09 November 2009

RUSA TOTOL





Axis Deer (Cervus axix)
Order Artiodactyla : Family
Cervidae : Cervus axix (Erxleben)

Axis Deer (Cervus axix)Description
A moderately large, spotted deer with three tines on each antler; the brow tine forms nearly a right angle with the beam and the front (or outer) tine of the terminal fork is much longer than the hind (or inner) tine; a gland-bearing cleft is present on the front of the pastern of the hind foot; upperparts yellowish brown to rufous brown, profusely dappled with white spots; abdomen, rump, throat, insides of legs and ears, and underside of tail white; dark stripe from nape to near tip of tail. Dental formula as in Cervus elaphus, but upper canines (the so-called elk teeth) usually lacking. External measurements average: (males) total length, 1.7 m; tail, 200 mm; height at shoulder, 90 cm; females smaller and usually without antlers. Weight, 30-75 kg in males; 25-45 kg in females.

Distribution in Texas
Native to India, where it is known as the "chital," the axis deer was introduced into Texas about 1932. In 1988, free-ranging herds were established in 27 counties of central and southern Texas. At this time, it also occurs as a confined animal on ranches in 67 other counties. Axis deer are the most abundant exotic ungulate in Texas.

Axis Deer (Cervus axix)Habits
Axis deer are inhabitants of secondary forest lands broken here and there by glades, with an understory of grasses, forbs, and tender shoots which supply adequate drinking water and shade. They tend to avoid rugged terrain. Their food consists largely of grasses at all seasons, augmented with browse. Green grasses less than 10 cm high seem to be preferred. In Texas, they graze on grasses such as paspalum, switchgrass, and little bluestem. Sedges are favorite spring foods. Browse species include live oak, hackberry, and sumac.

These animals are gregarious and usually are found in herds ranging from a few animals to 100 or more. In each herd the leader is usually an old, experienced doe. Unlike our native deer, adult male axis deer normally are found living with herds of young and old animals of both sexes. Anatomically, axis deer are more closely allied to the North American elk than to our native deer. Like our elk, rutting male axis deer emit buglelike bellows, and both sexes have alarm calls or barks.

Axis Deer (Cervus axix)The reproductive pattern in axis deer is similar to that in domestic cattle. In the wild, bucks with hardened antlers and in rutting condition may be found throughout the year. Each buck seems to have a reproductive cycle of its own which may not be synchronized with that of other bucks in the herd. Consequently, when some bucks are coming into rut, others are going out or are in a non-breeding condition, with no antlers and with their testes quiescent. Likewise, females experience estrous cycles throughout the year with each cycle lasting about 3 weeks. Gravid females may be found throughout the year, but the major breeding season lasts from mid-May through August with a June-July peak in activity. The bucks make no attempt to collect or retain harems of does, but instead they seek out and service the does in each herd as they become receptive.

Normally, only one fawn is produced per pregnancy after a gestation period of 210-238 days. Reflecting the summer peak in rutting activity, nearly 80% of Texas fawns are born in early January to mid-April, although fawns may arrive in all seasons. Following parturition, females again mate during the subsequent breeding period, so that adult females tend to produce one fawn each year. Twins are rare.

Axis Deer (Cervus axix)Fawns begin eating green forage by 5½ weeks of age, but weaning is delayed until 4-6 months. Permanent dentition is acquired when 2½-3 years of age and adult size is reached at 6 years for females and 4-5 years for males. Possibly, does may breed in the breeding season following birth, but most do not breed until the following season, when 14-17 months of age. Lifespan is 9-13 years, although zoo animals may reach 18-22 years of age.
* nonnative species

RUSA SAMBAR





POTO :www.indonesiatraveling.com
Rusa Sambar

Rusa Sambar (Cervus unicolor) merupakan rusa terbesar untuk daerah tropik dengan sebaran di Indonesiaterbatas di pulau Sumatera, Kalimantan dan pulau kecil di sekitar Sumatera (Whitehead, 1994). Rusa sambar juga merupakan jenis rusa yang besar dan mempunyai kaki yang panjang, warna kulit dan rambut coklat tua, bagian perut berwarna lebih gelap sampai kehitam-hitaman, rambut kaku, kasar dan pendek. Berat badan bervariasi antara 185 – 260 kg dengan tinggi badan 140 – 160 cm. Jantan dewasa memiliki rambut surai yang panjang dan lebat di bagian leher dan atas kepala. Rusa Sambar mencapai dewasa kelamin pada umur 8 bulan dan dapat hidup hingga umur 11 tahun. Periode gestasi 7 bulan dan interval gestasi mencapai 1,5 tahun (Jacoeb dan Wiryosuhanto, 1994). Ada kecenderungan anak jenis rusa sambar yang berasal dari India dan Sri langka merupakan yang terbesar dan tertinggi (Awal et al., 1992, Lewis et al., 1990). Pada linkungan peternakan di Australia, rusa sambar betina dapat mencapai berat badan 228 kg (Anderson, 1984). Berdasarkan daftar merah yang dikeluarkan IUCN tahun 2007, rusa Sambar berstatus Lower Risk/Least Concern dan termasuk dalam spesies yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia.

Warna bulu rusa sambar umumnya coklat denganvariasinya yang agak kehitaman (gelap) pada yang jantan atau yang telah tua. Ekor agak pendek dan tertutup buluyang cukup panjang. Keadaan bulu termasuk kasar dantidak terlalu rapat. Pada daerah leher bagian lateral, bulu membentuk suatu surai/malai (mane). Perubahan warnabulu dari coklat cerah menjadi lebih gelap, khususnya padayang jantan dominan, sering terlihat bersamaan dengan

masuknya pejantan ke musim kawin (Semiadi, 2004pengamatan pribadi).

