorang insinyur Muslim yang menjadi otak di balik kesuksesan Revolusi Hijau itu adalah ad- Dinawari (828-896 M). Toufic Fahd (1996), dalam bukunya bertajuk Bo tany and Agriculture menabalkan ad-Dinawari sebagai pendiri botani atau ilmu tumbuh-tumbuhan di dunia Islam. Sejatinya, dia layak ditahbiskan sebagai Bapak Botani.

Botani merupakan kajian saintifik untuk kehidupan tumbuhan. Se bagai satu cabang biologi, botani kadang kala dirujuk sebagai sains tumbuhan atau biologi tumbuhan. Botani merangkumi berbagai disiplin saintifik yang mengkaji struktur, pertumbuhan, pembiakan, metabolisme, perkembangan, pen y a kit, ekologi, dan evolusi tumbuhan.

Sang insinyur telah menulis sebuah buku botani yang sangat menakjubkan pa da abad ke-9 M yang berjudul Kitab al-Nabat (Buku Tumbuhtumbuhan). Dalam kitabnya itu, ad-Dinawari mam pu menjelaskan sekitar 637 jenis tanaman. ‘’Ad-Dinawari pun membahas evolusi tanaman mulai dari kemunculan hingga kematian,’‘ ung kap Taufic Fahd. Tak hanya itu, sang insinyur juga mengupas fase pertumbuhan tanaman, produksi bunga, dan buah.

Sejatinya, ad-Dinawari bernama lengkap Abu Hanifah Ahmad ibnu Dawud Dinawari. Insinyur asal Persia itu dikenal sebagai ilmuwan serbabisa. Selain sebagai perintis botani, ad-Dinawari juga dikenal menguasai beragam ilmu, seperti astronomi, pertanian, metalurgi, geografi, matematika, dan sejarah.

Ad-Dinawari terlahir pada tahun 828 M di Kota Dinawar—perbatasan antara wilayah Hamadan dan Ker manshah—kini berada di Iran Ba rat. Ayahnya bernama Abu Hanifa Ahmad bin Dawud bin Wanand. Sang ilmuwan Muslim ini sejak kecil sudah menunjukkan minatnya yang tinggi terhadap ilmu pe ngetahuan. Ia mempelajari beragam ilmu, seperti astronomi, matematika, dan mekanik di Ishafan, Iran.

Selain itu, ilmu bahasa dan sastra juga telah membetot perhatian ad-Dinawari. Untuk mempelajari bahasa dan sastra, ad-Dinawari harus hijrah ke dua kota penting di Irak pada zaman kejayaan Dinasti Abbasiyah, yakni Kufah dan Basrah. Sang ilmuwan Muslim fenomenal itu meninggal dunia pada 24 Juli 896 M di kota kelahirannya, Di na war. Nama ad-Dinawari pun diambil dari kota tempat kelahiran dan kematiannya.

Prof MR Izady dalam karyanya bertajuk The 1.100 Anniversary of Abu-Hanifa Dinawari menuturkan, saat itu, Kota Dinawar telah menjelma sebagai kota besar di Kurdistan Selatan. Dinawar terletak di kawasan yang strategis karena berada di antara wilayah Timur dan Barat yang dikenal sebagai jalur utama perdagangan internasional, Jalur Sutera. ‘’Hingga kini, kota itu dikenal sebagai penghasil ilmuwan dan pemikir, seperti ad-Dinawari,’‘ cetus Prof Izady.

Menurut catatan sejarah, ad-Dinawari adalah keturunan bangsa Kurdi. Ia merupakan keturun an Wanand. Ad-Dinawari me rupakan generasi kedua yang memeluk agama Islam. Dari kota itu, terlahir juga seorang ula ma dan ahli agama ber nama Muham mad ibnu Abdullah ibnu Mihran Dinawari dan ahli tata bahasa yang bernama Abu-Ali Ahmad ibnu Jafar ibnu Badh Dinawari.

‘’Mereka juga adalah generasi kedua yang memeluk Islam,’‘ papar Prof Izady. Menurut dia, hingga ki ni, penduduk Kota Dinawar tak pernah melupakan jasa dan kontri busi yang diberikan Abu Hanifa ad- Dinawari dalam mengembang kan ilmu pengetahuan. Setiap ta hun, masyarakat di kota itu memperingati hari Abu Hanifa Di nawari.

“Sungguh luar biasa, penduduk asli kota itu sangat menghormati Abu Hanifah Dinawari berkat kontribusinya bagi sejarah dan kebudayaan,’‘ tegas Prof Izady. Salah satu kontribusi paling penting yang diberikan ad-Dinawari bagi peradaban manusia adalah Kitab al-Nabat. Itulah sebabnya dia dianggap sebagai penemu botani dari Arab.