Rusa sambar memperlihatkan masa reproduksinya di tandai dengan tingkah laku yang lebih jinak dari pada dalam keadaan biasanya. Masa reproduksi pada rusa sambar betina terlihat antara bulan Juli hingga Agustus (Imelda, 2004). Selang beranak antara yang pertama dan kedua berjarak satu tahun dua bulan, sedangkan lama kebuntingannya adalah antara 250-285 hari (Ariantiningsih, 2000). Di zona temperate, musim kawin rusa white-tailed (Odocoileus virginianus) sangat dipengaruhi oleh iklim, akan tetapi ruminansia ini dapat kawin sepanjang tahun jika hidup di kawasan tropis (Li et al., 2001).

Habitat

Habitat yang disukai adalah hutan yang terbuka atau padang rumput dan hidup pada berbagai ketinggian mulai dari dataran rendah sampai daerah pantai hingga ketinggian 2600 m di atas permukaan laut. Pada semak belukar yang rapat, biasanya di gunakan sebagai tempat untuk berlindung dan bersembunyi (Ariantiningsih, 2000).

Koservasi

Konservasi sumber daya alam adalah kegiatan yang meliputi perlindungan, pengawetan, pemeliharaan, rehabilitas, introduksi, pelestarian, pemanfaatan dan pengembangan (Alikondra, 1990). Sedangkan menurut Salwasser (1994) konservasi yang paling sederhanaadalah menjaga dan melindungi sumberdaya alam untuk mencegah terjadinya kehilangan Suatu plasma nutfah. Pada perkembangan selanjunya, konservasi sumberdaya alam tidak hanya melindungi beberapa spesies hewan atau tumbuhan yang menghasilkan sesuatu bagi manusia, tetapi dilihat pula perbeda dan fungsi dari ekosistem yang ada, sehingga dapat melestarikan juga berbagai kehidupan yang lain, baik yang diketahui maupun yang dama sekali tidak diketahui (Meffe dan Caroll, 1994).

Dalam undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam Hayati dan Ekosistemnya, telah ditetapkan tiga prinsip dasar konservasi sumberdaya alam dan ekosistemnya, yang isinya adalah sebagai berikut :

· Perlindungan system penyangga kehidupan, yaitu dengan mengalokasikan kawasan konservasi baik pada pkawasan darat maupun kawasan peairan laut termasuk lahan basah.

· Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, yaitu pemanfaatan berdasarkan rasionalisasi dengan tolok ukur terhadap kesembiangan ekologinya (Sugandhy, 1995).

Pengelolahan satwa liar merupakan bagian dari upaya konservasi satwaliar. Menurut Alikondra (1990), konservasi satwaliar merupakan proses social yang bertujuan untuk memanfaatkan satwaliar dan memilihara satwaliar serta kelestarian produktivitas habitatnya. Upaya keberhasilan konservasi ini sangat ditentukan oleh peran serta penggolahnya dalam berbagai kegiatan konservasi, keadaan organisasi dan adminitrasi pengelolaan, jumlah dan kualitas tugas, peran serta masyarakat serta peraturan perundang-undangan

Alikodra (1990) menyatakan bahwa konservasi satwaliar meliputi dua hal penting yang harus mendapat perhatian, yaitu pemanfaatan yang hati-hati dan pemanfaatan yang harmonis. Pemanfaatan yang hati-hati berarti mencegah terjadinya penurunan produktifitas, bahkan menghindari sama sekali terjadinya kepunahan spesies. Sedangkan pemanfaatan yang harmonis, bersrti mempertimbangkan dan memperhitungkan kepentingan-kepentingan pihak lain, sehingga terjadi keselarasan dan keserasian dengan seluruh kegiatan baik local, regional maupun nasional bahkan dalam kaitannya dengan kepentingan konservasi satwaliar secara internasional

Rusa sambar (cervus unicolor) merupakan ruminansia endemik yang terdapat di propinsi Bengkulu yang populasinya terus cenderung menurun dan menjadi langka, ini dibuktikan dengan sulit ditemukannya spesies ini di daerah lain. Sebagaimana kita ketahui dengan terus meningkatnya penurunan populasi ini dan tanpa disertai upaya-upaya konservasi, maka akan menempatkan ruminansia endemik Bengkulu ini masuk dalam status terancam punah suatu saat nanti. Pada kawasan konservasi taman nasional kerinci seblat di propinsi Bengkulu rusa sambar menjadi ruminansia endemik yang dapat digolongkan sebagai plasma nutfah Indonesia yang populasinya terus menyusut dan cenderung langka (Putranto, 2008).

Sumber : Prov Bengkulu

Poto

RUSA BAWEAN





Jenis rusa di Indonesia adalah rusa Timor (Cerfus temurensis), rusa Sambar (Cerfus unicalor), rusa Bawean (Axis Kuhlii), Kijang (Muntiakus Muntjak), dan rusa Totol (Axsis Axsis). Rusa tersebut tersebar diseluruh wilayah nusantara terutama di Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara serta Irianjaya.

Empat jenis asli Indonesia terdiri dari rusa Timor, rusa Sambar, rusa Bawean dan Kijang. Berdasarkan bentuk strukturnya Sambar memiliki tubuh yang sangat besar diikuti rusa Timor dan rusa Bawean, sementara Kijang merupakan jenis rusa yang paling kecil.

Rusa Bawean pertama kali diidentifikasi pada tahun 1845 sebagi Cervus Kuhlii. Bemmel (Semiadi, 1999) menyebutkan tentang klasifikasi rusa Bawean adalah sebagai berikut:

Ordo: Artiodactyla
Sub ordo: Ruminansia
Infra ordo: Pecora
Famili: Cervidae
Sub family: Cerfinae
Genus: Axis
Spesies: Axis Kuhlii

MORFOLOGI
Morfologi rusa Bawean ( Axis Kuhlii) sebagai berikut :
1. TINGGI BADAN 60 – 70 Cm
2. PANJANG BADAN 105 – 115 Cm
3. BERAT BADAN ± 50 Kg
4. PANJANG EKOR BERKISAR 20 Cm BERWARNA COKLAT DAN KEPUTIHAN DILIPATAN BAGIAN DALAMNYA
5. CIRI ISTEMEWA LAINNYANYA ADALAH ADANYA GIGI TARING PADA RAHANG BAWAHNYA
6. BULUNYA BERWARNA COKLAT PENDEK, KECUALI PADA BAGIAN LEHER.
7. SEKITAR MATA BERWARNA PUTIH TERANG
8. DI SEKITAR MULUT BERWARNA SEDIKIT TERANG DIBANDING MUKA YANG DIPISAHKAN OLEH GARIS KEHITAMAN
9. BAHU DEPAN LEBIH RENDAH DARI PADA BAGIAN BELAKANG SEHINGGA TERKESAN MERUNDUK SEPERTI KIJANG
10. PADA ANAK RUSA SERING TERDAPAT TOTOL-TOTOL YANGA ADA DALAM WAKTU SINGKAT DAN SETELAH ITU MENGHILANG

Rusa Bawean jantan dewasa mempunyai sepasang tanduk bercabang tiga, sedangkan rusa jantan muda ranggahnya belum bercabang.

Rusa Bawean jantan bertanduk

Rusa Bawean jantan tampak samping

Ranggah mulai tumbuh pada saat rusa berumur 8 bulan. Mula-mula berupa tonjolan disamping dahinya, kemudian memanjang dan tumbuh lengkap pada umur 20-30 bulan. Selanjutnya ranggah ini akan tanggal dan digantikan oleh sepasang ranggah yang lain dengan satu cabang demikian seterusnya sampai tanduk tersebut lengkap bercabang tiga, yaitu pada saat rusa berumur 7 tahun.

FISIOLOGI
Diyakini bahwa rusa Bawean tidak memiliki masa musim kawin yang tetap. Dari hasil penelitian masa kelahiran anak rusa Bawean adalah di bulan Februari hinnga Juni, dengan masa perkawianan antara bulan Juli hingga November.

PERILAKU KAWIN
Musim kawin terjadi di bukan Juli sampai November, pada saat musim kemarau sedang berlangsung. Masa bunting 7-8 bulan dan diharapkan anak rusa akan lahir dimusim hujan yaitu sekitar Feburuari sampai Juni. Pada saat ini tumbuh-tumbuhan bertunas sehingga akan tersedia cukup makanan bagi anak dan induk yang melahirkan.
Untuk memperebutkan betina didahului dengan perkelahian diantara pejantan-pejatan. Bekas gosokan tanduk pada batang-batang pohon merupakan petunjuk bagi rusa betina akan adanya sang jantan. Sedangkan rusa betina sendiri mengeluarkan cairan dari celah-celah jarinya dengan mengandalkan penciumannya.

PERILAKU HARIAN DI HUTAN
Kegiatan hidup rusa Bawean terutama berlangsung pada malam hari (nocturnal). Rusa bawean aktif berkelana mulai pukul 17.00 sampai pukul 21.00 dan mulai menurunkan aktifitasnya pada pukul 02.00 dini hari sampai pukul 05.00 pagi. Pada siang hari rusa Bawean biasanya menghabiskan waktu untuk beristirahat.

POPULASI
Sejak pertama kali rusa Bawean ditemukan oleh para peneliti, tidak pernah dilaporkan secara rinci keadaan populasi di habitat aslinya. Catatan tertua yang membahas secara selintas tentang keadaan populasi rusa Bawean ini adalah dari hasil publikasi tahun 1953. Dilaporakan bahwa ke tika tahun 1928 dilakukan exspedisi penelitian tentang rusa ini dihabitat aslinya, para peneliti tidak dapat menemukan sekor rusapun di lapangan, terkecuali beberapa ranggah yang telah luluh yang dibawa oleh masyarakat setempat. Hal ini setidaknya menggambarkan keadaan populasi rusa yang memang mungkin rendah, disamping kemungkinan karena perilakunya yang lebih menyukai daerah bersemak dan bersembunyi. Namun hal ini (komunikasi peribadi) menyatakan bahwa semasa jaman kakeknya (era 1040an) dan dirinya (era 1960an) para pemburu lokal dalam setiap aksifitas perburuannya selalau berhasil untuk mendapatkan seekor rusa untuk setiap pemburu. Dalam suatu kelompok pemburu adalah antara satu hingga tiga orang. Sistem penangkapan adalah dengan cara pemasangan jerat leher atau lubang perangkap