Dia juga dianggap sebagai penulis pertama yang mendis kusi kan bang sa Kurdi. Ia mengupas jejak dan sejarah bangsa Kurdi lewat bukunya yang bertajuk Ansab al-Akrad (Keturunan Kurdi). Ad-Di nawari pun dikenal sebagai se orang sejarawan. Karya sejarahnya dituangkan dalam buku berjudul Kitab al-Akhbar al-Tiwal (Book of Long Narratives). Buku itu mengi sahkan jejak kehidupan manusia mulai dari pra-Islam hingga era Islam.

Ad-Dinawari dikenal sebagai seorang pemikir berkelas dunia. Para ilmuwan modern mengagumi ketelitian, ketepatan, serta keandalan ilmuwan Persia itu. Tak heran jika namanya disejajarkan dengan ilmuwan Muslim legendaris, seperti Ibnu Khaldun yang dikenal lewat bukunya yang berjudul Al-Muqaddimah. Ad-Dinawari dikenal dengan keluasan ilmu pengetahuannya.

Karya ad-Dinawari yang sudah hilang ternyata bisa ditemukan lagi dalam karya ilmuwan lain. Banyak ilmuwan yang menja di kan bu ah pikirnya se bagai referensi dan ada pula yang menulis ulang bukunya. Se ja rawan dan ahli etnografi terkenal, Mas’ udi, mengata kan, Ibnu Qutayba Dina wari telah mengkopi Buku Orientasi Per bintangan (Book of Astral Orientati ons) karya Abu Hanifa ke dalam karyanya.

Dalam bidang astronomi, sosok ad-Dinawari pun begitu dihormati dan dikagumi. Ia dikenal sebagai seorang astronom hebat asal Persia yang me nemukan Galaksi Andromeda. Sejarawan B Lewin dalam biografi tentang Abu Hanifa ad- Di nawari mengatakan, generasi muda Mus lim patut mencontoh sang ilmu wan. Salah satu hal yang menarik dari ad-Dinawari adalah ketepatan dan ketelitiannya saat melakukan penelitian.

Satu lagi, kita menemukan tokoh Muslim yang begitu hebat dari era kejayaan Islam. Seorang ilmuwan yang tak pernah dilupakan masyarakat Kota Dinawar. Setiap tahun, masyarakat kota itu memperingati hari wafat Abu Hanifa ad-Dinawari. Semangat dan perjuang an hidupnya tetap dilestarikan. Itulah sebabnya Dinawar menjadi kota penghasil pemikir dan ilmuwan. desy susilawati/heri ruslan


Kontribusi Sang Ilmuwan


Botani
Pada abad ke-9 M, ad-Dinawari telah menemukan ilmu tumbuhan-tumbuhan alias botani. Ia mengupas dan membedah botani lewat karyanya Kitab al-Nabat (Buku Tumbuh-tumbuhan) yang terdiri atas enam volume. Sayangnya, beberapa volume telah punah, hanya volume ketiga dan kelima yang tersisa. Meski begitu, volume keenam dari kitabnya itu telah menjadi bagian rekonstruksi dasar dalam kutipan dari karya terakhirnya.

Dalam kitabnya itu, ad-Dinawari menguraikan sekitar 637 jenis tanaman. Buku itu ditulis dalam bahasa Arab. Sang ilmuwan menjelaskan aneka jenis tanaman yang ditemuinya dari huruf sin sampai ya. Tak hanya itu, dia juga mendiskusikan evolusi tanaman dari tumbuh/hidup sampai mati, penjelasan tahap tanaman tumbuh, dan memproduksi buah dan bunga.

Buku itu menjadi sumber utama tentang tanaman-tanaman dan penggolongan analisis (morfologi), morfologi tanah dan tentang ilmu air. Selain itu, buku yang fenomenal itu juga menjadi risalah tata bahasa paling lengkap dalam nama-nama tanaman.

Astronomi dan Meteorologi Bagian dari bukunya tentang tanaman juga menguraikan peranan astronomi dan meteorologi Islam dalam pertanian. Ia sudah bisa menentukan awal musim dengan fenomena alam tersebut. Fenomena alam lainnya, seperti badai, guntur, kilat, salju, banjir, lembah, sungai, danau, sumursumur, dan sumber air lainnya dikaji dan dibahas. Semua itu digunakan untuk kepentingan pertanian.