Walau tidak pernah dikemukakan keadaan populasi rusa yang ada dimasa lampau. Bahwa kelestarian rusa Bawean mulai terusik sekitar tahun 1948, ketika terjadi kelaparan. Rakyat yang biasanya berlayar dan memancing dilaut , dengan aktifitas berburu dan berladang sebagi kegiatan sambilan. Akhirnya mengubah sikap hidupnya menjadi pemburu penuh guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu diduga bahwa gangguan terberat pada habitat rusa Bawean sebenarnya mulai terjadi sekitar tahun 1934 karena proses deforestarasi dengan penanaman pohon jati (Tectona garandis), yang kemudian disusul dengan penurunan populasi. Gangguan terhadap habitat asli ini terulang kembali sekitar tahun 1960an ketika terjadi penebangan pohon hutan, yang tersisa untuk ditanami pohon jati ( Halimi, komunikasi peribadi). Satu-satunya surfai yang paling intensif yang pernah dilakukan guna untuk mengatuhi keadaan populasi rusa Bawean adalah surfai yang dilakukan dari bulan September 1977 sampai Mei 1979. Dari laporan tersebut dilaporkan bahwa populasi rusa Bawean pada saat itu berkisar antara 200-400 ekor. Dari hasil surfai tersebut pula pada akhirnya beberapa daerah di Pulau Bawean dijadikan kawasan lindung catatan resmi dalam IUCN saat ini masih menggunakan data tahun 1979 yang menyatakan bahwa dihabitat aslinya jumlah rusa Bawean diperkirakn mencapai 400 ekor dan dalam penangkaran berjumlah 102 ekor yang berada dikebun binatang Surabaya dan Singapura. Penurunan populasi di alam bebas yang terjadi sejak dahulu hingga sekarang adalah sebagi akibat penurunan habitat, perburuan dan anjing liar.

HABITAT
Habitat merupakan tempat hidup populasi satwa liar untuk dapat berkembang baik dengan optimal (Djuwantoko, 1986). Habitat yang ideal bagi satwa adalah yang mencakup kebutukan biologis dan ekolologis satwa yang bersangkutan. Artinya habitat satwa dapat memenuhi kebutuhan biologis satwa ( makan, minum, berlindung ,bermain, berkembang biak ) dan dapat memenuhi kebutuhan ekologis dalam ekosistem.

Pulau Bawean sebagi habitat asli dari rusa Bawean, terletak 150 km sebelah utara Surabaya, dikawasan Laut Jawa. Luas total Pulau Bawean sekitar 190 km² dengan daerah yang bergunung (400-646 m dpl) berada di sekitar barat dan tengah pulau. Musim kemarau berlangsung mulai bulan Agustus hingga November dan dilanjutkan dengan musim penghujan dengan disertai angin Berat yang kencang pada awal musim penghujan.

Bentangan pegunungan yang ada mempunyai kelerengan antara 5%-75%, namun sejak tahun 1934 banyak areal pegunungan yang vegetasinya berganti dengan pohon jati. Daerah inilah yang menjadi sisa habitat asli rusa Bawean.

JENIS-JENIS MAKANAN RUSA BAWEAN DI PENANGKARAN BATU GEBANG

Nama lokal :
1. Daun Anjhujhu
2. Tale Caceng
3. Daun Gundang
4. Daun Nangka
5. Daun Kenyang-kenyang
6. Daun Gheddhung
7. Rumput Gajah
8. Rumput Ladang
9. Tale Atta
10. Daun ampelas
11. Daun lambese
12. Daun andudur
13. Daun pelle
14. Daun ampere
15. Rumput lending-ledingan
16. Daun kangkung tajhin
17. Rumput lapeddhung
18. Daun kacang
19. Buah nangka
20. Buah gheddheng
21. Buah pellem dan masih banyak jenis daun,rumput, dan buah2an lainnya.

Disusun oleh: Dina Jayanti dari berbagai sumber
dengan editing seperlunya oleh rusabawean.com

Kijang atau muncak






KIJANG ATAU MUNCAK Muntiacus muntjak
adalah kerabat rusa yang tergabung dalam genus Muntiacus. Kijang berasal dari Dunia Lama dan dianggap sebagai jenis rusa tertua, telah ada sejak 15-35 juta tahun yang lalu, dengan sisa-sisa dari masa Miosen ditemukan di Prancis dan Jerman.

Pada masa sekarang, muncak hanya dapat ditemui di Asia Selatan dan Asia Tenggara, mulai dari India, Srilangka, Indocina, hingga kepulauan Nusantara. Beberapa jenis diintroduksi di Inggris dan sekarang banyak dijumpai di sana.

Bulu tubuhnya berwarna coklat muda kekuningan sampai coklat kehitaman dan pada punggung terdapat garis kehitaman. Daerah perut sampai kerongkongan berwarna putih, khusus kerongkongan warnanya bervariasi dari putih sampai coklat muda. Kijang jantan biasanya lebih besar dari betina. Panjangnya Badan kijang bervariasi dari 35-53. dan tingginya mereka terbentang dari 15-26.

Kijang tidak mengenal musim kawin dan dapat kawin kapan saja, namun perilaku musim kawin muncul bila kijang dibawa ke daerah beriklim sedang. Jantannya memiliki tanduk pendek yang dapat tumbuh bila patah.

Hewan ini sekarang menarik perhatian penelitian evolusi molekular karena memiliki variasi jumlah kromosom yang dramatis dan ditemukannya beberapa jenis baru (terutama di Indocina).

Rusa Bawean (Axis kuhlii)





Rusa Bawean (Axis kuhlii) Salah Satu Rusa Endemik Indonesia
07 Apr 2008 (14:04)
Rusa Bawean (Axis kuhlii) Salah Satu Rusa Endemik IndonesiaBaungcamp.com - Indonesia merupakan salah satu negara Megabiodiversity di dunia. Kekayaan alam Indonesia mengandung potensi 25% jenis ikan, 16% jenis reptil, 17% jenis burung, 16% amphibi, 70% jenis terumbu karang dan 12 % jenis mamalia dari populasi dunia. Khusus untuk mamalia banyak diantaranya yang endemik atau asli Indonesia salah satunya adalah Rusa bawean (Axis kuhlii). Di Indonesia sendiri terdapat 4 (empat) species rusa yang merupakan satwa asli Indonesia, 3 (tiga) species lainnya adalah rusa sambar (Cervus unicolor), rusa timor (Cervus timorensis), dan rusa kijang (Muntiacus muntjak).