Ilmu Bumi
Bagian dari buku tentang tanaman milik ad-Dinawari juga menguraikan ilmu bumi dalam konteks pertanian. Dia memasukkan batu dan pasir serta menjelaskan perbedaan tipe-tipe tanah serta menandakan tipe-tipe yang cocok untuk tanaman, kualitasnya, dan kandungan tanah yang baik.

Sejarah
Lewat Kitab al-Akhbar at-Tiwal, ad- Dinawari juga dianggap sebagai se orang sejarawan. Selain menceritakan za man pra-Islam, buku sejarahnya juga mengisahkan hari-hari terakhir kekua saan Dinasti Umayyah di Khurasan. Dalam buku itu, diceritakan bagaimana Marwan II—khalifah terakhir Umay yah—dikalahkan oleh pasukan Abbasiyah. she


Adikarya Ad-Dinawari

BIDANG SAINS
- Kitab al-Jabr wa’l-Muqabila (Buku al-Jabar)
- Kitab al-Nabat (Buku tentang Tanaman)
- Kitab al-Kusuf (Buku tentang Gerhana Matahari)
- Kitab al-Radd ala Rasad al-Isfahani (Reputasi Pengamatan
Astronomi al-Isfahani)
- Kitab al-Hisab (Buku Aritmatika)
- Bahth fi Hisb al-Hind (Analisis Aritmatika India)
- Kitab al-Jam’ wa’l-Tafriq (Buku tentang Aritmatika)
- Kitab al-Qibla wa’l-Ziwal(Buku tentang Orientasi Perbintangan)
- Kitab al-Anwa’ (Buku tentang Cuaca)
- Islah al-Mantiq (Perbaikan Logika)
ILMU SOSIAL DAN KEMANUSIAAN
1. Akhbar al-Tiwal (Sejarah Umum)
2. Kitab al-Kabir (Buku Besar Ilmu Sejarah)
3. Kitab al-Fisaha (Buku Retorika)
4. Kitab al-Buldan (Buku Geografi)
5. Kitab al-Shi’r wa’l-Shu’ara (Buku Syair dan Penyair)
6. Ansab al-Akrad (Keturunan Kurdi) she

kerusakan maneungteung

Kerusakan Lingkungan Bukit Maneungteung Makin Parah
CIREBON : Penambangan tanah urugan di Bukit Maneungteung, Desa Waled Asem Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon, sampai saat ini masih menjadi sorotan beberapa kalangan termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Petakala Grage yang mendesak Pemerintah Kabupaten Cirebon untuk menutup kegiatan penambangan tanah di bukit tersebut.

"Kami minta Bupati Cirebon, DPRD Cirebon, Kepolisian, Kejaksaan dan Perum Perhutani Kuningan agar bertindak tegas terhadap usaha penambangan yang tidak berwawasan lingkungan,"kata Deddy, Madjmoe, Ketua LSM Petakala Grage.

Selain itu lanjut dia, pihaknya juga mendesak agar pengusaha penambangan tanah itu untuk segera melakukan penataan ulang (reklamasi) lahan setelah mengadakan penambangan tersebut sesuai surat pernyataan yang dibuat pengusaha itu.

"Sebenarnya pihak pengusaha galian sudah sudah membuat surat pernyataan untuk tidak merusak lingkungan, tapi buktinya semakin hari kondisi Bukit Maneungteung semakin parah," papar dia.

Deddy memberi peringatan kepada pengusaha penambangan tanah urugan untuk tidak melakukan penggalian bagian depan sebelah utara, yang kemungkinan akan memperparah kerusakan lingkungan Bukit Maneungteung. (BC-99)sumber: berita cerbon

30 Jul 2008 21:04
Dengan Qur’an Menyelamatkan Terumbu Karang

Oleh: Farid Gaban

Qur’an dan hadist merupakan pesan efektif untuk melestarikan lingkungan alam di Tanzania.

Kepulauan Zanzibar di lepas pantai Tanzania semestinya adalah surga di dunia. Di masa lalu ini merupakan pusat pertemuan niaga Timur-Barat. Kini berisi reruntuhan warisan Islam kuno, rumah-rumah Arab yang indah dengan hamparan pasir pantai putih dihuni pohon-pohon palem menuding langit. Lautnya hangat dengan airnya yang kebiruan, berisi taman terumbu karang di dalamnya.

Tapi, itu dulu. Dalam beberapa dasawarsa terakhir, taman terumbu karang bawah laut terancam oleh praktek pencarian ikan yang merusak. Larangan pemerintah agar nelayan tidak menggunakan dinamit tidak pernah digubris. Pendekatan melalui pesan-pesan adat tradisional juga tidak mempan. Sampai akhirnya sebuah pendekatan baru ditemukan: lewat masjid, Qur’an dan Hadist.

"Qur'an mengajarkan prinsip etika manusia dalam berhubungan dan melindungi mahluk lain,” kata Fazlun Khalid, direktur dan pendiri Islamic Foundation for Ecology and Environmental Sciences (IFEES) yang berpusat di Inggris. “Pesan seperti itu dapat menjadi dasar etika pelestarian alam.”

IFEES adalah salah satu dari organisasi lokal dan internasional yang pada 1998 meluncurkan proyek memanfaatkan ajaran Islam untuk meningkatkan kesadaran tentang pelestarian alam. “Kami menggali ajaran yang hilang dan merumuskannya dalam bentuknya yang modern,” katanya.

Bersama CARE, organisasi Amerika yang bergerak dalam bidang pengentasan kemiskinan, IFEES melakukan pertemuan rutin dengan ulama dan nelayan untuk mendiskusikan ajaran Qur’an yang berkaitan dengan lingkungan dan sumber daya alam.

Menggunakan Qur’an dan hadist serta praktek Nabi Muhammad, mereka berhasil meyakinkan nelayan untuk, misalnya, tidak lagi menggunakan dinamit ketika menangkap ikan.

Mereka juga bekerjasama dengan Perhimpunan Konservasi Pulau Misali, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang peduli pada pelestarian pelestarian terumbu karang, untuk melatih imam lokal memasukkan pesan pelestarian alam dalam khotbah Jumat mereka. Misali adalah satu pulau di Kepulauan Zanzibar yang mayoritas penduduknya Muslim.

Misali terkenal memiliki beragam spesies ikan dan kura-kura serta memiliki hamparan karang paling indah di belahan barat Samudera India. Kekayaan laut itu terancam oleh praktek pencarian ikan secara sembrono.

Namun, beberapa tahun setelah proyek diluncurkan, langkah menggunakan ajaran Islam ini terbukti manjur. “Saya akhirnya tahu bahwa cara lama saya mencari ikan telah merusak lingkungan,” kata Salim Haji, seorang nelayan setempat. “Teknik pelestarian ini tidak berasal dari mzungu,” katanya, merujuk pada kata dalam bahasa Afrika Timur untuk “orang kulit putih”. Tambah Salim Haji: “Melainkan dari Qur'an."

Hamza Suleiman, ketua komite pelestarian alam di Desa Wesha, mengatakan penduduk desa telah berpindah dari menggunakan teknik lama yang mengikutkan ikan langka ke dalam tangkapan mereka ke teknik baru yang lebih selektif.

Sebuah kajian CARE pada 2000 menunjukkan 34% nelayan percaya Islam memberikan panduan bagi penganutnya dalam memanfaatkan laut serta isinya. Pada 2003, lima tahun setelah proyek itu diluncurkan, studi lain menunjukkan jumlahnya meningkat menjadi 66%.

Konservasi berdasar Islam juga membawa hasil prositif di Pemba, pulau kecil lain di lepas pantai Tanzania. Ali Abdullah Mbarouk, manajer proyek CARE, mengatakan bahwa seperti di Misali, pesan konservasi tradisional tidak menunjukkan hasil yang diharapkan pada nelayan setempat. “Tapi, ketika warga diberi tahu pemimpin agama, mereka cenderung untuk mengikutinya,” katanya.

Para sponsor proyek itu kini telah menerbitkan sebuah buku panduan Islami dalam bahasa Inggris dan Swahili untuk disebarkan ke seluruh pantai Afrika yang penduduknya berbahasa Swahili dan kelak akan disebarkan pula pada komunitas Islam di seluruh dunia.

Khalid optimistik bahwa model Misali dan Pemba dapat diterapkan untuk komunitas Islam lain di seluruh dunia. Dengan metode sama, lembaga miliknya belakangan ini juga aktif membantu warga Aceh dan Sumatera pada umumnya untuk memulihkan hutan bakau dan mengelola hutan lindung di Sumatera.

“Ulama setempat adalah orang terbaik yang bisa meyakinkan masyarakat akan tanggungjawab mereka untuk mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan,” kata Khalid.***Berita cerbon
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Racikan Obat Herbal
CAMPAKA KAROMAH Khusus Untuk Direbus/Godogan, Insyaallah Dapat Menyembuhkan Penyakit Yang Anda Derita.

Formulator : Deddy kermit madjmoe
Hotline: 081324300415
Jl. Buyut Roda Gg.Polos No.84 Ciledug Cirebon Jawa Barat 45188

Pasien TIDAK MAMPU dan KURANG MAMPU Jangan TAKUT Untuk Berobat Pada Kami....!!!! Kami Tetap akan melayaninya.