Sistematika taksonomi dari rusa bawean adalah sebagai berikut : Filum Chordata, kelas Mammalia, Ordo Artiodactyla, Sub ordo Ruminantia, Familia Cervidae, Sub familia Cervinae, Genus Hyelaphus, dan Species Axis kuhlii. Habitat asli rusa ini yaitu di sebuah pulau kecil di sebelah utara Kabupaten Gresik yaitu pulau Bawean, oleh karena itu rusa ini disebut Rusa Bawean. Di pulau ini terdapat 2 (dua) kawasan konservasi yaitu Suaka Margasatwa Pulau Bawean dengan luas 3.831,60 Ha dan Cagar Alam Pulau Bawean yang memiliki luas 725 Ha.

Ciri dan Perilaku :

Diantara keempat jenis rusa Indonesia, rusa bawean adalah jenis rusa yang terkecil dengan tinggi badan 60 – 70 Cm, panjang badan 105 – 115 Cm, dan berat badannya ± 50 Kg. Selain itu ciri istimewa lainnya adalah adanya gigi taring pada rahang bawahnya. Sedangkan pada rahang atas seperti ruminansia lainnya tidak terdapat gigi seri dan gigi taring (Prawiroatmodjo, 1987). Panjang ekor berkisar 20 cm berwarna coklat dan keputihan di lipatan bagian dalamnya (Whitehead 1983). Bulu pada tubuh rusa bawean berwarna coklat dan pendek kecuali bagian leher dan sekitar mata berwarna putih terang, pada daerah sekitar mulut berwarna sedikit terang dibanding muka yang dipisahkan oleh garis kehitaman (Stiwell, 1970). Bahu bagian depan lebih rendah daripada bagian belakang sehingga terkesan merunduk seperti rusa kijang. Pada anak rusa sering terdapat totol-totol yang ada dalam waktu yang singkat dan setelah itu menghilang (Veever dan Carter,1979). Selain itu ada sedikit tanda pengenal yang terbatas di daerah kepala dan leher, yaitu berupa jalur terang dengan melingkar di sekitar mata (Blouch dan Atmosoedirdjo,1987).

Rusa Bawean jantan dewasa mempunyai sepasang tanduk bercabang tiga, sedangkan rusa jantan muda ranggahnya belum bercabang. Ranggah mulai tumbuh pada saat rusa berumur 8 bulan. Mula-mula berupa tonjolan disamping dahinya, kemudian memanjang dan tumbuh lengkap pada umur 20-30 bulan. Selanjutnya ranggah ini akan tanggal dan digantikan oleh sepasang ranggah yang lain dengan satu cabang demikian seterusnya sampai tanduk tersebut lengkap bercabang tiga, yaitu pada saat rusa berumur 7 tahun. Pada awalnya pertumbuhan tanduk selalu dilapisi kulit tipis berbulu halus yang disebut velvet. Velvet tidak lama menempel pada tanduk karena akan mengering dan mengelupas. Kadang-kadang pelepasan ini dibantu dengan menggosokkannya pada pohon atau benda keras lain. Peristiwa ini terjadi bertepatan dengan permulaan musim kawin. Rusa ini hidup di hutan sekunder, padang rumput (savana), dan hutan jati, makanannya berupa rumput, daun, kulit tumbuhan dan buah-buahan yang jatuh. Hidup soliter dengan jumlah 1-3 ekor dalam home rangenya.

Upaya Konservasi :

Rusa Bawean merupakan satwa liar yang dilindungi pemerintah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Upaya konservasi terus dilakukan oleh Balai Besar KSDA Jatim I selaku pengelola Cagar Alam dan Suaka Margasatwa pulau Bawean dengan tujuan untuk tetap mempertahankan populasinya di alam, antara lain dengan kegiatan inventarisasi dan pembinaan habitat, operasi terhadap perburuan satwa liar dan gangguan hutan serta penyuluhan terhadap masyarakat disekitar kawasan. Saat ini masyarakat Bawean sudah mulai tergerak untuk ikut melestarikan rusa bawean yang menjadi ciri khas dan kebanggan daerah mereka. Sepertihalnya yang dilakukan oleh salah seorang penduduk setempat yaitu Pak Sudirman dengan membuat penangkaran di areal tanah miliknya di kawasan Lampeci. Jumlah populasi rusa bawean di penangkaran tersebut sampai saat ini adalah 7 (tujuh) ekor terdiri dari 3 jantan dan 4 betina. Dengan penangkaran ini masyarakat bisa melihat secara langsung rusa bawean karena masyarakat Baweanpun belum banyak yang melihat rusa ini sekaligus sebagai sarana wisata dan pendidikan konservasi. Selain itu upaya pelestarain exsitu juga dilakukan salah satu lembaga konservasi yaitu Kebun Binatang Surabaya (KBS). KBS sendiri telah berhasil mengembangbiakkan Rusa Bawean.

Balai Besar KSDA Jawa Timur sendiri juga membuat Pusat Riset Terapan Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar, s,alah satu satwanya adalah Rusa Bawean dengan jumlah 3 (tiga) ekor 1 jantan dan 2 betina. Satwa tersebut berasal dari hasil pengembangbiakkan Kebun Binatang Surabaya (KBS). Kontribusi kita selaku petugas BBKSDA terhadap lembaga-lembaga konservasi maupun masyarakat yang ikut berkecimpung dalam bidang konservasi yaitu dengan melakukan monitoring dan pembinaan serta memberikan kemudahan perijinan misalnya dalam pertukaran satwa dan bagi para penangkar yang telah memenuhi syarat dan aturan yang telah ditentukan.

Bagaimanapun Rusa Bawean sebagai species endemik harus tetap di pertahankan populasinya , mengingat keberadaanya yang semakin langka dan memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. (Agus PEH BBKSDA)

Sumber : http://www.baungcamp.com

Identifikasi Rusa Indonesia





Identifikasi Rusa Indonesia



Empat jenis rusa asli Indonesia terdiri dari Sambar, Rusa Timor, Rusa Bawean, dan Kijang. Berdasarkan struktur tubuhnya, Sambar memiliki ukuran yang paling besar diikuti Rusa Timor dan Rusa Bawean. Sementara Kijang merupakan jenis yang paling kecil.

Rusa timor

RUSA TIMOR (Cervus timorensis)
Sub spesies : Rusa Jawa (Cervus timorensis russa)


Rusa Timor jantan dewasa di Penangkaran Kulon Progo

A. Biologi Rusa Jawa

1. Klasifikasi
Rusa Jawa (Cervus timorensis russa) diklasifilasikan oleh Schroder (Nugroho, 1992) sebagai berikut :
Phyllum : Vertebrata
Sub phyllum : Chordata
Class : Mammalia
Ordo : Artiodactyla
Familia : Cervidae
Genus : Cervus
Species : Cervus timorensis (Blainville, 1822)
Sub species : Cervus timorensis russa (Mul.&Schl., 1844)
(Ind = Rusa Jawa)

2. Deskripsi Morfologi

Jenis Cervus timorensis, menurut Dradjat (2002a), memiliki bulu coklat dengan warna bagian bawah perut dan ekor berwarna putih. Hewan jantan relatif lebih besar dibandingkan dengan betinanya. Tinggi badannya antara 91-102 cm dengan berat badan 103-155 kg, lebih kecil bila dibandingkan dengan Sambar (Cervus unicolor). Rusa jantan mempunyai tanduk yang bercabang. Tanduk akan tumbuh pertama kali pada anak jantan umur 8 bulan. Setelah dewasa, ranggah menjadi sempurna yang ditandai dengan terdapatnya 3 ujung runcing.

3. Penyebaran

Cervus timorensis tersebar alami hampir di seluruh kepulauan Indonesia kecuali di Sumatera, Kalimantan, dan Irian Jaya. Namun kemudian dimasukkan ke pulau-pulau tersebut yaitu pada tahun 1680 (Kalimantan), tahun 1855 (Pulau Aru), tahun 1913 dan 1920 (Kalimantan) (Anonim, 1978). Oleh karena rusa mampu beradaptasi dengan baik, maka dapat berkembang biak di tempat barunya tersebut.
Veevers-Carter (1979) mengemukakan bahwa Cervus timorensis tidak ditemukan secara endemik di luar Indonesia, namun telah dimasukkan dalam jumlah yang besar ke New Zaeland, Australia, dan W. Indian Ocean Is.
Menurut Semiadi (2002), dominasi rusa tropik Indonesia adalah Cervus timorensis, dengan sebaran yang sangat luas dari bagian barat hingga timur Indonesia. Whitehead (Schroder dalam Nugroho, 1992; Semiadi, 2002) membagi jenis Cervus timorensis menjadi 8 sub species berdasarkan daerah persebarannya, yaitu:
• Cervus timorensis russa (Mul.&Schl., 1844) di P. Jawa
• Cervus timorensis florensis (Heude, 1896) di P. Lombok dan P. Flores
• Cervus timorensis timorensis (Martens, 1936) di P. Timor, P. Rate, P. Semau, P. Kambing, P. Alor, dan P. Pantai
• Cervus timorensis djonga (Bemmel, 1949) di P. Muna dan P. Buton
• Cervus timorensis molucensis (Q.&G.,1896) di Kep. Maluku, P. Halmahera, P. Banda, dan P. Seram
• Cervus timorensis macassaricus (Heude, 1896) di P. Sulawesi
• Cervus timorensis renschi (Sody, 1933)
• Cervus timorensis laronesietes (Bemmel, 1949)

4. Aktivitas
Rusa memiliki aktivitas pergerakan dan penjelajahan yang terpengaruh oleh 2 aspek, yaitu rutinitas harian yang berkaitan dengan mencari makanan, air, dan tempat istirahat yang sesuai, dan aspek musiman yang berkaitan dengan iklim setempat (Trippensee, 1948). Selanjutnya Trippensee (1948) menjelaskan bahwa pada suatu saat rusa dapat bergerak aktif dengan menempuh perjalanan yang sangat jauh, namun pada kondisi iklim yang buruk rusa akan bergerak sangat terbatas.
Jenis Cervus timorensis merupakan hewan yang dapat aktif di siang hari (diurnal) maupun di malam hari (nokturnal), tergantung pada kondisi lingkungannya (Anonim, 1978). Dilaporkan oleh Garsetiasih (1996) bahwa aktivitas puncak Cervus timorensis di Taman Wisata Alam Pulau Menipo Nusa Tenggara Timur adalah pada pagi hari pukul 06.00-09.00 dan pada sore hari pukul 16.00-18.00. Aktivitas tersebut meliputi istirahat, makan, dan bergerak.

B. Home Range

Menurut Dasmann (1981), ukuran home range rusa berbeda-beda tergantung ketersediaan makanan, penutupan (cover), air, dan hal-hal penting lain. Trippensee (1948) melaporkan bahwa di Wisconsin Tengah (salah satu negara bagian Amerika Serikat), yang memiliki 2 tipe hutan, yaitu semak-semak cemara (pine thickets) dan campuran (pine and oaks), memiliki daerah rata-rata pemusatan rusa (deer concentration) 380 acres (0,15 ha) dengan home range 50-2.600 acres (0,02-1,05 ha). Sementara itu di Inggris, home range Rusa Roe di hutan adalah 5-15 ha, Rusa Fallow jantan 50-250 ha, dan Rusa Fallow betina 50-90 ha (Hinge dalam Putman, 1988).

C. Habitat

Satwa liar menempati habitat sesuai dengan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung kehidupannya. Oleh karena itu, habitat suatu jenis satwa liar belum tentu sesuai untuk jenis lain (Alikodra, 1990). Habitat suatu jenis satwa liar mengandung suatu sistem yang terbentuk dari interaksi antar komponen fisik dan biotik. Sistem tersebut dapat mengendalikan kehidupan satwa liar yang hidup di dalamnya (Alikodra, 1990).
Shaw (Nugroho, 1992) menjelaskan bahwa komponen habitat yang mengendalikan kehidupan satwa liar terbagi dalam 4 hal sebagai berikut:
1. Pakan (food)
Pakan merupakan komponen habitat yang paling nyata. Ketersediaan pakan berhubungan erat dengan perubahan musim terutama di daerah temperate dan kutub. Tiap jenis satwa mempunyai kesukaan untuk memilih pakannya. Kesukaan pakan ini berhubungan dengan palatabilitas dan selera.
2. Pelindung (cover)
Pelindung diartikan sebagai segala tempat dalam habitat yang mampu memberikan perlindungan dari cuaca, predator atau kondisi yang lebih baik dan menguntungkan.
3. Air (water)
Air dibutuhkan dalam proses metabolisme tubuh satwa. Kebutuhan satwa akan air bervariasi, ada yang tergantung air dan ada yang tidak. Ketersediaan air akan mengubah kondisi habitat sehingga langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan satwa.
4. Ruang (space)
Individu-individu satwa membutuhkan variasi ruang untuk mendapatkan cukup pakan, pelindung, air, dan tempat untuk kawin. Besarnya ruang tergantung ukuran populasi. Ukuran populasi tergantung besarnya satwa, jenis pakan, produktivitas, dan keragaman habitat.

Rusa Jawa memiliki tipe habitat berupa hutan dataran terbuka, padang rumput, dan savana dengan ketinggian hingga 2.600 dpl (Anonim, 1978). Menurut Dradjat (2002a), selain padang rumput, rusa juga membutuhkan semak-semak untuk berlindung, pepohonan untuk berteduh, dan adanya persediaan air untuk mencukupi kebutuhan minum. Rusa juga memanfaatkan kawasan dengan kerapatan tumbuhan yang relatif tinggi seperti di sekitar sungai atau anak sungai (Djuwantoko, 2003). Pada kondisi tertentu, rusa dapat hidup di daerah yang dihuni manusia, seperti rusa liar yang hidup di perkebunan kelapa di Maluku (Dradjat, 2002a).


D. Pakan

Rusa termasuk hewan pemamah biak (ruminant) yang makanannya adalah daun-daunan (vagetable materials) dan berbagai macam buah-buahan yang dapat dimakan (Trippensee, 1948). Sebagaimana hewan pemamah biak lainnya, rusa makan rumput di padang rumput (grazing), makan daun-daunan semak di hutan (browsing), dan makan jamur yang tumbuh di bawah pohon (Dradjat, 2002a).
Rusa makan dari bagian tumbuhan mulai dari pucuk kemudian daun muda, daun tua, dan batang muda. Sulisetyawan (1996) melaporkan bahwa jenis dan bagian tumbuhan yang dimakan rusa di Taman Nasional Wasur Irian Jaya seperti terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jenis-jenis tumbuhan pakan Rusa Jawa dan bagian-bagian yang dimakan di Taman Nasional Wasur Irian Jaya.

No Nama spesies Familia Bag. yg. Dimakan Habitat
1. Melodorum latifolium Annonaceae Buah Hutan monsoon
2. Dillenia allata Dilleniaceae Daun muda Hutan terbuka
3. Flagellaria indica Flagellariaceae Daun muda Hutan monsoon
4. Andropogon contortus Gramineae Daun Padang rumput
5. Chrysopogon aciculatus Gramineae Daun Padang rumput
6. Eragrositis brownii Gramineae Daun Padang rumput
7. Hymenachne amplexicaulis Gramineae Daun Padang rumput
8. Imperata cylindrica Gramineae Daun Padang rumput
9. Pseudoraphis spinescens Gramineae Daun Padang rumput
10. Phragmites karka Gramineae Kuncup Padang rumput
11. Paspalum conjugatum Gramineae Daun Padang rumput
12. Acacia auriculiformis Leguminosae Kuncup Hutan terbuka
13. Ficus benjamina Moraceae Buah Hutan monsoon
14. Nymphaea indica Nymphacaceae Kuncup Kali dan rawa
15. Nymphaea violacea Nymphacaceae Kuncup Kali dan rawa
16. Nauclea orientalis Rubiaceae Kuncup Hutan terbuka
17. Corypha elata Rubiaceae Daun muda Hutan terbuka
18. Equisetum sp. Equisetaceae - Padang rumput
19. Cyperus rotundus Cyperaceae - Padang rumput
20. Rotthoelia sp. Gramineae - Padang rumput
21. Sporablus sp. Gramineae - Padang rumput
22. Themeda sp. Gramineae - Padang rumput
23. Oldenlandia diffusa Rubiaceae - Hutan terbuka

Sumber: Sulisetyawan (1996)


Terdapat 23 jenis tumbuhan yang dimakan rusa, terdiri atas 12 familia. Jenis-jenis tumbuhan dari Familia Gramineae terlihat mendominasi daftar tumbuhan yang dimakan rusa. Bagian-bagian tumbuhan yang dimakan antara lain pucuk, daun, kuncup, dan buah. Rusa Jawa memakan berbagai jenis tumbuhan tersebut pada empat tipe habitat yang ada, antara lain: hutan monsoon, hutan terbuka, padang rumput, serta kali dan rawa.
Di Taman Nasional Baluran Jawa Timur, Rusa Jawa memakan beberapa jenis tumbuhan, antara lain: Dichantium caricosum, Heteropogon contortus, Oplismenus burmanii, Roettboellia exaltata, Themeda trianda, Schlerachne punctata, Cyperus rotundus, Grewia eriocarpa, Schleichera oleosa, Thespesia lampas, Flacourtia indica (Anonim, 1993).
Selain makan, rusa membutuhkan minum dalam jumlah yang relatif banyak. Bila cuaca kering dan udara panas, rusa membutuhkan minum sampai 0,5 galon/hari/ekor (Dradjat, 2002). Pada kondisi itu pula rusa sering berkubang. Dradjat (2002) juga menjelaskan bahwa rusa juga pandai berenang sehingga sungai bukan merupakan penghalang bagi rusa.
Menurut Djuwantoko (2003), rusa yang hidup di alam akan mendapatkan air dari sumber air permukaan, seperti air sungai, danau, waduk, parit, atau mata air. Kemungkinan lain, mereka akan mendapatkan air dari embun atau memakan pakan yang mengandung banyak air.
Food kinds of Bawean Deer

IDENTIFIKASI JENIS-JENIS PAKAN RUSA BAWEAN (Axis kuhlii)
DENGAN METODE FAECAL ANALYSIS PADA HABITAT ALAMINYA
DI PULAU BAWEAN



Oleh:
Djuwantoko1), Danang Wahyu Purnomo2), Sayogo Hutomo3)


Abstract
Bawean Deer (Axis kuhlii) is indegenous endemic species in Bawean Island that their population more decrease. Bawean Deer become extinct if no sriously conservation activity. Food is important habitat component that influence the level of population welfare. Food management is actual effort that can be done to save Bawean Deer. This effort must begin with identification kind of food Bawean Deer in their habitat.
Bawean Deer behavior is very wild and sensitive with human activity so necerssary special method to observation kind of food. The method that use is indirect method, divided two step; obeservation remain food in field and faecal analysis.
Based on observation of remain food and faecal analysis, there are species of food; Lalang (Imperata cylindrica), Ancucu (Pericampylus glaucus), Andudur (Caryota mitis), Gadung (Dioscorea hispida), Kayu sape (Symplocos adenophylla), Lampedung (Coelorhachis muricata), Lating-latingan (Scheria hebecarpa), Lambu merah (Paspalum conjugatum), Rombok putih (Argyera mollis), Tali ata (Lygodium circinnatum), Talioar (Panicum cordatum), Rendang-rendang (Nephrolepis hirsitula), Kenci-kencian (Tridax procumbens), Kabak-kabakan alas (Brachiaria distachya), Lente-lentean (Fimbrisyllis dichotoma), Tali susu and Pele. Species that can not identified are; Species X, Species W, Species Z, Species U, and Species Y.
Species dominant in wet season are; in Tanjung Cina Island: Taliata (Important Value (IV): 54.33192), Talioar (IV: 48.94499), and Gadung (IV: 37.72217); in Gunung Besar area : Lalang (IV: 144.9444), Species Z (IV: 39.19254), and Lembu merah (IV: 36.36024); in Gunung Mas area: Species Z (IV: 51.42724), Lembu merah (IV: 37.66584), and Taliata (IV: 30.3914). In dry season; Tanjung Cina Island: Taliata (IV: 91.6099), Gadung (IV: 38.44138), and Talioar (IV: 33.61121); Gunung Besar area: Lalang (IV: 87.54786), Species W (IV: 55.97066), and Taliata (IV: 38.37903); Gunung Mas area: Species W (IV: 49.45425), Andudur (IV: 48.94603), and Taliata (IV: 48.61541).

Key words: Food, Bawean Deer (Axis kuhlii), faecal analysis


1) Staf Pengajar pada Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
2) Staf Laboratorium Satwa Liar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
3) Staf Laboratorium Satwa Liar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Sumber : http://rusaindonesia.blogspot.com/
Greenpeace SEA-Indonesia
Racikan Obat Herbal
CAMPAKA KAROMAH Khusus Untuk Direbus/Godogan, Insyaallah Dapat Menyembuhkan Penyakit Yang Anda Derita.

Formulator : Deddy kermit madjmoe
Hotline: 081324300415
Jl. Buyut Roda Gg.Polos No.84 Ciledug Cirebon Jawa Barat 45188

Pasien TIDAK MAMPU dan KURANG MAMPU Jangan TAKUT Untuk Berobat Pada Kami....!!!! Kami Tetap akan melayaninya.